Lele Lokal Jadi Andalan Mahasiswa KKN Cegah Stunting di Sungai Mariam

Editorialkaltim.com – Upaya mencegah stunting di Desa Sungai Mariam, Kecamatan Anggana, dilakukan dengan memanfaatkan bahan pangan yang mudah ditemukan di sekitar masyarakat. Mahasiswa dari tiga perguruan tinggi mengajak warga mengolah ikan lele dan bayam menjadi menu bergizi untuk anak.
Kegiatan yang berlangsung di Posyandu Apel, Desa Sungai Mariam, Jumat (15/8/2026), melibatkan Kelompok KKN 52 Amerta Mahakam Universitas Mulawarman (Unmul), Universitas Nahdlatul Ulama (UNU), dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda (STIKSAM).
Kolaborasi tersebut difokuskan pada edukasi pencegahan stunting melalui pemanfaatan potensi pangan lokal. Mahasiswa KKN Unmul memperagakan pembuatan nugget berbahan ikan lele, sedangkan STIKSAM mengenalkan mi bayam sebagai sumber karbohidrat dan serat.
Perwakilan KKN Amerta Mahakam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul, Laurensia Meylanie Tanudjaja mengatakan pencegahan stunting dapat dimulai dari keluarga dengan memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Pencegahan stunting tidak harus datang dari jauh. Tidak harus menunggu piring makan bergizi dari pemerintah. Tidak harus mahal,” ujar Laurensia.
Lele dipilih karena mudah ditemukan di Sungai Mariam. Selain harganya relatif terjangkau, ikan tersebut memiliki kandungan protein yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber asupan gizi anak.
“Di desa Sungai Mariam, banyak ternak lele, dan ikan ini mudah dijangkau oleh orang-orang desa. Selain itu, protein dari ikan lele sangat bagus untuk anak-anak yang terindikasi stunting,” jelas Laurensia.
Ia berharap demonstrasi pengolahan makanan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan selama KKN. Warga diharapkan dapat menerapkannya secara mandiri di rumah dengan memanfaatkan bahan pangan lokal.
“Harapannya, melalui demonstrasi yang kita lakukan, kiranya apa yang kita coba lakukan bisa menjadi contoh supaya warga desa lebih sadar bahwa pencegahan stunting bisa dilakukan melalui hal-hal simple, dengan bahan-bahan yang bisa kita peroleh dari potensi lokal desa.”
Ketua KKN STIKSAM Ahmad Fahda Nur mengatakan kolaborasi antarmahasiswa juga dilakukan dalam pelayanan di posyandu. Selain membantu memasak, mahasiswa terlibat dalam sejumlah pemeriksaan kesehatan.
“Untuk STIKSAM, kami dibagi ada yang membantu memasak, ada yang membantu di dalam posyandu. Kolaborasi kami sangat senang karena dari situ kami mendapat kelengkapan. Dari Unmul mengembangkan produk berupa nugget atau protein dari ikan lele, kalau dari STIKSAM merupakan karbohidrat dan serat dari mie bayam. Metode masak-masak itu sendiri adalah pengalaman yang disukai ibu rumah tangga. Ketika mereka belajar sambil melakukan, pembelajaran itu melekat lebih dalam.”
Selain edukasi pangan, kegiatan di Posyandu Apel diisi penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan bayi. Pemeriksaan kesehatan bagi warga lanjut usia juga dilakukan, mulai dari pengecekan kolesterol, gula darah, hingga tekanan darah.
Ketua Posyandu Apel Haji Noor Syamsiah mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dari ketiga perguruan tinggi tersebut dalam mendukung kegiatan posyandu dan memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Alhamdulillah, dari KKN Unmul, UNU, STIKSAM semuanya membantu kita. Terima kasih untuk pelengkapan-pelengkapannya, ada hikmahnya bagi kami, dari masyarakat juga.” Ungkapnya.(ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



