KaltimSamarinda

Antisipasi Longsor, Mulut Terowongan Samarinda Diperpanjang

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda, Hendra Kusuma (Foto: Editorialkaltim/doc)

Editorialkaltim.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menyiapkan langkah mitigasi untuk mengurangi risiko longsor di sekitar terowongan. Salah satu upaya yang dilakukan yakni memperpanjang bagian mulut terowongan.

Penyesuaian struktur tersebut dirancang agar material longsoran tidak langsung menutup akses masuk maupun keluar terowongan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda, Hendra Kusuma, menjelaskan bahwa perpanjangan tersebut merupakan bagian dari desain penanganan potensi longsor di kawasan terowongan.

Menurutnya, langkah tersebut bertujuan menjaga akses terowongan tetap terbuka apabila terjadi longsor di kemudian hari. Dengan demikian, potensi gangguan pada jalur tersebut dapat diminimalkan.

Baca  Hari Sumpah Pemuda: Junaidi Ajak Pemuda Kaltim Siapkan Diri Hadapi Masa Depan

“Dengan memanjangkan mulut terowongan, itu salah satu bagian dari antisipasi longsoran. Seandainya nanti masih ada longsoran lagi, itu tidak akan sampai menutup mulut terowongannya,” ungkap Hendra, Kamis (29/10/2026).

Lebih lanjut, Hendra menjelaskan bahwa struktur pada bagian yang diperpanjang dirancang mengikuti desain struktur terowongan di bagian dalam. Penyesuaian tersebut menjadi bagian dari perencanaan teknis untuk menghadapi kondisi tanah di sekitar bangunan.

Baca  Pemprov Kaltim Wanti-wanti Kenaikan Stunting di Balikpapan dan PPU

Selain memperpanjang struktur, Pemkot Samarinda juga menyiapkan opsi penanganan lanjutan melalui metode regrading. Metode tersebut dilakukan dengan menurunkan elevasi atau ketinggian tanah pada bagian puncak.

Melalui metode tersebut, permukaan tanah di sekitar terowongan dapat ditata kembali sesuai dengan kebutuhan penanganan teknis. Namun, penerapannya akan bergantung pada kondisi dan kebutuhan penanganan di lapangan.

“Opsi itu disiapkan sebagai langkah lanjutan apabila kondisi kawasan masih memerlukan penanganan tambahan,” jelas Hendra.

Perencanaan mitigasi tersebut menunjukkan bahwa penanganan terowongan tidak hanya berfokus pada konstruksi utama, tetapi juga memperhitungkan potensi gangguan dari lingkungan sekitarnya.

Baca  Digerebek Pagi-Pagi, Pria di Penajam Simpan 11 Paket Sabu dan Uang Jutaan

“Jadi, efektivitas penanganan tetap perlu dilihat berdasarkan kondisi lapangan dan hasil evaluasi teknis. Pemerintah menyiapkan desain serta opsi penanganan agar risiko longsoran tidak sampai menghambat akses terowongan ketika infrastruktur tersebut nantinya digunakan,” pungkas Hendra. (ADV)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button