KaltimPenajam Paser Utara

Perpustakaan di PPU Didorong Jadi Pusat Riset Budaya Lokal

FGD Dispusip PPU. (Foto: Humas Pemkab PPU)

Editorialkaltim.com – Perpustakaan tak lagi sekadar tempat membaca dan meminjam buku. Di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), perpustakaan mulai diarahkan menjadi ruang riset sekaligus pusat pelestarian budaya lokal.

Upaya tersebut dilakukan Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispusip) PPU melalui program LITERIA atau Literasi Interaktif, Riset, dan Arsip Nusantara.

Program itu digelar di Perpustakaan Umum Daerah PPU, Selasa (7/7/2026). Kegiatan mengangkat tema “Kuliner, Bahasa, dan Cerita Rakyat sebagai Media Literasi Budaya melalui Program Interaktif di Perpustakaan Daerah”.

Kegiatan yang berlangsung secara hibrida tersebut melibatkan pemerintah daerah, akademisi, tokoh adat, arsiparis, anggota DPRD, pelaku UMKM, pelajar, hingga masyarakat umum.

Sekretaris Dispusip PPU Aswar Bakri mengatakan, LITERIA menjadi inovasi tahunan untuk memperkuat fungsi perpustakaan sebagai ruang belajar, diskusi, dan pengembangan riset berbasis budaya lokal.

Baca  NasDem DPRD Paser Minta Pemda Jelaskan Strategi Capai IPM 76,6% di 2025

“LITERIA merupakan salah satu bentuk inovasi yang secara konsisten kami laksanakan setiap tahun di Dinas Perpustakaan dan Arsip,” ujar Aswar mewakili Kepala Dispusip PPU Fatmawati.

Menurut Aswar, perkembangan zaman menuntut perpustakaan melakukan transformasi. Fungsinya tidak boleh berhenti sebagai tempat membaca, tetapi perlu berkembang menjadi bagian dari ekosistem pengembangan pengetahuan dan penelitian.

“Bagaimana membangun perpustakaan agar benar-benar bertransformasi, bukan hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem riset, bahkan jika memungkinkan menjadi pusat riset di daerah,” katanya.

Dispusip PPU juga menargetkan hasil pembahasan dalam LITERIA tidak berhenti sebagai rekomendasi forum. Gagasan dan kajian yang dihasilkan diharapkan berkembang menjadi publikasi ilmiah di jurnal nasional maupun internasional, termasuk jurnal bereputasi.

Baca  Dewan PPU Soroti Gedung RSUD Sepaku Rp72 M Belum Optimal

Selain publikasi ilmiah, hasil kegiatan akan dikembangkan menjadi produk literasi populer berupa buku elektronik (e-book) dan buku audio (audiobook). Produk tersebut diharapkan dapat menjangkau masyarakat lebih luas, termasuk penyandang disabilitas.

Rangkaian LITERIA diawali melalui Panggung Gagasan (Lightning Talk) yang menghadirkan enam narasumber dari berbagai bidang. Pembahasan mencakup transformasi perpustakaan, pelestarian budaya Paser, arsip sebagai memori kolektif daerah, pengembangan kuliner tradisional, kebijakan literasi budaya, hingga inovasi penguatan budaya lokal.

Peserta kemudian mengikuti Focus Group Discussion (FGD) untuk membedah sejumlah isu strategis. Mulai dari kondisi budaya lokal, pemanfaatan bahasa dan cerita rakyat sebagai media literasi, pelestarian budaya di kalangan generasi muda, hingga peran perpustakaan dan arsip dalam menjaga pengetahuan lokal.

Baca  Tunggakan Kegiatan Pendidikan di PPU Capai Rp21 Miliar, Disdikpora Tunggu Dana Pusat

Kolaborasi lintas sektor turut menjadi perhatian dalam forum tersebut. Sinergi pemerintah, akademisi, tokoh adat, pelaku usaha, dan masyarakat dinilai penting agar upaya pelestarian budaya dapat berjalan berkelanjutan.

Kegiatan ditutup dengan Game Literasi Interaktif, penyampaian rekomendasi hasil diskusi, serta penyerahan cenderamata kepada para narasumber. (tin/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button