BontangKaltim

Komisi C Desak Badak LNG Petakan Risiko ke Permukiman

RDP Komisi C DPRD Kota Bontang
dalam rangka Pendalaman Potensi Bencana di Kawasan Industri (Foto: Editorialkaltim/Lia)

Editorialkaltim.com – Potensi bencana industri di kawasan PT Badak LNG menjadi perhatian Komisi C DPRD Bontang. Dewan ingin memastikan skenario terburuk di dalam kilang tidak menimbulkan ancaman bagi permukiman warga di sekitar kawasan industri.

Ketua Komisi C DPRD Bontang Alfin Rausan Fikry meminta PT Badak LNG menjelaskan secara terukur sejauh mana dampak yang mungkin terjadi jika kebocoran gas, kebakaran, hingga ledakan terjadi di area kilang.

Menurut Alfin, penjelasan tersebut penting karena masih ada kekhawatiran di tengah masyarakat terkait dampak insiden besar di kilang yang dapat menjangkau permukiman. Karena itu, DPRD tidak ingin mitigasi bencana hanya berhenti di dalam kawasan industri.

“Yang terpenting ini bagaimana kita mengetahui dampaknya. Kalau terjadi sesuatu di dalam, apakah ledakan, kebakaran atau kebocoran gas, radiusnya sampai sejauh mana dan apakah bisa berdampak ke permukiman,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi C DPRD Bontang terkait pendalaman potensi bencana di kawasan industri, Kamis (10/9/2026).

Baca  Ketua DPRD Apresiasi Peran Warga Lokal Dalam Program Makan Gratis

Menjawab kekhawatiran tersebut, General Manager Safety PT Badak LNG Sapto menjelaskan karakteristik LNG membuat pola risikonya berbeda dengan bahan bakar cair. Gas alam yang masuk ke kilang memiliki tekanan tinggi sehingga pengendalian potensi kebocoran menjadi salah satu aspek utama keselamatan.

Sapto menyebut dampak terberat jika terjadi ledakan berada di sekitar titik kejadian. Sementara itu, pada radius sekitar satu kilometer, dampak yang kemungkinan dirasakan berupa suara keras dan getaran. Semakin jauh dari titik kejadian, dampaknya disebut semakin kecil.

Baca  DPRD PPU Inisiasi Pembukaan Sekolah Inklusi, Upaya Wujudkan Pendidikan Berkeadilan

“Kalau di titik kejadiannya mungkin bisa parah sekali. Tetapi kalau sampai radius satu kilometer, lebih ke merasakan getaran atau suara keras. Di atas satu sampai dua kilometer, mungkin lebih ke mendengar suara atau getarannya,” jelasnya.

Sapto mengatakan LNG berada dalam kondisi sangat dingin, sekitar minus 160 derajat Celsius. Ketika mengalami kebocoran dan terkena udara, LNG akan kembali menjadi gas dan cenderung bergerak ke atas. Jika terbakar, api dapat terlihat tinggi, tetapi radius panasnya dinilai tidak menyebar luas seperti kebakaran minyak.

Meski demikian, Alfin menegaskan DPRD tetap perlu memastikan seluruh wilayah yang berpotensi terdampak masuk dalam skenario mitigasi. Terlebih, terdapat permukiman di sekitar kawasan PT Badak LNG yang secara geografis berdekatan dengan area kilang.

Baca  Kejurda Bertaraf Nasional, Strategi Dispora Kaltim Cetak Atlet Berprestasi

“Jangan sampai wilayah-wilayah seperti Lembah maupun Bontang Utara ikut terdampak. Kalau memang dampak besarnya hanya di dalam pabrik, itu harus benar-benar dipastikan melalui perhitungan dan pemetaan,” tegas Alfin.

Menurut Alfin, pemetaan risiko penting agar pemerintah dan masyarakat memiliki gambaran jelas mengenai tingkat ancaman, radius dampak, serta langkah yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat.

“Jadinya, mitigasi tidak hanya mengandalkan asumsi, tetapi berbasis perhitungan teknis dan skenario terukur,” ucapnya. (Lia/ndi/adv)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button