
Editorialkaltim.com – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memastikan ketersediaan pangan, khususnya beras, tetap aman selama kemarau. Kondisi tersebut didukung sejumlah metode pertanian masyarakat yang memanfaatkan kondisi alam di sejumlah wilayah.
Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri mengatakan, ketersediaan beras di Kukar saat ini dalam kondisi aman berkat berbagai pola pertanian yang diterapkan masyarakat.
“Berdasarkan data yang kami terima, ketersediaan pangan di Kutai Kartanegara, utamanya beras, insyaallah aman selama masa kemarau ini. Karena kami mendapat cadangan dari beberapa metode yang dilaksanakan,” ujar Aulia, Jumat (11/9/2026).
Salah satu metode diterapkan masyarakat di kawasan Danau Semayang. Warga memanfaatkan danau yang surut untuk menebar benih padi tanpa mengolah lahan seperti pertanian umumnya.
Aulia menyebut permohonan untuk menerapkan metode serupa juga datang dari masyarakat Desa Melintang. Warga setempat ingin kembali menebar benih padi di kawasan danau.
Namun, pola pertanian tersebut tidak dapat dilakukan setiap tahun. Berdasarkan pengalaman masyarakat setempat, penanaman padi di kawasan danau hanya dapat dilakukan sekitar 10 tahun sekali, bergantung pada kondisi alam.
“Sejarah memperlihatkan kepada kami bahwa ini bisa dilakukan per 10 tahun sekali. Terakhir mereka melakukan penanaman ini pada 2016-2017. Jadi tepat 10 tahun kemudian, sekitar 2026-2027, baru terjadi lagi,” jelasnya.
Menurut Aulia, pemerintah tidak perlu mempersoalkan metode tersebut selama terbukti berhasil dan menjadi bagian dari kearifan lokal. Pemerintah daerah memiliki tugas mendukung upaya masyarakat menjaga ketahanan pangan.
“Bagi kami, ini adalah sesuatu yang sudah berhasil dilakukan oleh warga masyarakat di sana. Ini kearifan lokal masyarakat di sana dan tugas kami sebagai pemerintah adalah mendukung apa yang dilakukan oleh warga masyarakat,” tegasnya.
Ia menjelaskan kondisi perairan danau berbeda dengan sungai yang memiliki aliran. Air di kawasan tersebut relatif statis sehingga memungkinkan masyarakat menerapkan metode penebaran benih padi.
“Jangan dibayangkan seperti aliran sungai. Danau itu statis, airnya tidak mengalir. Airnya di situ-situ saja,” ujarnya.
Aulia mengakui pemerintah awalnya sempat mempertanyakan metode tersebut karena berbeda dari pola pertanian yang selama ini dikenal. Namun, hasil penanaman menunjukkan benih padi yang ditebar sekitar setengah bulan sebelumnya mulai tumbuh.
“Tanaman pertama yang sudah kita kirim sekitar setengah bulan sebelumnya, 500 kilogram, itu tumbuh. Kita bisa melihat langsung ke sana,” katanya.
Ia berharap tanaman padi tersebut tumbuh optimal hingga masa panen sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan Kukar selama kemarau. (dhn/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



