KaltimSamarinda

Kabut Tebal, Sekolah di Samarinda Terapkan PJJ

Guru SMPN 11 Samarinda, Tharuna Qalis Mula (Foto: Editorialkaltim/Adryan)

Editorialkaltim.com – Kabut tebal dan memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat sejumlah sekolah di Kota Samarinda mengalihkan pembelajaran menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Berdasarkan surat Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur (Kaltim), Armin, kepala SMA, SMK, dan SLB di Kota Samarinda diminta memantau kualitas udara serta berkoordinasi dengan Disdikbud Kaltim.

Kebijakan tersebut menjadi langkah antisipasi terhadap dampak karhutla yang berpotensi mengganggu kesehatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan.

“Perihal kesiapsiagaan terhadap dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), maka untuk menjaga keselamatan murid, pendidik dan tenaga kependidikan maka Kepala Sekolah diperkenankan untuk melaksanakan pembelajaran secara daring,” demikian isi surat tersebut.

Baca  Pj Gubernur Kaltim dan Bupati Mahulu Bahas Rencana Strategis dan Pemekaran Kecamatan

Dalam surat itu dijelaskan, berdasarkan pemantauan kualitas udara dari Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto Samarinda, kualitas udara di Kota Samarinda pada 16 September 2026 pukul 16.00 WITA berada dalam kategori sangat tidak sehat.

Kondisi tersebut mendorong sekolah menyesuaikan metode pembelajaran guna mengurangi aktivitas siswa dan tenaga pendidik di luar ruangan.

Salah seorang guru SMPN 11 Samarinda, Tharuna Qalis Mula, membenarkan penerapan PJJ. Ia mengatakan guru dan tenaga kependidikan juga melaksanakan tugas dari rumah atau work from home (WFH).

Baca  Gebyar Gerbang Nusantara PPU Resmi Diluncurkan

“PJJ itu pembelajaran jarak jauh. Gurunya WFH, iya. Saat ini guru sama tendik di kita di-WFH-kan untuk menjaga kesehatan juga,” ujarnya kepada wartawan Editorialkaltim.com, Kamis (17/9/2026).

Penyesuaian pembelajaran berlangsung selama dua hari, yakni 17 hingga 19 September 2026. Meski pembelajaran dilakukan dari rumah, jam belajar tetap berjalan seperti biasa.

Tharuna menilai kebijakan tersebut tepat melihat kondisi kualitas udara yang kurang baik. Terlebih, terdapat siswa yang memiliki riwayat gangguan kesehatan, seperti asma.

Baca  Badan Pusat Statistik Kaltim Gelar FGD Penghimpunan Metadata Statistik Sektoral 2023

“Memang statusnya lagi berbahaya ya,” katanya.

Ia berharap kabut asap akibat karhutla segera berakhir dan tidak menjadi persoalan berkepanjangan seperti pandemi Covid-19.

“Semoga kabut ini bisa selesai. Jangan sampai tahun-tahun selanjutnya ada lagi, seperti musiman begitu. Ini memprihatinkan juga bagi banyak pihak,” pungkasnya. (adr/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button