
Editorialkaltim.com – Upaya menekan angka stunting tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan kesehatan. Diperlukan kepedulian bersama, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, kader posyandu, sektor swasta, hingga masyarakat, untuk memastikan setiap ibu hamil dan anak mendapatkan perhatian serta pemenuhan gizi yang memadai.
Semangat kolaborasi tersebut diwujudkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda melalui program Akselerasi Gotong Royong untuk Stunting (AGUS). Program ini menjadi salah satu langkah untuk memperkuat keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam percepatan pencegahan dan penanganan stunting di Kota Tepian.
Melalui AGUS, Dinkes Samarinda mendorong aksi nyata yang tidak hanya berfokus pada penanganan masalah gizi, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pola asuh, pemenuhan nutrisi, serta pendampingan terhadap ibu hamil dan balita.
Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismed Kusasih, mengungkapkan persoalan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh sektor.
“Stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan faktor ekonomi, pendidikan, sanitasi, dan pola asuh di lingkungan keluarga. Karena itu, melalui program AGUS, kami ingin membangun gerakan gotong royong yang melibatkan seluruh elemen masyarakat,” ungkapnya, Senin (2/11/2026).
Dalam pelaksanaannya, program AGUS mengedepankan sejumlah aksi nyata yang melibatkan berbagai pihak. Pertama, pemerintah dan sektor swasta didorong untuk memperluas program pemberian makanan tambahan (PMT) yang berkualitas dan terjangkau. Langkah ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi kelompok sasaran, khususnya ibu hamil dan balita.
Kedua, tenaga kesehatan bersama kader posyandu memiliki peran penting dalam memantau perkembangan dan kondisi gizi balita serta ibu hamil. Pemantauan secara berkala menjadi bagian penting untuk mendeteksi risiko gangguan pertumbuhan sejak dini dan memastikan kelompok sasaran memperoleh pendampingan yang tepat.
Ketiga, komunitas dan media diharapkan aktif menyosialisasikan pentingnya konsumsi makanan bergizi seimbang serta penerapan pola asuh yang baik.
Edukasi yang berkelanjutan diperlukan agar masyarakat semakin memahami pentingnya pencegahan stunting sejak masa kehamilan hingga masa pertumbuhan anak.
Sementara itu, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan dukungan kepada ibu hamil dan keluarga yang memiliki balita di lingkungan sekitarnya.
Kepedulian sosial, pengetahuan, serta dukungan lingkungan menjadi bagian penting dalam menciptakan kondisi tumbuh kembang anak yang lebih baik.
Ismed menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memperluas jangkauan intervensi pencegahan stunting. Pasalnya, persoalan ini tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi berbagai faktor yang membutuhkan pendekatan menyeluruh dan berkelanjutan.
Melalui program AGUS, Ismed berharap sinergi antara pemerintah, dunia usaha, tenaga kesehatan, kader posyandu, komunitas, media, dan masyarakat mampu memperkuat akses terhadap pelayanan kesehatan, edukasi gizi, pemberian makanan tambahan, serta pendampingan keluarga.
“Pada akhirnya, keberhasilan menekan angka stunting bukan hanya diukur dari program yang dijalankan pemerintah, melainkan juga dari tumbuhnya kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan ibu dan anak,” pungkasnya. (ADV)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



