KaltimSamarinda

Sekolah Pertama Terapkan Pakaian Adat Kutai

Foto bersama jajaran Guru SD Muhammadiyah 1 Samarinda (Foto: Editorialkaltim/Adryan)

Editorialkaltim.com – SD Muhammadiyah 1 Samarinda menjadi sekolah pertama di Kota Samarinda yang menerapkan penggunaan pakaian adat Kutai bagi para guru, karyawan dan siswa- siswi. Program tersebut merupakan upaya untuk mengenalkan budaya daerah kepada siswa secara lebih dekat.

Kepala SD Muhammadiyah 1 Samarinda, Nur Iman, menyebut penggunaan pakaian adat tersebut akan dilaksanakan setiap tanggal 15 setiap bulan. Selain itu, sekolah juga akan menggelar berbagai penampilan seni dan budaya Kutai yang dibawakan para siswa.

“Untuk tanggal 15 setiap bulan itu kita pemakaian pakaian adat. Tapi di tanggal itu juga kita upayakan kita tampilkan budaya-budaya Kutai,” ujarnya, Jumat (14/8/2026).

Ia menjelaskan, program tersebut merupakan implementasi Perwali Nomor 15 Tahun 2022. Pemilihan adat Kutai merupakan kesepakatan dan instruksi dari Dinas Pendidikan Kota Samarinda.

“Memang itu yang disepakati, itu yang diinstruksikan dari Dinas Pendidikan Kota Samarinda,” jelasnya.

Implementasi Perwali tersebut mulai diterapkan sejak 2025. Saat ini, SD Muhammadiyah 1 Samarinda telah memasuki tahun kedua dalam penerapan muatan lokal Bahasa Kutai. Namun, untuk penerapan budaya Kutai, khususnya melalui penggunaan pakaian adat, kegiatan tersebut baru pertama kali dilaksanakan.

“Ini launching hari ini,” katanya.

Ia menyebut antusiasme orang tua siswa terhadap kebijakan tersebut sangat tinggi. Hal itu terlihat dalam pelaksanaan kirab budaya yang diikuti para siswa dengan mengenakan pakaian adat Kutai. Dari sekitar 2.000 siswa SD Muhammadiyah 1 Samarinda, sekitar 95 persen di antaranya mengenakan pakaian adat Kutai.

“Padahal kemarin kita masih memberikan kebijakan, yang belum punya silakan pakai batik, pakai muslim. Tapi ternyata hari ini yang tidak pakai pakaian adat hanya beberapa orang saja,” ungkapnya.

Melalui program tersebut, pihak sekolah berharap para siswa semakin mengenal, memahami, dan mencintai budaya daerahnya. Menurutnya, budaya lokal perlu ditanamkan sejak dini, khususnya kepada siswa.

“Kita berharap anak-anak semakin mengenal, semakin mengetahui, dan semakin mencintai budayanya. Karena kalau sampai anak-anak tidak mencintai budayanya, nanti akan dikuasai oleh orang lain,” pungkasnya. (adr/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button