KaltimSamarindaZona Kampus

AI Tak Bisa Gantikan Keteladanan Guru

Dosen Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Rusdi Abdullah, saat menjadi narasumber dengan materi “Etika dan Tantangan Dakwah/Pendidikan Agama di Era Artificial Intelligence (AI)” pada Pelatihan Penguatan Penguasaan Coding dan Artificial Intelligence (AI) bagi guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) di Samarinda (Foto: Editorialkaltim/Adryan)

Editorialkaltim.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mengubah cara masyarakat mencari informasi, termasuk pengetahuan agama. Meski begitu, teknologi dinilai tak akan pernah mampu menggantikan peran guru dalam membentuk akhlak dan karakter peserta didik.

Hal itu disampaikan Dosen Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Rusdi Abdullah, saat menjadi narasumber pada Pelatihan Penguatan Penguasaan Coding dan Artificial Intelligence (AI) bagi guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) di Aula IKIP PGRI Kaltim, Samarinda, Rabu (5/8/2026).

Rusdi mengatakan, guru pendidikan agama harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi tidak boleh menggantikan peran utama guru sebagai teladan bagi peserta didik.

Menurutnya, pola belajar masyarakat kini telah berubah. Jika dahulu jawaban atas persoalan agama banyak dicari kepada kiai atau ustaz, kini sebagian orang lebih memilih bertanya kepada ChatGPT maupun mesin pencari yang mampu menyajikan informasi secara cepat.

Perubahan tersebut, katanya, menjadi tantangan baru bagi pendidikan agama. Sebab, hubungan emosional dan spiritual antara guru dengan murid berpotensi semakin berkurang jika proses belajar hanya mengandalkan teknologi.

“Informasi dan dalil kini bisa didapatkan dari mesin dalam hitungan detik. Namun, akhlak dan keteladanan hanya bisa ditransfer dari hati seorang guru,” tegasnya.

Rusdi mengajak para guru Pendidikan Agama Islam (PAI) meningkatkan literasi AI agar memahami cara kerja teknologi tersebut. Dengan pemahaman itu, guru dapat membimbing siswa menggunakan AI secara bijak sekaligus mengenali informasi yang keliru atau fenomena hallucination (halusinasi AI).

Ia menilai AI juga bisa dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan administratif, mulai dari menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), membuat media dakwah visual, hingga mendukung riset perbandingan mazhab sebelum materi disampaikan kepada peserta didik maupun jamaah.

Tak hanya itu, Rusdi mendorong perubahan pola evaluasi pembelajaran. Guru disarankan mengurangi tugas yang mudah diselesaikan menggunakan AI, seperti esai berbasis hafalan, dan beralih ke penilaian melalui studi kasus etika, proyek sosial, serta dialog interaktif yang mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills).

Di akhir pemaparannya, Rusdi juga mengingatkan pentingnya memperkuat konsep sanad keilmuan kepada peserta didik. Guru diminta terus menanamkan pentingnya belajar kepada sumber yang memiliki otoritas keilmuan serta mengingatkan risiko menerima fatwa agama secara mentah dari hasil pencarian teknologi.

“Mari hadapi era disrupsi teknologi dengan iman, ilmu, dan adab,” pungkasnya.(adr/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button