Pertamina Tegaskan Stok BBM Aman, Tak Langsung Habis Meski Batas Cadangan 21 Hari

Editorialkaltim.com — PT Pertamina (Persero) menegaskan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) nasional tetap aman dan tidak akan langsung habis meskipun batas ketahanan cadangan berada di kisaran 21 hari.
Perusahaan pelat merah itu menyebut angka 21 hari merupakan batas minimal cadangan energi yang harus dijaga sesuai ketentuan pemerintah. Dalam praktiknya, pasokan energi terus diperbarui sehingga stok tetap bergerak dan tidak berhenti pada angka tersebut.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan cadangan energi nasional selalu dipertahankan di atas ambang minimal yang ditetapkan pemerintah.
“Acuan cadangan Pemerintah menjadi ambang batas pengamanan yang harus selalu dipertahankan. Selama distribusi dan suplai berjalan normal, stok terus mengalami pergerakan, sehingga Pertamina terus menjaga cadangan di atas level minimum. Ini menjadi langkah mitigasi risiko dan bentuk komitmen Pertamina dalam menjaga ketahanan energi,” kata Baron dalam keterangan resmi, Jumat (6/3/2026).
Menurut Baron, sistem pengawasan pasokan dilakukan secara terintegrasi melalui Pertamina Digital Hub. Sistem tersebut memungkinkan perusahaan memantau pergerakan energi dari proses produksi hingga distribusi ke masyarakat.
Di sisi hulu, operasional produksi dijaga agar tetap berjalan sesuai standar sehingga target produksi dapat terpenuhi. Sementara pada sektor hilir, Pertamina memantau pergerakan kapal yang membawa minyak mentah maupun produk BBM yang akan diolah di kilang.
Pemantauan tersebut juga mencakup distribusi hingga ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Pertamina dapat memonitor pergerakan mobil tangki pengangkut BBM serta ketersediaan stok di setiap SPBU.
Baron menambahkan, sistem digital terpadu memungkinkan Pertamina membaca pola konsumsi energi di berbagai wilayah sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan lebih cepat ketika terjadi lonjakan permintaan, cuaca ekstrem, maupun dinamika global yang berpotensi memengaruhi rantai pasok energi.
“Melalui satu dashboard terpadu, Pertamina dapat mengidentifikasi pergerakan konsumsi BBM dan LPG di setiap wilayah, sehingga langkah antisipatif dapat dilakukan lebih dini apabila terjadi peningkatan permintaan, kondisi cuaca ekstrem, maupun dinamika global yang berpotensi memengaruhi rantai pasok energi,” tegas Baron.(ndi)



