KaltimSamarinda

ISPI Kaltim Soroti Rendahnya Kepedulian Remaja terhadap HIV

Pengurus Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Kaltim periode 2022–2027, Dayang Djunaida Dewi Yudiani saat memaparkan materi Membangun Kepedulian terhadap HIV dan Isu LGBT (Foto: Editorialkaltim/Adryan)

Editorialkaltim.com – Pengurus Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Kalimantan Timur periode 2022–2027, Dayang Djunaida Dewi Yudiani, menilai kepedulian generasi muda terhadap HIV masih perlu ditingkatkan melalui edukasi yang tepat. Menurutnya, rendahnya pemahaman mengenai HIV berpotensi meningkatkan berbagai risiko di kalangan remaja.

Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Penguatan Penguasaan Coding dan Artificial Intelligence (AI) bagi guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) di Aula IKIP PGRI Kalimantan Timur, Samarinda, Rabu (5/8/2026).

Dalam pemaparannya bertajuk Membangun Kepedulian terhadap HIV dan Isu LGBT, Dayang menjelaskan kasus HIV di Indonesia masih menunjukkan tren peningkatan setiap tahun, terutama di kelompok usia muda dan produktif. Di sisi lain, pengetahuan masyarakat mengenai penularan serta pencegahan HIV dinilai masih terbatas.

Ia mengatakan perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi tidak selalu diikuti pemahaman yang benar, khususnya terkait kesehatan reproduksi dan pencegahan perilaku berisiko.

“Kepedulian generasi muda terhadap isu HIV dan LGBT masih rendah sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan kesadaran,” ujarnya.

Dayang menambahkan isu LGBT juga semakin sering menjadi pembahasan di ruang publik. Namun, stigma terhadap kelompok tersebut masih membuat sebagian orang enggan mencari informasi maupun mengakses layanan kesehatan.

Ia memaparkan, berdasarkan data yang dimilikinya, terdapat 32 kasus yang berkaitan dengan LGBT di Kalimantan Timur. Kasus tersebut tersebar di Balikpapan, Bontang, Kutai Kartanegara, dan Samarinda, dengan jumlah terbanyak ditemukan di Kota Tepian.

“Sebanyak 18 kasus terjadi di tingkat SMA, delapan kasus di SMP, dan enam kasus di SD,” katanya.

Menurut Dayang, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk pemerintah dan dunia pendidikan. Ia menilai edukasi sejak dini penting agar peserta didik memiliki pemahaman yang benar mengenai kesehatan, mampu melindungi diri, serta menghindari perilaku yang berisiko.

Ia juga menyoroti masih kuatnya stigma sosial terhadap kelompok LGBT. Kondisi itu, menurutnya, dapat membuat sebagian orang takut menjalani pemeriksaan kesehatan sehingga berpotensi menghambat upaya pencegahan dan penanganan HIV.

Selain itu, budaya yang masih menganggap pembahasan mengenai seksualitas sebagai hal tabu membuat banyak orang tua dan guru enggan memberikan edukasi kepada anak. Padahal, pengetahuan yang tepat dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah perilaku berisiko.

Dayang menegaskan persoalan HIV tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga menyangkut persoalan sosial dan kemanusiaan yang membutuhkan kepedulian bersama.

“Peduli bukan berarti setuju, tapi karena kita manusia yang saling menjaga,” pungkasnya.(adr/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button