KaltimSamarinda

Bahasa Inggris Jadi PR Anak Muda Kaltim, Senator Soroti Minimnya Penerima LPDP

Anggota DPD RI Daerah Pemilihan (Dapil) Kaltim, Aji Mirni Mawarni (Foto: Editorialkaltim/Adryan)

Editorialkaltim.com – Kemampuan bahasa Inggris generasi muda Kalimantan Timur menjadi sorotan Anggota DPD RI Daerah Pemilihan (Dapil) Kaltim, Aji Mirni Mawarni. Ia menilai penguasaan bahasa asing masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang membuat banyak pelajar dan mahasiswa di Kaltim gagal bersaing mendapatkan beasiswa hingga melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Menurut Aji Mirni, kemampuan berbahasa Inggris bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan yang harus dipersiapkan sejak dini agar generasi muda memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional.

“Saya berharap anak-anak Kaltim itu harus berani memperbaiki kualitas bahasa Inggrisnya mulai dari sekarang,” ujarnya kepada Editorialkaltim.com, Jumat (24/7/2026).

Ia menjelaskan, hampir seluruh program beasiswa internasional mensyaratkan kemampuan bahasa Inggris. Karena itu, penguasaan bahasa asing menjadi salah satu pintu utama untuk mengakses pendidikan yang lebih tinggi.

Baca  Polsek Sangatta Utara Ungkap Sindikat Curanmor, Enam Pelaku Ditangkap

“Kalau kita ingin berpendidikan lebih tinggi, persyaratan mendapatkan beasiswa salah satunya adalah menguasai bahasa asing, yaitu bahasa Inggris,” katanya.

Aji Mirni mengaku pernah merasakan langsung dampak keterbatasan kemampuan bahasa Inggris saat berada di luar negeri. Menurutnya, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing sangat berpengaruh terhadap efektivitas bekerja maupun membangun relasi dengan masyarakat internasional.

“Kalau kita tidak menguasai bahasa Inggris, saya sendiri merasakan kemampuan yang pas-pasan membuat pekerjaan kadang-kadang tidak maksimal ketika berada di luar negeri,” ungkapnya.

Ia menilai kemampuan bahasa asing merupakan investasi jangka panjang yang akan membuka lebih banyak peluang, baik di dunia pendidikan maupun karier.

Lebih jauh, Aji Mirni mengaku prihatin karena jumlah penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Kaltim masih relatif sedikit. Menurutnya, salah satu penyebab utama ialah banyak calon peserta yang belum memenuhi syarat kemampuan bahasa Inggris.

Baca  Pasien RSUD AWS Menumpuk, Dewan Kaltim Sebut Gedung Pandurata Harus Segera Difungsikan

“Saya sedih, salah satu contohnya LPDP. Banyak anak-anak Kaltim yang tidak bisa mendapatkan LPDP karena salah satu syaratnya minimal memiliki nilai TOEFL 500,” ujarnya.

Ia mengatakan, masih banyak pelajar dan mahasiswa di Kaltim yang belum mampu mencapai skor tersebut. Padahal, nilai TOEFL menjadi syarat penting untuk memperoleh berbagai program beasiswa maupun melanjutkan studi ke luar negeri.

Aji Mirni juga membandingkan kondisi tersebut dengan pengalaman saat menempuh pendidikan di Jakarta pada 1990. Saat itu, ia melihat mahasiswa sudah terbiasa menggunakan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari sehingga kemampuan komunikasi mereka lebih terasah.

Baca  KPID Kaltim Gelar Rakor Persiapan Tuan Rumah Harsiarnas dan Rakornas KPI 2024

“Kalau di Jakarta, sejak dulu anak-anak mudanya terbiasa menyelipkan bahasa asing dalam percakapan. Sementara di sini masih benar-benar menggunakan bahasa Indonesia sepenuhnya,” katanya.

Meski mendorong penguasaan bahasa asing, ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Menurutnya, ketiga bahasa tersebut harus berjalan beriringan sebagai bekal menghadapi persaingan global.

“Penguasaan bahasa memang sejalan dengan moto pemerintah, yaitu utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing. Jadi kita jangan melupakan bahasa kita sendiri, tetapi tetap harus menguasai bahasa asing,” pungkasnya. (adr/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button