Angkat Isu Banjir Samarinda, Kader KAMMI Unmul Raih Juara I Lomba KTI Nasional

Editorialkaltim.com – Isu banjir di Kota Samarinda mengantarkan tiga kader Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Universitas Mulawarman (Unmul) meraih juara pertama dalam lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) tingkat nasional yang digelar Pengurus Pusat KAMMI. Tiga mahasiswa tersebut yakni M Firzy Handika Saputra, Ilham Batavia Saputra, dan Muhammad Wahyu Hidayat dengan karya berjudul “Integrasi Nilai-Nilai Al-Qur’an dan Analisis Spasial Titik Banjir dalam Mitigasi Bencana di Kota Samarinda: Model Kepedulian Sosial-Lingkungan Generasi Muda”.
Salah satu anggota tim, Muhammad Wahyu Hidayat, mengatakan capaian tersebut diraih melalui proses panjang. Mereka mengikuti tahapan seleksi mulai dari tingkat wilayah hingga nasional dengan persaingan ketat.
“Awalnya kami mendapat informasi dari senior-senior KAMMI wilayah yang mendorong agar Kaltim mengirimkan delegasi. Dari situ terbentuk beberapa tim, tapi dalam prosesnya tersisa satu tim ikhwan dan satu tim akhwat,” ujarnya, Senin (27/6/2026).
Ia menjelaskan, tahapan lomba dimulai dari pengumpulan naskah dan video presentasi, kemudian berlanjut ke seleksi hingga semifinal. Pada tahap itu, peserta mempresentasikan karya di hadapan dewan juri dari berbagai daerah.
“Alhamdulillah kami lolos ke semifinal dan presentasi langsung. Dari penilaian presentasi sebenarnya kami di peringkat dua, tapi setelah akumulasi penilaian lain seperti penulisan dan video, akhirnya ditetapkan sebagai juara satu,” jelasnya.
Pemilihan tema banjir dinilai relevan dengan kondisi Samarinda yang kerap terdampak banjir, terutama saat musim hujan. Dalam kajian tersebut, tim mengintegrasikan nilai-nilai Al-Qur’an yang menempatkan manusia sebagai khalifah fil ardh atau pemimpin di muka bumi yang bertanggung jawab menjaga lingkungan.
“Banjir ini jadi masalah yang selalu terjadi di Samarinda, dan itu sesuai juga dengan subtema yang mengaitkan nilai keislaman dan sosial,” ungkapnya.
Untuk memperkuat penelitian, tim melakukan observasi langsung ke sejumlah titik rawan banjir di Samarinda, seperti Sempaja, Pramuka, Antasari, dan Juanda. Selain itu, mereka juga melakukan wawancara dengan warga terdampak serta mengumpulkan data pendukung dari berbagai sumber.
“Dari hasil wawancara, banjir sangat berdampak pada pendapatan mereka, terutama saat musim hujan karena akses jalan terganggu,” katanya.
Dalam proses penyusunan karya, mereka menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan waktu di tengah aktivitas perkuliahan hingga kondisi lapangan saat banjir berlangsung.
“Kendala terbesar saat observasi adalah kondisi di lapangan, seperti di Sempaja yang padat kendaraan besar. Selain itu, kami juga harus membagi waktu dengan kuliah,” ujarnya.
Melalui karya tersebut, mereka berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari mitigasi bencana. Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang tidak hanya berbasis teknis, tetapi juga memperhatikan nilai keagamaan.
“Dengan adanya jurnal ini menjadi salah satu cara kita untuk mencerdaskan masyarakat dan memberikan kontribusi sekaligus agar tindakan nyata yang dilakukan pemerintah itu tidak lepas dari nilai-nilai agama di dalamnya,” pungkasnya. (adr/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



