
Editorialkaltim.com – Pemerintah pusat terus mendorong peningkatan mutu pendidikan di Indonesia melalui pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT). Di Kalimantan Timur (Kaltim), sebanyak tiga sekolah direncanakan dibangun di sejumlah wilayah.
Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kalimantan Timur, Jarwoko, mengatakan pembangunan SNT di Ibu Kota Nusantara (IKN) telah berjalan pada tahun ini. Sementara itu, pembangunan di Mahakam Ulu (Mahulu) dan Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), masih dalam tahap persiapan.
“Yang sudah ada di Kaltim ini ada tiga. Itu di IKN, kemudian ada di Mahulu, Mahakam Ulu, lalu ada di PPU, di Babulu sana tempatnya. Kemarin saya sudah mengecek lokasinya, tapi belum dimulai pembangunan,” ujar Jarwoko, Jumat (16/10/2026).
Ia menjelaskan, program SNT merupakan upaya pemerintah pusat untuk menyediakan layanan pendidikan dengan fasilitas lengkap. Secara nasional, Presiden menargetkan pembangunan 500 sekolah melalui program tersebut.
Namun, realisasi pembangunan masih terbatas. Jarwoko menyebutkan, hingga saat ini baru sekitar 17 SNT yang telah beroperasi di Indonesia.
“Targetnya Pak Presiden sebenarnya itu 500 sekolah se-Indonesia. Tapi sekarang masih relatif kecil. Tahun ini baru sekitar 17 yang sudah beroperasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Jarwoko menerangkan pembangunan SNT membutuhkan dukungan pemerintah daerah, terutama dalam penyediaan lahan. Sementara itu, pembangunan fasilitas sekolah menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.
“Jadi, syaratnya nanti pemerintah daerah menyediakan lahan, pemerintah pusat akan membangun,” katanya.
Anggaran yang disiapkan untuk satu paket pembangunan diperkirakan mencapai Rp250 miliar. Besarnya anggaran tersebut sejalan dengan kelengkapan fasilitas yang dirancang untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.
Fasilitas tersebut meliputi laboratorium, pusat kegiatan guru, serta berbagai sarana penunjang pendidikan lainnya. Meski demikian, SNT tidak menerapkan sistem asrama (boarding school). Sebagai gantinya, siswa akan mendapatkan layanan antarjemput.
Sekolah ini dirancang untuk memberikan layanan pendidikan kepada siswa yang memiliki kemampuan akademik baik. Dengan demikian, mereka dapat memperoleh fasilitas dan proses pembelajaran yang memadai.
Karena tidak menerapkan sistem asrama, layanan SNT diproyeksikan lebih menyasar siswa yang tinggal di sekitar wilayah sekolah.
Selain fasilitas pendidikan, pemerintah juga menyiapkan dukungan konsumsi bagi para siswa. Mereka akan memperoleh makanan ringan (snack) sebanyak dua kali, yakni pada pagi dan sore hari, serta makan siang.
“Anak sekolah ditanggung uang makan. Nanti ada snack pagi, makan siang, terus snack sore. Jadi, snack-nya dua kali,” tuturnya.
SNT mengintegrasikan jenjang pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA). Melalui sistem tersebut, siswa diharapkan dapat melanjutkan pendidikan dari SMP ke SMA dalam satu jalur tanpa harus melalui proses pendaftaran ulang.
“Namanya terintegrasi itu nanti anak tidak perlu daftar ulang ke SMA. Jadi, dia lanjut kelas 9, kelas 10, kelas 11 seperti itu,” pungkasnya. (adr/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



