Nasional

Santri di Jombang Kini Percaya Diri Berbicara Bahasa Inggris

Santri Pondok Pesantren Modern Wisata Amanatussalam (AMLAM), Wonosalam, Jombang sedang belajar bahasa Inggris

Editorialkaltim.com – “What is your dream?” Bagi sebagian santri di Pondok Pesantren Modern Wisata Amanatussalam (AMLAM), Wonosalam, Jombang, pertanyaan sederhana itu pernah menjadi tantangan besar. Bukan karena mereka tidak memiliki cita-cita, melainkan karena harus mengungkapkannya dalam bahasa Inggris.

Tak sedikit santri yang memilih menunduk, tersenyum malu, atau saling menunjuk temannya saat diminta berbicara. Kosakata yang sebenarnya telah dipelajari seolah menghilang ketika harus diucapkan. Rasa takut melakukan kesalahan lebih besar daripada keberanian untuk mencoba.

Fenomena tersebut masih banyak ditemui di berbagai sekolah, termasuk lingkungan pesantren. Bahasa Inggris kerap dipandang hanya sebagai mata pelajaran untuk memperoleh nilai yang baik di rapor atau ujian. Padahal, hakikat bahasa adalah alat komunikasi, bukan sekadar kumpulan aturan tata bahasa yang harus dihafal.

Di lingkungan pesantren, tantangan itu memiliki karakter tersendiri. Tradisi penggunaan bahasa Arab telah mengakar kuat sebagai bahasa ibadah, pembelajaran, sekaligus komunikasi sehari-hari. Kondisi tersebut menjadi kekuatan pendidikan pesantren, namun di sisi lain membuat kesempatan menggunakan bahasa Inggris masih relatif terbatas.

Akibatnya, banyak santri sebenarnya telah memahami dasar-dasar bahasa Inggris. Mereka mengenal tata bahasa, menguasai kosakata, bahkan mampu mengerjakan soal dengan baik. Namun ketika diminta memperkenalkan diri atau menyampaikan pengalaman sederhana, rasa percaya diri kerap menghilang.

Belajar bahasa sejatinya tidak berbeda dengan belajar berenang. Seseorang tidak akan mahir hanya dengan membaca teori. Kemampuan akan berkembang ketika berani mencoba, melakukan kesalahan, lalu terus berlatih hingga terbiasa.

Baca  Program MBG Sudah Telan Anggaran Rp 44 Triliun

Berangkat dari kondisi tersebut, tim Global English Goes To (G-TO) menggelar program pembelajaran bahasa Inggris intensif di Pondok Pesantren Modern Wisata Amanatussalam, Wonosalam, Jombang.

Program ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi para penerima beasiswa Teaching Clinic Global English Pare, Kediri. Selain dipersiapkan menjadi tutor bahasa Inggris yang kompeten, para penerima beasiswa juga didorong mengimplementasikan ilmunya melalui aksi nyata di tengah masyarakat.

Selama lima hari, para santri mengikuti pembelajaran yang menitikberatkan pada praktik komunikasi. Berbagai aktivitas seperti permainan bahasa, diskusi kelompok, presentasi singkat, role play, hingga tantangan komunikasi dirancang untuk membangun kebiasaan berbicara dalam bahasa Inggris.

Suasana kelas pun dibuat lebih santai dan komunikatif. Tutor tidak berfokus pada ceramah panjang ataupun hafalan, melainkan mendorong peserta aktif berdialog. Kesalahan pengucapan diperlakukan sebagai bagian alami dari proses belajar, bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Perubahan mulai terlihat sejak hari-hari awal. Santri yang sebelumnya hanya mampu menjawab dengan satu atau dua kata mulai berani menyusun kalimat. Mereka yang awalnya berbicara dengan suara pelan perlahan tampil lebih percaya diri. Bahkan, beberapa peserta mulai menggunakan bahasa Inggris secara spontan saat berbincang dengan teman di luar sesi pembelajaran.

Evaluasi program menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dari 47 peserta, lebih dari 70 persen mencapai kategori baik hingga sangat baik dalam kemampuan berbahasa Inggris. Tingkat kehadiran peserta juga melampaui 95 persen, mencerminkan tingginya antusiasme selama kegiatan berlangsung.

Baca  Bikin Jera Koruptor, Ganjar: Miskinkan, Kirim ke Nusakambangan

Namun, capaian yang paling menonjol bukan hanya peningkatan kemampuan berbahasa, melainkan tumbuhnya keberanian dan rasa percaya diri untuk berbicara.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa hambatan terbesar dalam pembelajaran bahasa bukan semata-mata kurangnya pengetahuan, melainkan rasa takut melakukan kesalahan. Ketika ketakutan itu berkurang, kemampuan berkomunikasi berkembang secara alami.

Suasana belajar yang menyenangkan turut menjadi faktor penting. Permainan edukatif, simulasi percakapan, aktivitas berpasangan, hingga kompetisi ringan membuat peserta tidak lagi memandang bahasa Inggris sebagai pelajaran yang menegangkan, melainkan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Ketua Tim Global English Goes To (G-TO), Jefri Firnando, menilai pesantren memiliki modal sosial yang besar untuk membangun budaya berbahasa Inggris karena kehidupan santri berlangsung bersama selama 24 jam.

“Pesantren memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk membangun budaya berbahasa Inggris. Kehidupan bersama selama dua puluh empat jam sebenarnya menjadi laboratorium komunikasi yang luar biasa. Jika budaya ini terus dipelihara, saya optimistis pesantren mampu melahirkan generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga siap berkomunikasi di tingkat global,” ujarnya.

Menurut Jefri, keberhasilan pembelajaran bahasa tidak hanya ditentukan metode mengajar, tetapi juga lingkungan yang memberi ruang bagi peserta didik untuk terus berlatih. Bahasa tidak cukup dipelajari, melainkan harus digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21 yang menekankan kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis, serta percaya diri menyampaikan gagasan. Dalam konteks itu, bahasa Inggris bukan sekadar mata pelajaran, melainkan jembatan menuju akses ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, hingga peluang karier di tingkat global.

Baca  Mulyanto Dorong BPH Migas Ambil Alih Pengawasan LPG 3 Kg Subsidi

Pesantren memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari transformasi tersebut. Kehidupan asrama selama 24 jam menjadi lingkungan ideal untuk membangun budaya berbahasa melalui percakapan harian, kegiatan ekstrakurikuler, klub diskusi, maupun aktivitas informal lainnya.

Meski demikian, perubahan tidak dapat dicapai melalui pelatihan singkat semata. Program intensif hanya menjadi pemantik. Keberlanjutan latihan tetap menjadi faktor utama agar rasa percaya diri yang telah tumbuh tidak kembali memudar.

Di era kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital, kesempatan berlatih semakin terbuka melalui berbagai aplikasi percakapan, platform pembelajaran daring, hingga komunitas belajar virtual. Namun secanggih apa pun teknologi, dukungan guru, teman sebaya, dan budaya belajar yang positif tetap menjadi fondasi utama.

Melalui G-TO, para penerima beasiswa Teaching Clinic Global English Pare membuktikan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu diwujudkan melalui pembangunan fisik atau bantuan material. Berbagi ilmu, menumbuhkan kepercayaan diri, serta memperluas akses pendidikan berkualitas juga merupakan investasi sosial yang memberi manfaat jangka panjang.(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button