KaltimSamarinda

Ahli Bahasa Ingatkan Etika Bermedsos di Tengah Banjir Informasi

Ahli bahasa Kalimantan Timur, Ali Kusno (Foto: Editorialkaltim/Adryan)

Editorialkaltim.com – Banjir informasi di ruang digital kian deras dan jadi perbincangan publik. Beragam respons bermunculan di berbagai platform teknologi yang kini tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Ahli bahasa Kalimantan Timur, Ali Kusno, mengajak masyarakat memperhatikan etika berkomunikasi dan literasi digital. Ia menilai penggunaan bahasa yang bijak dan berbasis data menjadi kunci menjaga ruang diskusi tetap sehat sekaligus mencegah potensi pelanggaran hukum.

Ali menegaskan, menjaga kondusivitas ruang publik bukan berarti membatasi demokrasi. Justru, menurutnya, hal itu merupakan bentuk edukasi agar masyarakat tetap aman dan produktif dalam menyampaikan kritik maupun masukan.

“Menurut saya, saat ini publik Kaltim sudah makin kritis. Itu sangat bagus dalam ruang demokrasi. Tinggal bagaimana kita membangun ruang kritis yang sehat dan bertanggung jawab,” ujarnya di Samarinda, Selasa (14/4/2026).

Baca  Pekan Olahraga Wartawan Daerah Kaltim Ke-2 Resmi Dibuka

Ia juga menyinggung keberadaan Ibu Kota Nusantara yang dinilai harus diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia yang cerdas dan melek informasi.

Sebagai pakar linguistik forensik, Ali memaparkan sejumlah hal yang perlu diperhatikan masyarakat saat beraktivitas di media sosial. Ia menekankan pentingnya selektif dalam mengonsumsi informasi agar tidak terjebak dalam ruang gema (echo chamber) yang provokatif.

Menurutnya, masyarakat juga perlu mewaspadai propaganda yang dapat menggiring opini publik. Informasi yang tidak benar, jika terus diulang dan diperkuat, bisa menimbulkan ilusi kebenaran.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya budaya “saring sebelum sharing”. Verifikasi informasi dinilai krusial untuk mencegah penyebaran hoaks yang berpotensi memecah belah masyarakat.

Baca  Gubernur Kaltim Ingatkan Perusahaan Taat Pajak dan CSR Tepat Sasaran

“Penyebar konten yang melanggar hukum juga bisa diduga ikut menyebarluaskan,” tegasnya.

Ali juga mendorong agar kritik terhadap pemerintah tetap disampaikan secara santun dan berbasis data. Ia menilai kritik yang disertai solusi akan lebih konstruktif.

“Kritik dan masukan adalah motor penggerak perbaikan. Sampaikan dengan bahasa yang bermartabat dan berbasis data,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam penggunaan bahasa agar tidak terjerat persoalan hukum. Tuduhan tanpa dasar hingga penggunaan diksi kasar bisa berujung pada pelanggaran.

Ia juga menegaskan pentingnya menghindari narasi yang mengandung unsur SARA karena berpotensi memicu konflik.

Baca  Pemkab Berau Terpilih dalam Tim Penjaringan Komisaris Utama PT Bankaltimtara

“Jangan sekali-kali menggunakan narasi yang menimbulkan kebencian terhadap SARA. Itu sangat berbahaya,” katanya.

Di sisi lain, Ali mengingatkan bahwa jejak digital bersifat permanen. Apa pun yang diunggah di media sosial bisa berdampak di masa depan.

“Setiap kata dan unggahan akan terekam. Menghapus tidak berarti menghilangkan jejak digital,” ujarnya.

Ia pun mengajak masyarakat untuk tetap menjaga persaudaraan dan menggunakan kebebasan berpendapat secara bijak.

“Tetaplah kritis, tapi gunakan bahasa yang baik, benar, dan aman,” pungkasnya. (adr/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button