KaltimPenajam Paser Utara

Karet PPU Capai 6.490 Hektare

Ilustrasi perkebunan karet (Foto: Magnific)

Editorialkaltim.com – Perkebunan karet rakyat masih menjadi salah satu komoditas perkebunan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Namun, Dinas Pertanian (Distan) PPU mencatat luas perkebunan karet mengalami penurunan seiring sebagian lahan masyarakat beralih ke kelapa sawit.

Berdasarkan data komoditas unggulan perkebunan rakyat PPU 2025 dalam dokumen Distan tertanggal Juli 2026, luas perkebunan karet rakyat mencapai 6.490,10 hektare yang dikelola 1.195 petani. Dari luas tersebut, 6.006,75 hektare merupakan tanaman menghasilkan dengan produksi mencapai 3.270,08 ton.

Kepala Bidang Perkebunan Distan PPU Iswan Padda menyebut pemasaran hasil produksi menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi keberlanjutan usaha karet. Saat ini, pengumpul hasil karet yang masih aktif berada di wilayah Sotek.

Baca  KPID Kaltim Ajak Masyarakat Ikut Jaga Konten Siaran Sehat, Adji: Adukan Jika Temukan Pelanggaran

“Selain sektor sawit yang terbesar, kalau untuk komoditas perkebunan selain sawit itu ada karet. Tapi karet ini ada mengalami penurunan, ya mungkin di satu sisi karena terkait jaminan atau termasuk pembelinya juga,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (22/9/2026).

Aktivitas pemasaran karet di Sotek masih tercatat dalam laporan UPPB Setia Kawan periode Juli hingga Agustus 2026. Selama periode tersebut, terdapat empat transaksi dengan total Bahan Olah Karet (Bokar) yang dibeli mencapai 6.492 kilogram. Harga pembelian berkisar Rp15.500 hingga Rp16.000 per kilogram.

Selain pemasaran, pilihan komoditas masyarakat turut memengaruhi keberadaan perkebunan karet. Iswan menyebut sebagian petani mulai beralih menanam kelapa sawit seiring harga komoditas tersebut kembali membaik.

Baca  3 Hari di Kaltim, Berikut Rangkaian Jadwal Kunjungan Kerja Jokowi di IKN

“Kalau dulu yang Majapahit itu cuma, kan sekarang sudah beralih ke sawit. Memang yang karet dulunya lumayan luas, tapi sekarang banyak beralih ke sawit, apalagi sekarang sawit sudah mulai normal harganya,” ujarnya.

Untuk mempertahankan keberadaan petani karet, Distan PPU berencana melakukan pendataan melalui Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB). Pendataan itu juga diarahkan untuk mendukung kemitraan antara petani dan pihak yang menyerap hasil produksi karet.

“Kita dorong untuk ke depan untuk komoditas karet bersama dengan sawit akan kita lakukan STDB juga, sehingga petani karet itu bisa terdaftar di kami. Nanti kita untuk dilakukan kemitraan dengan pabrik yang akan membeli hasil karet itu,” jelasnya.

Baca  Kisah Perjalanan Adnadinna Nursasi hingga Jadi Mawapres Unmul 2026

Distan PPU juga mendukung petani melalui penanganan hama dengan memanfaatkan peralatan dari pemerintah provinsi. Peralatan tersebut telah dipinjamkan kepada kelompok tani karet di Gersik.

“Kita bantu penanganan hama, kayak di bulan Maret kemarin kita alat dari provinsi, kita pinjamkan ke kelompok tani karet yang ada di Gersik,” ungkapnya.

Dengan luas perkebunan yang masih mencapai 6.490,10 hektare, Distan PPU mendorong pendataan petani dan penguatan akses pemasaran agar perkebunan karet tetap bertahan di tengah peralihan lahan ke kelapa sawit. (ta/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button