
Editorialkaltim.com – Kabut asap yang menyelimuti Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Kukar membagikan sekitar 5.000 masker kepada masyarakat.
Pembagian masker dilakukan di sejumlah titik aktivitas masyarakat, di antaranya SMAN 1 Tenggarong, SMAN 2 Tenggarong, Simpang Pulau Kumala, hingga Simpang Empat Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta). BPBD juga berencana melanjutkan pembagian masker di lokasi lainnya.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kukar Sigit Imam Prasetyo mengatakan, langkah tersebut dilakukan sebagai upaya melindungi masyarakat menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap.
“Pembagian masker hari ini di SMAN 1, SMAN 2, Simpang Pulau Kumala, sampai Simpang 4 Unikarta. Setelah ini mungkin kami akan berbagi di beberapa lokasi lainnya,” ujar Sigit, Kamis (17/9/2026).
Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), kualitas udara di Tenggarong pada Kamis tercatat mencapai 210,5. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.
Sigit menjelaskan, kabut asap mulai menyelimuti Tenggarong sejak Rabu (16/9/2026). Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kukar.
Hujan yang turun di kawasan hulu disebut turut memengaruhi pergerakan asap. Asap dari lokasi karhutla terbawa menuju Tenggarong sehingga konsentrasinya semakin pekat.
“Ini dampak akibat karhutla. Karena ada hujan di wilayah hulu, asapnya pekat lari ke sini,” jelasnya.
BPBD Kukar memperkirakan kabut asap masih berpotensi bertahan selama dua hingga tiga hari ke depan. Namun, kondisi tersebut bergantung pada cuaca, khususnya hujan di Tenggarong.
“Ini kemungkinan berlangsung dua sampai tiga hari. Kita lihat kondisinya, semoga bisa cepat, apalagi saat ini belum ada turun hujan di Tenggarong,” ujarnya.
Sigit juga menyebut titik karhutla di sejumlah wilayah Kukar masih bertambah. BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak membakar hutan maupun lahan.
Menurutnya, pencegahan menjadi bagian penting dalam mengendalikan karhutla karena kebakaran terjadi akibat adanya pemicu.
“Karhutla di Kukar ini masih bertambah. Saya imbau agar tidak membakar hutan. Ini kan ada penyebabnya, bukan hutan terbakar sendiri. Kami imbau supaya tidak ada pembakaran lahan,” pungkasnya. (dhn/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



