Pemadaman Listrik Tambah Beban Peternak Ayam di PPU

Editorialkaltim.com – Pemadaman listrik bergilir di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menambah beban peternak ayam potong. Selain harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bahan bakar genset, pemadaman yang berlangsung lama berdampak pada kondisi ayam yang dipelihara.
Peternak ayam potong di Jalan Pak Tani, RT 07, Kelurahan Gunung Seteleng, Ahmad Jais, menyebut pengeluaran untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) genset selama Oktober 2026 mencapai sekitar Rp5 juta.
“Panennya tetap terus berjalan, cuma untuk hasil sudah sangat minim. Yang biasanya seharusnya dapat sekian, jadi jauh kurangnya,” ujarnya saat ditemui, Minggu (25/10/2026).
Jais menggunakan kandang semitertutup yang dilengkapi kipas pembuang udara atau blower untuk menjaga sirkulasi udara. Saat listrik padam, ia mengaku hanya bisa menyalakan sekitar dua blower karena harus menghemat BBM untuk genset.
Ia menyebut ratusan ayam di kandangnya mati selama Oktober. Namun, ia belum merinci jumlah pasti ayam yang mati maupun besaran kerugian akibat pemadaman tersebut.
Sementara itu, peternak ayam dengan kandang terbuka atau open house, Aris, mengaku dampak yang dialaminya tidak sebesar peternak yang menggunakan kandang tertutup. Ia memperkirakan sekitar 10 ekor ayamnya mati saat listrik padam.
“Yang kasihan itu kandang close. Siang bahaya, malam bahaya. Hitungan 10 menit kalau nggak ada genset itu bisa ribuan yang mati, apalagi kalau panas begini,” ujarnya.
Menurut Aris, ayam berusia sekitar 9 hingga 15 hari cukup rentan jika listrik padam dalam waktu lama, terutama pada malam hari. Ayam bisa tidak makan, lemas, bahkan kesulitan berdiri.
Bagi Jais, persoalan ini bukan sekadar biaya tambahan, tetapi juga menyangkut kelangsungan usaha yang dijalaninya sejak 2022. Ia bermitra dengan PT Mitra Sinar Jaya (MSJ). Jais menyediakan kandang beserta fasilitasnya, sedangkan perusahaan menyediakan bibit ayam dan pakan.
“Kerugiannya bukan banyak lagi, kita kalau umpamanya kita ini modal sendiri, kalau bukan dari perusahaan mungkin kita sudah terduduk,” ujarnya.
Ia mengatakan, masa pemeliharaan ayam berlangsung sekitar 32 hingga 38 hari hingga panen. Pembayaran hasil panen diterima tujuh hingga 10 hari setelahnya, setelah dikurangi biaya pemeliharaan. Selisih hasil panen dan biaya tersebut menjadi pendapatan peternak.
“Saya hanya menggantungkan pembiayaan hidup sehari-hari dari usaha peternakan ini aja. Jadi kalau ini rugi, rugi, rugi, lama-lama kita bisa gulung tikar,” lanjutnya.
Jais khawatir pengeluaran yang terus bertambah dan hasil yang menurun akan mengancam keberlangsungan usahanya. Peternakan ayam tersebut menjadi sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia berharap pemerintah memperhatikan dampak pemadaman listrik terhadap pelaku usaha, termasuk peternak ayam dan usaha lain yang bergantung pada pasokan listrik.
“Saya bingung ini, diumumkan pemadaman bergilir di wilayah sini sampai jam segini. Seharusnya kalau ada trouble itu dadakan, ini kan kesannya direncanakan. Sebenarnya ini ada apa dengan mati lampu ini?” pungkasnya.(ta/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



