Tuberkulosis dalam Perspektif Sosial
Peran Ketimpangan Ekonomi dan Kelayakan Hunian terhadap Rantai Penularan

Oleh Alisyah Winanda Azzahra, Mahasiswa Program Studi Kesehatan Lingkungan, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur
Editorialkaltim.com – Tuberkulosis dapat menjangkiti semua kelompok usia. Namun, persoalan ini bukan hanya berkaitan dengan penyakit. Lalu, apakah ada kaitannya dengan ketimpangan sosial dan ekonomi yang dihadapi sebagian masyarakat?
Bakteri Mycobacterium tuberculosis merupakan penyebab penyakit menular mematikan yang penyebarannya dapat melalui udara. Saat penderita tuberkulosis batuk, bersin, atau berbicara, percikan droplet yang keluar dapat dengan mudah menularkan bakteri kepada orang lain. Bakteri penyebab tuberkulosis tidak membutuhkan waktu lama untuk mulai berkembang. Melalui udara yang dihirup, bakteri masuk ke saluran pernapasan, kemudian menyerang paru-paru dan berkembang biak secara perlahan. Tanpa penanganan yang tepat, infeksi tersebut dapat memburuk hingga mengancam nyawa.
Lonjakan kasus tuberkulosis secara global mengacu pada data Global TB Report yang diterbitkan World Health Organization (WHO). Pada 2024, jumlah kematian akibat tuberkulosis mencapai 1,23 juta kasus. Pada 2025, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus tuberkulosis setelah India, disusul Filipina dan Tiongkok.
Tuberkulosis bukan hanya penyakit yang menggerogoti tubuh penderitanya, tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi fisik tempat tinggal. Rumah yang kumuh dapat menjadi tempat berkembang biaknya berbagai bakteri penyebab penyakit, termasuk tuberkulosis. Interaksi antara penderita dengan penghuni lain yang tinggal serumah dalam waktu lama semakin meningkatkan risiko penularan.
Kualitas lingkungan hidup dapat dimaknai sebagai kondisi lingkungan yang mampu memberikan daya dukung optimal bagi keberlangsungan hidup manusia. Hal tersebut mencakup pemenuhan kebutuhan primer, seperti sandang, pangan, dan papan, serta kebutuhan rohani dan spiritual. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2023 dijelaskan mengenai standar kualitas bangunan yang memenuhi baku mutu kesehatan lingkungan guna mencegah penularan penyakit menular.
Faktor hunian yang berkaitan langsung dengan kondisi fisik rumah menjadi salah satu penyebab tingginya risiko penularan tuberkulosis. Kepadatan penghuni, misalnya, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi seluruh penghuni rumah. Selain itu, sirkulasi udara melalui ventilasi juga harus diperhatikan karena berperan penting dalam menjaga kualitas udara di dalam ruangan. Ketersediaan jendela sebagai akses masuk cahaya matahari juga diperlukan karena sinar matahari mampu membantu membunuh bakteri yang melayang di udara maupun yang menempel pada permukaan benda di dalam rumah. Oleh sebab itu, penderita tuberkulosis yang tinggal bersama anggota keluarga lain berpotensi menularkan penyakit apabila tidak dilakukan pemeriksaan dan pengawasan secara khusus. Penanggulangan yang tepat akan membantu melindungi seluruh anggota keluarga sehingga penularan dapat dicegah.
Pada 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur mencatat angka penemuan kasus tuberkulosis mencapai 56,5. Kota Samarinda menjadi daerah dengan angka penemuan kasus tertinggi, yaitu sebesar 78,6, lebih tinggi dibandingkan kabupaten dan kota lainnya di Kalimantan Timur.
Peristiwa yang berkaitan dengan kondisi lingkungan hidup seseorang tidak semata-mata dipengaruhi oleh gaya hidup, tetapi juga dapat dipengaruhi keterbatasan sosial dan ekonomi. Di tengah persaingan untuk memperoleh kehidupan yang layak, masih banyak masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Keterbatasan ekonomi membuat sebagian masyarakat tidak memiliki banyak pilihan dalam menentukan tempat tinggal yang memenuhi standar kesehatan. Akibatnya, mereka memilih hunian dengan kondisi di bawah standar, seperti lingkungan yang padat, jarak antarrumah yang terlalu rapat sehingga cahaya matahari sulit masuk, sirkulasi udara yang buruk, serta pengelolaan higiene dan sanitasi yang kurang memadai. Kondisi tersebut meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit tanpa memandang usia maupun jenis kelamin.
Selain dipengaruhi kondisi lingkungan, upaya pencegahan tuberkulosis juga harus mempertimbangkan ketimpangan sosial dan ekonomi yang masih menjadi tantangan di masyarakat. Keterbatasan ekonomi menyebabkan banyak keluarga tinggal di lingkungan yang belum memenuhi standar kesehatan dan minim fasilitas pendukung. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kontak dengan penderita tuberkulosis, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar. Oleh karena itu, penanggulangan tuberkulosis tidak cukup dilakukan melalui pengobatan semata. Upaya tersebut harus disertai peningkatan kualitas hunian, pemerataan akses layanan kesehatan, serta edukasi kepada masyarakat melalui kebijakan pemerintah yang berpihak kepada kelompok rentan. Dengan demikian, penyebaran tuberkulosis dapat dicegah.
Dalam teori H.L. Blum, salah satu faktor yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat adalah lingkungan. Mewujudkan lingkungan yang sehat, aman, dan nyaman merupakan fondasi penting dalam menciptakan kehidupan yang berkualitas. Karena itu, diperlukan komitmen pemerintah dalam menata pengelolaan lingkungan agar seluruh aspek pembangunan dapat berjalan secara terarah, terstruktur, dan berkelanjutan.
#MasyarakatSehatIndonesiaKuat
#LombaKesehatanKomdigi2026
#HUT81RI
*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi editorialkaltim.com
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



