KaltimPenajam Paser UtaraZona Kampus

Riset Unmul Temukan Kemangi PPU Berpotensi Jadi Anestesi Alami Udang

Profesor Universitas Mulawarman Esti Handayani Hardi (Foto: Dok Pribadi)

Editorialkaltim.com Penelitian Universitas Mulawarman (Unmul) menemukan potensi besar kemangi asal Penajam Paser Utara (PPU) untuk dikembangkan sebagai bahan anestesi alami bagi komoditas perikanan, khususnya udang windu dan vaname.

Profesor Universitas Mulawarman Esti Handayani Hardi mengatakan, penelitian dilakukan terhadap kemangi dari enam kabupaten/kota di Kalimantan Timur, yakni Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Barat (Kubar), PPU, Bontang, Berau, dan Paser. Sampel diperiksa untuk melihat profil fitokimia serta kandungan senyawa aktifnya. 

Hasil penelitian menunjukkan kemangi dari masing-masing daerah mempunyai karakter berbeda. Skrining fitokimia menggunakan spektrofotometer UV-Vis dilakukan untuk mengukur tanin, saponin, alkaloid, steroid, dan flavonoid. Sementara kandungan senyawa tertentu dianalisis lebih lanjut menggunakan metode kromatografi. 

Dari enam wilayah tersebut, kemangi PPU menjadi salah satu temuan paling menarik. Analisis tim peneliti mencatat mentol sebesar 0,22 persen serta eugenol 0,14 persen pada batang dan 0,022 persen pada daun kemangi PPU. 

“Keunikan paling signifikan terletak pada terdeteksinya dua senyawa kunci analgesik-anestetik secara simultan dengan kadar tertinggi, yaitu menthol dan eugenol,” ujar Esti, Kamis (3/9/2026).

Eugenol Batang Kemangi PPU Tertinggi

Data penelitian menunjukkan kadar eugenol batang kemangi PPU mencapai 0,140 persen, tertinggi dari seluruh sampel yang diuji. Posisi berikutnya ditempati daun kemangi Kubar sebesar 0,046 persen, daun Kukar 0,027 persen, daun PPU 0,022 persen, serta daun Bontang 0,0021 persen.

Sementara kadar eugenol pada daun kemangi Berau dan Paser masing-masing tercatat 0,000037 persen. Eugenol pada batang kemangi dari lima wilayah selain PPU tidak terdeteksi. 

Eugenol merupakan senyawa fenolik yang memiliki sifat analgesik dan anestetik. Dalam penelitian tersebut, kadar eugenol diperiksa pada ekstrak etanol 96 persen dari batang dan daun kemangi. Temuan itu membuka peluang pemanfaatannya sebagai kandidat bahan anestesi alami untuk akuakultur. 

Tidak hanya eugenol, kemangi PPU juga berbeda dari sampel daerah lain dari sisi kandungan mentol. Hasil pengujian mendeteksi mentol sebesar 0,22 persen pada batang dan 0,22 persen pada daun kemangi PPU.

Sebaliknya, mentol tidak terdeteksi pada sampel kemangi dari Kukar, Kubar, Bontang, Berau, dan Paser. Mentol sendiri merupakan monoterpenoid yang memiliki efek analgesik dan anestetik lokal. 

Esti menjelaskan, keunikan tersebut diperkirakan tidak muncul dari satu faktor tunggal. Tim melihat kemungkinan pengaruh karakteristik tanah, agroklimat dan mikroklimat, tekanan lingkungan pesisir, variasi genotipe dan kemotipe lokal, hingga mekanisme fisiologis tanaman.

Baca  Investasi Industri Dorong Lonjakan PBG, Proyek Soda Ash Diprediksi Tembus Rp1 Miliar pada 2027

Salah satu indikasinya terlihat dari kadar abu ekstrak kemangi PPU yang mencapai 30,19 persen pada daun dan 20,37 persen pada batang. Dalam analisis tim, kadar abu digunakan sebagai salah satu indikator kandungan mineral anorganik yang diserap tanaman. 

Kondisi geografis PPU sebagai kawasan pesisir timur Kalimantan juga diduga berperan. Paparan cahaya, kelembapan maritim, dan kondisi lingkungan pesisir dinilai berpotensi memengaruhi pembentukan metabolit sekunder tanaman. Namun, hubungan tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut. 

“Temuan ini masih perlu ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan faktor yang menyebabkan karakter kemangi PPU berbeda dibandingkan daerah lainnya,” katanya.

Kemangi Daerah Lain Juga Punya Keunggulan

Penelitian tidak hanya menemukan keunggulan pada kemangi PPU. Profil fitokimia memperlihatkan karakter berbeda pada sampel dari daerah lain di Kaltim.

Kadar tanin tertinggi yang dicatat untuk Kukar mencapai 8,66 persen pada daun, disusul Paser 6,35 persen pada daun, Bontang 4,21 persen pada daun, Kubar 3,74 persen pada daun, Berau 3,62 persen pada daun, dan PPU 2,14 persen pada batang.

Untuk saponin, angka tertinggi ditemukan pada batang kemangi Paser sebesar 8,90 persen. Kemudian daun Kubar 8,21 persen, daun Kukar 7,90 persen, daun Bontang 5,94 persen, daun Berau 4,54 persen, serta batang PPU 4,50 persen.

Sementara flavonoid tertinggi ditemukan pada daun kemangi Kubar sebesar 4,94 persen. Kukar mencatat 3,44 persen pada daun, Bontang 2,88 persen pada daun, Paser 2,36 persen pada daun, Berau 1,95 persen pada daun, dan PPU 1,04 persen pada batang. 

Belum Siap Langsung Dipakai Petambak

Meski hasil awal menunjukkan potensi, Esti menegaskan riset tersebut belum sampai pada tahap produk anestesi komersial yang dapat langsung digunakan petambak.

Berdasarkan dokumen analisis penelitian, teknologi masih berada di Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT/TRL) 3-4 atau tahap validasi konsep dan komponen di laboratorium. Dengan demikian, hasil saat ini merupakan bukti awal yang masih memerlukan pengujian lanjutan secara in vivo dan pengujian fungsional. 

Pengujian toksisitas awal terhadap ikan nila (Oreochromis niloticus) dan Artemia salina yang tercantum dalam bahan penelitian mengategorikan ekstrak PPU tidak toksik. Penelitian juga mencatat nilai tambah berupa aktivitas antimikroba terhadap Vibrio harveyi, V. alginolyticus, dan V. parahaemolyticus

Namun, pengujian khusus pada udang budidaya masih menjadi tahapan penting. Tim merencanakan uji efikasi in vivo terhadap udang vaname (Litopenaeus vannamei) dan udang windu (Penaeus monodon), pemeriksaan biomarker stres fisiologis, respirasi dan metabolisme, keamanan histopatologi, residu dan farmakokinetik, hingga stabilitas formulasi. 

Baca  Evaluasi Perencanaan dan Penganggaran TA 2025, Wawali Bontang Harapkan Perubahan Signifikan

“Masih membutuhkan rangkaian pengujian in vivo dan pengujian fungsional terarah sebelum diklaim sebagai produk anestesi komersial,” jelas Esti.

Dibidik Jadi Alternatif Anestesi Sintetis

Jika rangkaian pengujian lanjutan membuktikan efektivitas dan keamanannya, kemangi PPU diarahkan sebagai alternatif bahan anestesi untuk kegiatan akuakultur.

Dokumen riset memproyeksikan penggunaan bahan berbasis kemangi dapat menjadi substitusi MS-222. Analisis awal bahkan memperkirakan biaya bahan berbasis kemangi hanya sekitar 5-10 persen dari harga MS-222. Klaim keekonomian tersebut masih berada dalam kerangka analisis pengembangan dan perlu dibuktikan dalam tahapan uji lapangan serta komersialisasi. 

Riset juga membandingkan potensinya dengan minyak cengkeh murni. Minyak cengkeh memiliki kandungan eugenol lebih tinggi, sekitar 70-90 persen. Namun, bahan penelitian mencatat penggunaannya pada krustasea dapat memicu respons meronta, iritasi insang, dan pemulihan lebih lama.

Kombinasi alami eugenol dan mentol pada kemangi PPU dinilai berpotensi memberikan karakter berbeda. Analisis awal tim bahkan mencatat potensi pemulihan tiga kali lebih cepat, tetapi temuan tersebut tetap membutuhkan validasi lebih lanjut melalui pengujian terarah pada udang. 

Roadmap penelitian menempatkan 2026 sebagai tahap skrining, sedangkan uji lapangan ditargetkan pada 2028. Tahapan berikutnya meliputi uji aktivitas anestetik kombinasi eugenol dan mentol pada udang windu dan vaname, uji toksisitas, serta penyusunan formulasi optimal untuk aplikasi akuakultur. 

Berpeluang Masuk Farmasi hingga Kosmetik

Potensi kemangi Kaltim tidak hanya diarahkan ke sektor perikanan. Penelitian memetakan peluang pemanfaatannya untuk farmasi dan kosmetik sebagai bahan baku obat herbal, salep analgesik, serta minyak esensial.

Di sektor pertanian, tanaman keluarga Lamiaceae juga diproyeksikan sebagai tanaman sela dan bagian dari upaya konservasi lahan. Sementara dari sisi ekonomi kerakyatan, pengembangan budidaya kemangi diharapkan membuka sumber pendapatan baru bagi petani lokal Kaltim. 

Peluang kolaborasi yang dipetakan melibatkan industri farmasi dan kosmetik, petambak serta koperasi akuakultur Kaltim, kementerian terkait dan BRIN, UMKM, koperasi tani, hingga perguruan tinggi untuk melanjutkan pengujian dan formulasi.

Dampak jangka panjang yang dibidik mencakup pengurangan ketergantungan terhadap anestesi impor, pemberdayaan petani lokal, pengembangan akuakultur ramah lingkungan, hilirisasi hasil penelitian, serta konservasi tanaman Lamiaceae Kalimantan. 

Disiapkan Libatkan Petani PPU

Esti mengatakan, hilirisasi nantinya tidak diharapkan hanya menciptakan keuntungan di tingkat industri. Pengembangan kemangi dirancang agar melibatkan petani, UMKM pengolahan, pembudidaya udang, dan masyarakat lokal.

Baca  Kenalkan Pisang Gerecek Melalui Lomba Kolak Pisang, DPMPD Kaltim Beri Apresiasi

Salah satu konsep yang disiapkan ialah kemitraan inti-plasma berbasis kontrak tani dengan kelompok tani di PPU. Dokumen analisis memperkirakan kemangi memiliki siklus panen sekitar 30-45 hari. Dengan pengelolaan intensif, satu hektare lahan diproyeksikan menghasilkan 10-15 ton biomassa basah per tahun dan berpotensi memberikan tambahan pendapatan bersih sekitar Rp4-6 juta per bulan bagi petani binaan. Angka tersebut masih berupa proyeksi model pengembangan, bukan hasil komersialisasi yang telah berjalan. 

Konsep lainnya ialah membangun sentra pengolahan berbasis kelompok tani melalui unit distilasi uap. Kemangi dapat diolah menjadi simplisia kering atau minyak atsiri mentah sebelum dikirim sehingga nilai tambah tidak seluruhnya berpindah ke industri hilir.

Analisis penelitian memperkirakan pengolahan di tingkat lokal dapat memangkas biaya logistik biomassa basah hingga 85 persen. Skema tersebut juga diarahkan agar sebagian nilai ekonomi produk dapat dinikmati masyarakat di daerah produksi. 

Pengembangan kemangi juga dikaitkan dengan potensi tambak udang windu dan vaname di sejumlah wilayah Kaltim, termasuk Delta Mahakam, Berau, Paser, dan PPU. Dalam skenario jangka panjang, penggunaan bahan alami diharapkan mendukung pengembangan akuakultur hijau dan meningkatkan daya saing produk udang Kaltim. 

Posisi PPU yang berdekatan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) turut dinilai membuka peluang pengembangan kemangi sebagai komoditas biofarmaka sekaligus bagian dari pertanian hijau di kawasan penyangga IKN. Konsep tersebut diarahkan untuk mempertemukan konservasi sumber daya hayati lokal dengan hilirisasi teknologi perikanan. 

Riset ini melibatkan peneliti dari Universitas Mulawarman dan BRIN. Selain Esti Handayani Hardi, tim mencakup Rudy Agung Nugroho dan Maulina Agriandini dari Unmul, serta Desy Sugiani, Imam Taufik, Eri Setiadi, Angela Mariana Lusiastuti, Uni Purwaningsih, Tanjung Penataseputro, dan Pramunggit Panggih Nugroho dari BRIN. 

Dengan rangkaian pengujian yang masih harus dilalui, hasil penelitian tersebut belum menjadi produk siap pakai. Namun, temuan kandungan eugenol dan mentol pada kemangi PPU membuka jalur penelitian baru untuk mengembangkan sumber daya hayati lokal Kaltim menjadi bahan bernilai tambah bagi sektor akuakultur, farmasi, pertanian, hingga ekonomi masyarakat.(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button