Guru Dianiaya Siswa, KAMMI Balikpapan Desak Evaluasi Pendidikan Karakter

Editorialkaltim.com – Kasus dugaan kekerasan yang dilakukan sekelompok pelajar terhadap seorang guru di Balikpapan Timur memicu keprihatinan berbagai pihak. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Balikpapan pun mengeluarkan pernyataan sikap dan mendesak pemerintah memperkuat pendidikan karakter di sekolah.
Ketua Umum KAMMI Daerah Balikpapan Muhammad Bima menerbitkan petisi berisi tiga tuntutan. Pertama, meminta aparat penegak hukum memproses pelaku dan pihak-pihak yang terlibat secara adil, objektif, serta profesional. Kedua, mendesak Pemerintah Kota Balikpapan bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan dengan memperkuat pendidikan adab, akhlak, dan karakter. Ketiga, mengajak seluruh elemen masyarakat ikut mengawal pembentukan karakter generasi muda.
Bima mengatakan petisi itu lahir dari keprihatinan terhadap kondisi moral generasi muda di tengah cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045. Menurutnya, bonus demografi dan kemajuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan karakter.
“Apabila fenomena tersebut hanya dipandang sebagai kenakalan remaja biasa, maka sesungguhnya kita sedang menutup mata terhadap persoalan yang jauh lebih besar,” ujarnya, Senin (27/7/2026).
Ia menilai berbagai perilaku menyimpang yang melibatkan pelajar, mulai dari berkeliaran saat jam sekolah, berkendara ugal-ugalan, merokok di ruang publik, hingga balap liar, menunjukkan gejala melemahnya disiplin dan tanggung jawab.
“Jika dilihat secara terpisah, perilaku-perilaku tersebut mungkin tampak sebagai pelanggaran kecil. Namun ketika dirangkai, semuanya menunjukkan pola yang sama, yakni melemahnya disiplin, lunturnya rasa tanggung jawab, dan semakin pudarnya penghormatan terhadap norma sosial,” katanya.
Menurut Bima, tujuan pendidikan nasional bukan hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang berakhlak dan berkarakter. Karena itu, pembentukan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah.
Ia menegaskan keluarga, masyarakat, media, hingga pemerintah memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun karakter peserta didik. Bima juga mengutip konsep Tri Pusat Pendidikan dari Ki Hajar Dewantara yang menempatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai fondasi utama pendidikan.
“Apabila ketiga pusat pendidikan ini berjalan selaras, maka tujuan pendidikan nasional sebagaimana diamanatkan UUD 1945 akan lebih mudah diwujudkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bima menegaskan kekerasan terhadap guru tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun. Menurutnya, setiap persoalan di lingkungan pendidikan seharusnya diselesaikan melalui dialog dan musyawarah, bukan tindakan kekerasan.
“Ketika seorang guru menjadi korban kekerasan, terlebih dilakukan oleh peserta didiknya sendiri, maka yang sesungguhnya terluka bukan hanya individu tersebut, melainkan juga marwah dunia pendidikan serta cita-cita bangsa dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap kasus tersebut menjadi momentum bagi pemerintah untuk memastikan pendidikan karakter tidak hanya menjadi slogan dalam kurikulum. Sekolah juga diharapkan menjadi ruang aman yang menumbuhkan sikap saling menghormati, keteladanan, serta lingkungan belajar yang berkarakter. (adr/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



