
Editorialkaltim.com – Batuk yang tak kunjung sembuh kerap dianggap sebagai gangguan kesehatan biasa. Padahal, jika berlangsung selama dua minggu atau lebih, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat menjadi salah satu tanda tuberkulosis (TBC), penyakit menular yang hingga kini masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat.
Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap bahaya TBC, mulai dari mengenali gejala, memahami cara penularan, hingga menerapkan langkah pencegahan, menjadi perhatian UPTD Puskesmas Air Putih Kota Samarinda. Edukasi mengenai penyakit ini terus diperlukan agar masyarakat tidak mengabaikan gejala awal dan segera menjalani pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Kepala UPTD Puskesmas Air Putih drg. Zheditya Ayu Syawalia mengingatkan bahwa TBC merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lainnya.
Menurutnya, pemahaman masyarakat mengenai TBC perlu terus diperkuat agar penyakit tersebut dapat dikenali dan ditangani sejak dini.
“TBC bukan penyakit yang boleh dianggap sepele. Masyarakat perlu mengenali gejalanya sejak dini, terutama apabila mengalami batuk selama dua minggu atau lebih. Jangan menunggu kondisi semakin berat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan agar dapat diketahui penyebabnya dan memperoleh penanganan yang tepat,” ungkap Zheditya kepada awak media, Selasa (3/11/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah gejala TBC yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan, batuk berdahak atau disertai darah, demam, berkeringat pada malam hari, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, serta tubuh mudah lelah.
Zheditya menyebutkan, TBC paru dapat menular melalui udara ketika penderita TBC aktif mengeluarkan partikel yang mengandung bakteri saat batuk, bersin, atau berbicara. Karena itu, kewaspadaan dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan.
“Penularan TBC dapat terjadi melalui udara, sehingga menjaga kesehatan lingkungan dan memperhatikan etika batuk menjadi hal yang sangat penting. Masyarakat juga perlu memahami bahwa seseorang yang mengalami gejala mencurigakan harus segera menjalani pemeriksaan, bukan justru menghindari fasilitas kesehatan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Zheditya mengatakan pencegahan TBC dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Memastikan sirkulasi udara dan pencahayaan ruangan yang baik, membuka jendela secara rutin, serta menjaga kebersihan lingkungan merupakan langkah yang dapat membantu mengurangi risiko penularan.
Selain itu, menggunakan masker saat mengalami gejala gangguan pernapasan, menerapkan etika batuk dan bersin, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan berkepanjangan menjadi bagian dari upaya perlindungan kesehatan bersama.
“Upaya pencegahan harus dimulai dari kesadaran masing-masing. Biasakan membuka jendela agar udara berganti, gunakan masker ketika sedang batuk atau mengalami gejala pernapasan, dan terapkan etika batuk dengan benar. Langkah sederhana ini penting untuk melindungi diri sendiri maupun orang-orang di sekitar kita,” kata Zheditya.
Zheditya juga menekankan pentingnya kepatuhan menjalani pengobatan bagi masyarakat yang telah dinyatakan positif TBC. Pengobatan harus dilakukan secara teratur hingga tuntas sesuai petunjuk tenaga kesehatan agar peluang kesembuhan optimal dan risiko penularan dapat ditekan.
“Pasien TBC harus menjalani pengobatan secara disiplin sesuai anjuran petugas kesehatan. Jangan menghentikan obat secara sepihak meskipun gejala sudah berkurang. Pengobatan yang tidak tuntas dapat meningkatkan risiko kekambuhan maupun terjadinya resistansi obat,” tegasnya.
Besarnya tantangan penanggulangan TBC juga tergambar dalam data yang tercantum dalam materi edukasi kesehatan Puskesmas Air Putih. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2025 yang diterbitkan WHO, diperkirakan terdapat 10,7 juta orang yang jatuh sakit akibat TBC di dunia pada 2024.
Indonesia diperkirakan menyumbang sekitar 10 persen dari beban kasus TBC global. Sementara itu, berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dalam Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029 yang dicantumkan dalam infografis tersebut, sebanyak 12.778 kasus TBC ditemukan di Kaltim pada 2024. Angka penemuan tersebut mencapai 58,4 persen dari estimasi 21.867 kasus.
Zheditya menilai data tersebut menjadi pengingat bahwa penanggulangan TBC membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Selain pemerintah dan tenaga kesehatan, keluarga serta lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam mendukung deteksi dini dan keberhasilan pengobatan.
“Kami mengajak masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri dan tidak memberikan stigma kepada penderita TBC. Penyakit ini dapat diobati. Yang terpenting adalah deteksi dini, kepatuhan menjalani pengobatan, serta dukungan lingkungan agar pasien dapat sembuh dan kembali menjalankan aktivitasnya,” pungkasnya. (ADV)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



