Merdeka, Tapi Masih Terjajah Pikiran Sendiri

Editorialkaltim.com – Setiap 17 Agustus, suasana Indonesia berubah menjadi lebih meriah. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, jalanan dihiasi umbul-umbul, anak-anak sibuk mengikuti lomba, dan lagu-lagu perjuangan kembali terdengar di berbagai tempat.
Kita merayakan kemerdekaan dengan penuh semangat. Namun, pernahkah kita berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya sudah sejauh apa kita merasakan kemerdekaan itu dalam kehidupan sehari-hari?
Bukan lagi soal bebas dari penjajahan asing. Indonesia sudah merdeka secara politik sejak 1945. Hal yang menarik untuk direnungkan adalah bentuk “penjajahan” yang mungkin masih kita alami sampai sekarang, seperti tekanan pekerjaan, masalah ekonomi, tuntutan keluarga, rasa takut mengecewakan orang lain, kebiasaan membandingkan diri di media sosial, hingga pikiran negatif yang tidak kunjung berhenti.
Tubuh kita memang bebas berjalan ke mana saja. Namun, terkadang pikiran justru terasa seperti penjara. Kita tersenyum di depan orang lain, tetapi diam-diam sedang kelelahan. Kita bilang “aman, kok”, padahal setiap malam kepala penuh dengan kekhawatiran. Kita terlihat produktif, tetapi sebenarnya hanya sedang berusaha bertahan.
Itulah mengapa kemerdekaan juga layak dibicarakan dari sisi kesehatan mental.
Angka Kesehatan Mental Indonesia yang Harus Membuat Kita Berhenti Menggulir Layar Sejenak
Pembahasan tentang kesehatan mental bukan sekadar tren media sosial atau istilah kekinian. Ada data resmi yang menunjukkan persoalan ini memang nyata dan perlu mendapatkan perhatian.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan Kementerian Kesehatan, prevalensi depresi pada penduduk Indonesia secara nasional tercatat 1,4 persen. Angka tersebut memang terlihat kecil jika hanya dibaca sebagai persentase. Namun, di balik angka itu terdapat banyak orang yang menjalani hari dengan beban psikologis yang mungkin tidak terlihat dari luar.
Yang lebih menarik, anak muda justru menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian serius. SKI 2023 mencatat prevalensi depresi pada kelompok usia 15–24 tahun mencapai 2 persen, lebih tinggi dibandingkan angka nasional.
Artinya, masalah kesehatan mental bukan hanya cerita tentang orang dewasa yang stres karena pekerjaan atau persoalan ekonomi. Anak muda juga menghadapi tekanan yang tidak kalah berat.
Ada tugas sekolah atau kuliah, tuntutan untuk berprestasi, masalah pertemanan, hubungan percintaan, tekanan keluarga, pencarian identitas diri, hingga kecemasan mengenai masa depan. Belum lagi media sosial.
Setiap hari kita melihat orang lain memamerkan pencapaian, liburan, pekerjaan impian, kendaraan baru, hubungan romantis, atau kehidupan yang tampak sempurna. Tanpa sadar, kita mulai membandingkannya dengan kehidupan sendiri.
“Kenapa hidup saya begini-begini saja?”
“Teman sudah sukses, kok saya belum?”
“Umur segini seharusnya saya sudah punya apa?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, jika terus berputar di kepala tanpa jeda, tekanan psikologis bisa semakin berat.
Kondisi di daerah tertentu juga menunjukkan persoalan kesehatan jiwa perlu diperhatikan lebih serius. Dalam pemberitaan mengenai Kalimantan Timur, Dinas Kesehatan setempat menyebut sekitar 50 persen remaja yang menjadi bagian dari skrining mengalami masalah kesehatan jiwa. Data SKI 2023 yang dikutip dalam laporan tersebut juga menempatkan Kalimantan Timur sebagai provinsi dengan prevalensi depresi tertinggi kedua, yakni 2,2 persen, setelah Jawa Barat sebesar 3,3 persen.
Namun, angka-angka tersebut tidak boleh digunakan untuk menyimpulkan setiap orang yang terlihat murung pasti mengalami depresi. Skrining, survei, dan diagnosis medis merupakan hal yang berbeda.
Justru, pesan terpenting dari data tersebut adalah masalah kesehatan mental nyata, bisa dialami siapa saja, dan tidak seharusnya dianggap sepele.
Kenapa Kita Masih Gengsi Bilang “Aku Lagi Tidak Baik-Baik Saja”?
Mungkin ini bagian yang paling sulit. Kita bisa dengan mudah mengatakan sedang sakit kepala. Bisa bilang, “Saya demam.” Bisa mengeluh sakit gigi dan langsung mencari obat atau dokter. Namun, ketika yang terasa sakit adalah pikiran, banyak orang justru memilih diam.
Kenapa? Karena sejak kecil kita sering mendapatkan pesan jika menjadi kuat berarti tidak banyak mengeluh.
“Jangan cengeng.”
“Harus kuat.”
“Masalah kecil begitu saja dipikirkan.”
“Orang lain lebih susah.”
“Laki-laki jangan menangis.”
Kalimat-kalimat tersebut terkadang memang dimaksudkan untuk menguatkan. Namun, jika terlalu sering didengar, seseorang bisa salah memahami arti ketangguhan.
Dia mengira kuat berarti tidak boleh merasa sedih. Dia mengira dewasa berarti harus menyelesaikan semuanya sendiri. Dia mengira meminta bantuan berarti gagal. Padahal, mengakui diri sendiri sedang kesulitan justru membutuhkan keberanian.
Masalah lainnya adalah stigma. Sebagian masyarakat masih menganggap pergi ke psikolog atau psikiater sebagai tanda seseorang “gila”. Padahal, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Seseorang tidak harus menunggu kondisinya menjadi sangat parah untuk mencari bantuan.
Kalau gigi berlubang diperiksa ke dokter gigi, kenapa ketika pikiran sedang bermasalah kita harus malu mencari bantuan profesional? Stigma seperti inilah yang perlahan perlu diubah.
Kita tidak perlu menjadikan kesehatan mental sebagai bahan candaan. Tidak semua orang yang sedang diam berada dalam keadaan baik-baik saja. Tidak semua orang yang terlihat ceria sedang bahagia. Tidak semua orang yang produktif sedang berada dalam kondisi psikologis yang sehat.
Kadang-kadang, orang yang paling sering mengatakan “saya aman” justru adalah orang yang paling membutuhkan ruang untuk bercerita.
Merdeka dari Pikiran Sendiri: 7 Cara Sederhana yang Bisa Mulai Dicoba
Kemerdekaan secara fisik dan politik adalah pencapaian besar. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, ada bentuk kemerdekaan lain yang tidak kalah penting, yakni kemampuan untuk tidak terus-menerus dikendalikan ketakutan, tekanan, dan pikiran negatif.
Bukan berarti kita bisa menghilangkan semua masalah. Hidup tetap punya tagihan, pekerjaan, konflik, kegagalan, dan ketidakpastian. Yang bisa kita lakukan adalah belajar menghadapi semuanya dengan cara yang lebih sehat.
1. Berhenti Menganggap Istirahat sebagai Kemalasan
Kita hidup dalam budaya yang sering mengagungkan kesibukan. Semakin sibuk dianggap semakin produktif. Semakin sedikit waktu tidur dianggap semakin pekerja keras. Padahal, tubuh dan pikiran juga punya batas.
Tidur cukup, mengambil jeda, berjalan santai, menikmati hobi, atau sekadar meletakkan ponsel selama beberapa waktu bukan berarti membuang waktu. Istirahat adalah bagian dari menjaga kemampuan kita untuk tetap berfungsi dengan baik.
2. Belajar Bilang “Tidak” Tanpa Merasa Bersalah
Salah satu sumber stres adalah keinginan untuk selalu menyenangkan semua orang. Takut mengecewakan teman. Takut dimarahi atasan. Takut dianggap egois oleh keluarga. Akhirnya, semua permintaan diterima meskipun diri sendiri sudah kelelahan.
Belajar mengatakan “tidak” bukan berarti menjadi orang jahat. Kita hanya sedang mengenali batas kemampuan diri. Tidak semua masalah harus kita selesaikan. Tidak semua permintaan harus kita penuhi.
3. Jangan Menunggu Hancur untuk Mencari Bantuan
Bercerita kepada orang yang dipercaya bisa menjadi langkah awal. Jika masalah terasa terlalu berat atau berlangsung lama, mencari bantuan psikolog atau tenaga kesehatan juga merupakan pilihan yang wajar.
Tidak ada hadiah untuk orang yang paling lama menderita sendirian. Meminta pertolongan bukan tanda kalah. Justru, itu bisa menjadi tanda seseorang masih peduli terhadap dirinya sendiri.
4. Jadikan Rumah sebagai Tempat Pulang, Bukan Tempat Takut Bicara
Kesehatan mental anak dan remaja tidak bisa dilepaskan dari lingkungan terdekat mereka. Orang tua tidak harus selalu punya jawaban untuk setiap masalah. Terkadang, anak hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa langsung menghakimi.
Daripada bertanya, “Kamu kenapa, sih?”
Coba mulai dengan:
“Belakangan ini kamu kelihatan capek. Ada yang mau diceritakan?”
Kemudian, dengarkan. Tidak perlu langsung memberikan ceramah. Tidak perlu membandingkan dengan masa kecil kita. Kadang, didengarkan dengan sungguh-sungguh saja sudah sangat berarti.
5. Kurangi Kebiasaan Membandingkan Diri di Media Sosial
Media sosial pada dasarnya hanya menampilkan potongan kehidupan seseorang. Kita melihat pencapaian orang lain, tetapi tidak melihat kegagalan, konflik, utang, kecemasan, atau malam-malam ketika mereka juga merasa tidak baik-baik saja.
Karena itu, jangan menjadikan unggahan orang lain sebagai standar untuk menilai kehidupan sendiri. Jika aktivitas menggulir layar media sosial membuat kita semakin cemas, tidak ada salahnya mengambil jeda.
6. Cari Cara Sehat untuk Mengelola Stres
Setiap orang memiliki cara berbeda untuk menenangkan diri. Ada yang suka berolahraga, membaca, menulis jurnal, berkebun, mendengarkan musik, beribadah, memasak, atau berbincang dengan teman.
Tidak harus terlihat keren. Yang penting, aktivitas tersebut membantu kita menghadapi tekanan tanpa merusak diri sendiri. Sebaliknya, mengandalkan rokok, alkohol, atau kebiasaan lain yang berisiko bukanlah solusi jangka panjang untuk masalah psikologis.
7. Jangan Abaikan Tanda-Tanda yang Semakin Berat
Sedih sesekali adalah bagian dari kehidupan. Stres juga bisa muncul ketika kita menghadapi masalah. Namun, jika perubahan suasana hati, kehilangan minat, gangguan tidur, kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, atau perasaan tertekan berlangsung terus-menerus dan mengganggu kehidupan, jangan menganggapnya sekadar “kurang bersyukur” atau “kurang kuat”.
Pertimbangkan untuk berbicara dengan tenaga profesional agar kondisi dapat dinilai dengan tepat.
Kemerdekaan Sejati Bukan Berarti Hidup Tanpa Masalah
Mungkin kita tidak akan pernah benar-benar terbebas dari masalah. Selama hidup, akan selalu ada sesuatu yang membuat kita khawatir. Pekerjaan bisa berubah. Kondisi ekonomi bisa naik turun. Hubungan bisa mengalami konflik. Rencana bisa gagal.
Orang yang kita sayangi bisa pergi. Jadi, merdeka bukan berarti hidup tanpa tekanan. Merdeka secara batin berarti kita tidak membiarkan semua tekanan tersebut mengambil alih seluruh hidup kita. Kita berani mengakui ketika lelah.
Berani mengatakan ketika membutuhkan bantuan. Berani membuat batas. Berani berhenti sejenak. Yang paling penting, berani memperlakukan diri sendiri dengan lebih manusiawi.
Dalam momen perayaan kemerdekaan, mungkin kita tidak hanya perlu mengibarkan bendera di halaman rumah. Kita juga perlu mengingat ada orang-orang di sekitar kita yang sedang berjuang menghadapi “penjajahan” yang tidak terlihat.
Teman yang tiba-tiba menjauh. Anak yang semakin sering diam di kamar. Orang tua yang terlihat baik-baik saja, tetapi terus mengeluh kelelahan. Rekan kerja yang selalu bercanda, padahal hidupnya sedang berantakan.
Jangan langsung menghakimi. Tanyakan kabarnya. Dengarkan jawabannya. Jika memang membutuhkan bantuan, dorong mereka untuk mendapatkannya.
Tahun Ini, Mari Rayakan Kemerdekaan dengan Cara yang Berbeda
Kemerdekaan Indonesia adalah sejarah yang harus terus kita hormati. Namun, kehidupan hari ini menghadirkan bentuk perjuangan yang berbeda. Dulu, perjuangan dilakukan untuk membebaskan bangsa dari penjajahan.
Sekarang, sebagian perjuangan kita adalah membebaskan diri dari stigma, rasa takut mencari pertolongan, kebiasaan memendam semuanya sendiri, dan keyakinan jika kita harus selalu terlihat kuat.
Data kesehatan mental Indonesia menunjukkan persoalan ini bukan sesuatu yang boleh ditertawakan atau disembunyikan. SKI 2023 mencatat prevalensi depresi nasional sebesar 1,4 persen dan mencapai 2 persen pada kelompok usia 15–24 tahun.
Karena itu, mungkin tahun ini kita bisa merayakan kemerdekaan dengan cara yang sedikit berbeda. Selain mengibarkan bendera, mari belajar mengibarkan keberanian untuk berkata:
“Aku sedang tidak baik-baik saja dan aku butuh bantuan.”
Kalimat itu bukan tanda kelemahan. Justru, bisa menjadi langkah pertama untuk kembali mengambil kendali atas hidup sendiri. Sebab, pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan.
Kemerdekaan juga tentang memiliki ruang untuk menjadi manusia: boleh lelah, boleh menangis, boleh meminta bantuan, dan tetap punya kesempatan untuk bangkit.(*)
*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi editorialkaltim.com
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



