
Editorialkaltim.com – 1.216 siswa SD Muhammadiyah 1 Samarinda dari kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti Kirab Budaya dengan mengenakan pakaian adat Kutai, Jumat (14/8/2026). Kirab budaya tersebut menjadi pemandangan menarik di sepanjang jalan Kota Samarinda. Para siswa berjalan beriringan dengan rute dari Jalan Sei Berantas, Jalan Basuki Rahmat, Jalan Abul Hasan, Jalan Sei Telen, Jalan Sei Musi, Jalan Sei Barito, kemudian kembali ke SD Muhammadiyah 1 Samarinda di Jalan Sei Berantas.
Kegiatan tersebut dibuka Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur Muhammad Faisal.
Kepala SD Muhammadiyah 1 Samarinda, Nur Iman, mengatakan kirab budaya tersebut merupakan kegiatan perdana yang dilaksanakan pihak sekolah. Menurutnya, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah untuk mengenalkan sekaligus melestarikan budaya Kaltim kepada para siswa sejak dini.
“Hari ini merupakan penggunaan pakaian adat Dayak Kutai. Insyaallah setiap tanggal 15 dalam setiap bulannya akan diwajibkan memakai pakaian adat Kutai,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemilihan tanggal 15 bukan tanpa alasan. Tanggal tersebut merupakan hari jadi SD Muhammadiyah 1 Samarinda.
Adapun kebijakan penggunaan pakaian adat tersebut mengacu pada Peraturan Wali Kota (Perwali) Samarinda Nomor 15 Tahun 2022.
“Kegiatan kirab ini juga merupakan rangkaian peringatan 17 Agustus 2026. Sebelumnya kami sudah melaksanakan berbagai macam lomba,” katanya.
Tak hanya melalui pakaian adat, sekolah juga berupaya memperkuat pengenalan budaya Kutai melalui pendidikan. Salah satunya dengan memberikan pembelajaran muatan lokal Bahasa Kutai.
Ia mengatakan pembelajaran Bahasa Kutai telah dilaksanakan sejak tahun ajaran 2025/2026. Ke depan, pihak sekolah ingin mengembangkan pembelajaran tersebut agar tidak hanya mengenalkan bahasa, tetapi juga budaya Kutai.
“Untuk itu tahun ini kami berupaya membahas Bahasa Kutai dengan budaya Kutai,” tuturnya.
Sementara itu, salah satu orang tua murid, Nia, mengapresiasi pelaksanaan kirab budaya tersebut. Ia mengatakan anaknya merasa senang dapat mengenakan pakaian adat Kutai dan mengikuti kegiatan bersama teman-temannya.
Menurutnya, kewajiban mengenakan pakaian adat Kutai setiap tanggal 15 setiap bulan juga tidak menjadi persoalan bagi orang tua.
“Anak saya senang memakai pakaian adat Kutai. Kalau setiap tanggal 15 diwajibkan memakai pakaian adat, saya tidak keberatan sama sekali,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pakaian adat yang digunakan siswa disiapkan oleh masing-masing orang tua. Pakaian tersebut dapat diperoleh dengan cara menyewa maupun membeli. Ia berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan karena memberikan pengalaman langsung kepada anak-anak untuk mengenal dan mencintai budaya daerah. (adr/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



