KaltimSamarindaZona Kampus

Kisah Perjalanan Adnadinna Nursasi hingga Jadi Mawapres Unmul 2026

Adnadinna Nursasi Ramadhani meraih gelar Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) 2026 di Universitas Mulawarman (Unmul).(Foto: Dok Pribadi)

Editorialkaltim.com – Perjalanan panjang penuh proses mengantarkan Adnadinna Nursasi Ramadhani meraih gelar Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) 2026 di Universitas Mulawarman (Unmul). Mahasiswi Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis ini membuktikan bahwa konsistensi, dukungan keluarga, dan keberanian mencoba menjadi kunci dalam meraih prestasi.

Perempuan yang akrab disapa Adna atau Dinna ini berasal dari Tanjung Selor, Kalimantan Utara. Ia lahir di Tanjung Selor pada 30 Oktober 2005. Selain aktif di dunia akademik, Adna memiliki beragam hobi seperti menyanyi, mengeksplorasi hal baru, menulis cerita pendek, public speaking, hingga menjadi relawan. Sosok inspiratif seperti Taylor Swift, Maudy Ayunda, Jane Goodall, dan Sherly Tjoanda turut memengaruhi cara pandangnya.

Sejak kecil, Adna mengaku telah memiliki ketertarikan besar terhadap dunia kompetisi dan akademik. Baginya, kompetisi bukan sekadar soal menang atau kalah, tetapi proses belajar dan keberanian mencoba hal baru.

“Sejak kecil, saya sudah memiliki ketertarikan yang besar dalam mengikuti berbagai kompetisi. Bagi saya, kompetisi bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi tentang proses belajar, mengembangkan diri, dan berani mencoba hal-hal baru,” ujarnya dalam wawancara kepada editorialkaltim.com, Selasa (21/4/2026).

Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat menjunjung tinggi pendidikan. Orang tua, kakak, nenek, hingga almarhum kakeknya menjadi sumber motivasi utama dalam perjalanan hidupnya. Adna menyebut, perjuangan keluarga yang mendukungnya menempuh pendidikan, meski harus jauh dari rumah, menjadi alasan kuat untuk terus melangkah.

“Orang tua, kakak, nenek, dan Almarhum kakek saya adalah sumber motivasi terbesar dalam perjalanan ini. Mereka telah berjuang dengan penuh pengorbanan agar saya dapat menjalani kehidupan yang sangat layak dan fokus menempuh pendidikan,” katanya.

Kesempatan mengikuti Pilmapres semakin menguat ketika dukungan datang dari berbagai pihak, termasuk keluarga dan lingkungan kampus. Bahkan, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Dr. Erwin, S.Hut., M.P., sempat menyampaikan bahwa ajang ini merupakan peluang besar untuk menutup studi dengan prestasi.

Baca  Penyakit Jantung Terkendali Berkat Program Prolanis

“Ini peluang bagus untuk menutup studi Adna dengan meraih prestasi di sini,” ujarnya.

Ketertarikan Adna terhadap dunia akademik telah tumbuh sejak usia dini. Ia bahkan sudah dikenalkan dengan pembelajaran dasar oleh almarhum kakeknya sebelum masuk taman kanak-kanak. Pengalaman belajar yang menyenangkan bersama guru TK-nya, Bu Wardah, semakin memperkuat kecintaannya terhadap dunia pendidikan.

Memasuki jenjang sekolah dasar, ia mulai aktif mengikuti berbagai lomba, terutama di bidang seni seperti tari, menyanyi, dan bermain angklung. Selain itu, Adna juga aktif dalam kegiatan pramuka, PMR, marching band, dan berbagai aktivitas lainnya.

Ia mengaku selalu menikmati setiap proses yang dijalani. Baginya, pengalaman tersebut bukan beban, melainkan perjalanan yang menyenangkan sekaligus membentuk dirinya menjadi pribadi yang terus berkembang.

Dalam perjalanan meraih Mawapres, Adna menilai banyak sosok berpengaruh dalam hidupnya. Keluarga menjadi fondasi utama, disusul sahabat, guru, dan dosen yang memberikan dukungan serta arahan selama ini.

“Saya percaya bahwa semua sosok yang hadir dalam hidup saya memiliki peran dan pengaruh yang luar biasa. Mereka adalah bagian penting dari perjalanan saya dalam meraih prestasi hingga saat ini,” katanya.

Tak hanya itu, Adna juga mengapresiasi dirinya sendiri yang telah bertahan dan terus berproses. Ia menyadari bahwa perjalanan menuju prestasi tidak selalu mudah, namun setiap langkah adalah bagian dari usaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam menjalani kehidupan, Adna memegang prinsip untuk terus melangkah, bahkan ketika harus merasa sendiri. Ia mengakui, proses menuju hal baru kerap diwarnai rasa takut, ragu, hingga kesepian.

“Saya memilih untuk tetap berjalan dan menghadapi setiap prosesnya, karena saya percaya bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, tetap membawa saya menuju tujuan,” ujarnya.

Ia juga meyakini bahwa setiap kesulitan akan memberikan pelajaran berharga dan menjadi kekuatan di masa depan. Selain itu, Adna berpegang pada keyakinan untuk memanfaatkan setiap potensi dan kesempatan yang diberikan Tuhan dengan sebaik-baiknya sebagai bentuk tanggung jawab dan rasa syukur.

Baca  Soal MBG dan Sekolah Gratis, DPRD Kaltim: Prioritas Harus Sesuai Kebutuhan Daerah

Proses menuju Mawapres 2026 pun tidak instan. Adna menyebut seleksi Pilmapres sebagai perjalanan panjang yang dimulai dari penyusunan portofolio capaian unggulan hingga penyusunan gagasan kreatif.

Dalam proses tersebut, ia mendapat bimbingan dari dosen pembimbing Dr. Wiwin Suwinarti, S.Hut., M.P., Prof. Rudianto Amirta, S.Hut., M.P., serta dosen lainnya. Ia juga aktif berdiskusi dengan berbagai pihak untuk memperdalam gagasan yang disusun.

“Beberapa minggu sebelum penyusunan gagasan kreatif, saya rutin datang ke kampus untuk melakukan konsultasi dan brainstorming secara intens,” katanya.

Selain itu, Adna juga mempersiapkan diri melalui latihan wawancara dalam bahasa Inggris, penyusunan naskah pidato, hingga latihan presentasi. Ia belajar dari pengalaman para peserta sebelumnya untuk memahami setiap tahapan seleksi.

Di balik proses tersebut, tantangan besar pun tak terelakkan. Adna mengaku sempat mengalami fase burnout akibat padatnya aktivitas perkuliahan dan kegiatan lainnya, terlebih sebagai mahasiswa rantau.

“Tantangan terbesar yang saya hadapi selama mengikuti kompetisi ini adalah fase burnout yang hampir tidak bisa dihindari,” ujarnya.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Adna memilih mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah seperti tahajud dan doa. Ia juga melakukan hal-hal sederhana seperti berbincang dengan teman atau berkeliling Kota Samarinda untuk menyegarkan pikiran.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Adna tetap berusaha menjaga komitmen dan tanggung jawab terhadap pilihan yang telah diambil. Ia meyakini bahwa setiap proses harus dijalani dengan penuh kesungguhan.

Momen paling berkesan selama Pilmapres justru dirasakannya selama masa persiapan. Ia menghabiskan waktu hingga pagi dan malam di kampus untuk konsultasi, revisi, serta latihan presentasi bersama sahabatnya.

Saat pelaksanaan, ia juga merasakan suasana kebersamaan yang hangat dengan peserta lain dari berbagai fakultas. Baginya, semua peserta adalah individu hebat dengan semangat luar biasa.

“Alih-alih merasa tegang atau tertekan karena persaingan, saya justru merasa dirangkul dan didukung,” katanya.

Baca  Festival Cenil Jadi Wujud Konsistensi Desa Kota Bangun III

Dalam membagi waktu antara akademik, organisasi, dan persiapan lomba, Adna mengutamakan skala prioritas. Ia juga memanfaatkan waktu luang di sela perkuliahan untuk menyelesaikan berbagai tugas secara produktif.

“Saya berusaha memaksimalkan waktu yang saya miliki agar tidak ada yang terbuang sia-sia,” ujarnya.

Dalam ajang Pilmapres, Adna mengangkat gagasan bertajuk CHOCOSANPA, yakni model insentif ekonomi berbasis kakao (Theobroma cacao L.) untuk konservasi orangutan di bentang alam Lesan-Menyapa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Gagasan ini berangkat dari pemikiran bahwa kesejahteraan masyarakat dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian hutan. Model tersebut terdiri dari tiga komponen utama, yakni produksi kakao premium melalui sistem agroforestri tanpa deforestasi, pemberian insentif harga lebih tinggi bagi petani yang menjaga hutan, serta dukungan sertifikasi dan regulasi agar produk dapat masuk pasar premium.

Program ini telah memiliki produk sebagai proof of concept hasil kolaborasi Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis Unmul bersama TFCA-Kalimantan.

Dari sisi dampak, program CHOCOSANPA menargetkan peningkatan pendapatan petani hingga 40 persen dalam dua tahun. Selain itu, skema yang diterapkan memungkinkan petani memperoleh keuntungan penuh tanpa dipotong rantai perantara.

Di sisi lain, program ini juga berkontribusi terhadap perlindungan lingkungan, khususnya habitat orangutan yang mengalami penurunan populasi dalam satu dekade terakhir. Melalui pendekatan agroforestri dan perlindungan kawasan penyangga, program ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan ekosistem.

Ke depan, Adna menilai program tersebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan, baik dari sisi produk, pasar, maupun skala implementasi. Produk kakao dapat dikembangkan menjadi berbagai turunan, sementara sertifikasi internasional membuka peluang ekspor ke pasar global.

Dengan konsep kemandirian finansial, program ini diharapkan tidak hanya berkelanjutan secara lingkungan, tetapi juga secara ekonomi.(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button