
Editorialkaltim.com – Nama Sultan Musa kembali menjadi perbincangan di kalangan pegiat sastra setelah berhasil lolos dalam kurasi Antologi Puisi Internasional pada ajang Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh-Indonesia 2026. Pengumuman resmi daftar karya yang lolos kurasi disampaikan panitia pada 31 Mei 2026.
Prestasi ini bukan capaian biasa. Dari total 552 penyair yang mengirimkan 1.018 karya puisi, hanya 304 penulis yang berhasil melewati proses seleksi. Kurasi dilakukan oleh sembilan kurator dari lima negara berbeda, menjadikan persaingan berlangsung sangat ketat dan kompetitif.
“Alhamdulillah saya Sultan Musa asal Samarinda bisa berhasil lolos dari kurasi sangat kompetitif yang diseleksi oleh 9 kurator yang berasal dari 5 negara berbeda,” ujar Sultan kepada Editorialkaltim.com, Kamis (4/6/2026).
Ajang Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) ke-XIV Tahun 2026 yang akan digelar di Provinsi Aceh juga memiliki skala internasional. Kegiatan ini akan diikuti peserta dari 14 negara yang melibatkan penyair dari kawasan ASEAN, Jepang, Turki, hingga Tasmania.
Menulis Sejak Kelas Lima SD
Sultan Musa merupakan penulis profesional yang berbasis di Samarinda, Kalimantan Timur. Fokus kepenulisannya mencakup penulisan kreatif, fiksi, eksplorasi budaya lokal, opini budaya, hingga catatan perjalanan.
Melalui karya-karyanya, ia berkomitmen mengangkat narasi lokal Kalimantan Timur ke panggung yang lebih luas. Baginya, sastra menjadi medium untuk mengawinkan realitas lokal dengan imajinasi sehingga melahirkan karya yang hangat dan reflektif bagi pembaca.
Selain aktif menulis, Sultan juga terbuka untuk berbagai kolaborasi penulisan, proyek kreatif, serta diskusi literasi.
Dalam perjalanannya, ia terlibat sebagai editor sejumlah buku penting. Pada 2025, Sultan menjadi editor buku Samarinda dalam Tiga Masa: Merapah Kenangan Masa Lalu, Wajah Hari Ini, dan Bayangan Esok, sebuah buku antologi yang diluncurkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda pada 17 November 2025. Buku tersebut ditulis oleh 22 anak muda dan menarasikan evolusi Kota Samarinda dari masa lalu, kondisi saat ini, hingga visi masa depan dengan ISBN 978-634-96293-4-8.
Pada 2026, ia kembali dipercaya menjadi editor buku Anggana dan Cerita-Cerita di Sekitarnya, sebuah karya yang memadukan narasi sejarah lokal, puisi, fotografi, dan ilustrasi yang merekam wajah Anggana serta wilayah sekitarnya.
Kecintaannya terhadap puisi ternyata telah tumbuh sejak kelas lima sekolah dasar. Namun perjalanan itu sempat terhenti karena ia lebih fokus menulis jurnal ilmiah sesuai bidang akademik yang digelutinya. Setelah menyelesaikan pendidikan pascasarjana, Sultan kembali menekuni sastra, khususnya puisi, hingga sekarang.
Deretan Karya yang Telah Diterbitkan
Sebagai penulis, Sultan Musa telah menghasilkan enam buku tunggal, yakni:
- Candramawa (2017), Sunrise Yogyakarta, ISBN 978-602-6300-50-8.
- Petrikor (2019), Spasimedia Bogor, ISBN 978-623-7328-12-4.
- Sedjiwa Membuncah (2020), Bukupedia Indonesia, ISBN 978-623-251-250-4.
- Mendjamu Langit Rekah (2020), e-book, CV Tidar Media, ISBN 978-623-7203-46-9.
- Titik Koma (2021), IA Publisheria, ISBN 978-623-6804-56-8. Buku ini masuk daftar nomine Penerima Penghargaan Sastra 2021 Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur kategori Buku Puisi Unggulan.
- Sadajiwa (2023), CV Pustakaki Press, ISBN 978-623-8321-05-6.
Produktivitasnya juga tercermin dari rekam publikasi yang sangat panjang. Hingga saat ini ia telah menghasilkan:
- 6 buku karya tunggal.
- 73 buku antologi nasional dan internasional.
- 29 publikasi di majalah dan zine nasional maupun internasional.
- 40 publikasi di surat kabar nasional dan internasional.
- 211 publikasi pada media online.
- 77 artikel umum di surat kabar.
Perjalanan Sultan hingga dikenal secara nasional dan internasional dibangun melalui konsistensi publikasi, keterlibatan dalam antologi bersama, serta berbagai penghargaan sastra.
Karya-karyanya tersebar di berbagai media daring dan luring nasional sehingga namanya mulai dikenal oleh penikmat sastra dari berbagai daerah.
Namanya juga tercatat dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia pada 2017. Buku tersebut menjadi salah satu rujukan penting dokumentasi penyair Indonesia.
Berbagai penghargaan turut memperkuat kiprahnya, termasuk masuk dalam 10 Penulis Terbaik versi Negeri Kertas Awards Indonesia tahun 2020.
Baginya, perpaduan antara aktivitas menulis di media, menerbitkan buku secara mandiri, hingga menjalin kolaborasi budaya lintas negara menjadi jalan yang membawanya menuju panggung sastra yang lebih luas.
Ketika berbicara mengenai sosok yang paling memengaruhi gaya kepenulisannya, Sultan menyebut nama Remy Sylado.
Ia mengagumi perpaduan antara sikap mbeling, kecerdasan akademis, serta kemampuan eksplorasi bahasa yang dimiliki Remy. Menurutnya, membaca karya Remy Sylado seperti menyaksikan pertunjukan teater kolosal yang megah namun tetap dipandu narator yang humoris dan kaya pengetahuan.
Eksplorasi linguistik, penggunaan kosakata arkais, bahasa asing, hingga etimologi yang sering muncul dalam karya-karya Remy menjadi inspirasi penting dalam proses kreatifnya.
Puisi untuk Kemanusiaan
Dalam PPN XIV Aceh, tema yang diusung adalah “Puisi Untuk Kemanusiaan: Dari Diksi Jadi Aksi”.
Menurut Sultan, kekuatan utama puisi yang dikirimnya terletak pada orisinalitas, suara khas, eksplorasi kultur lokal, metafora yang kuat, kritik sosial, serta kedalaman humanisme yang tidak hanya indah secara estetis tetapi juga kaya gagasan psiko-emosional.
Puisi yang lolos kurasi merupakan refleksi filosofis tentang hakikat keberadaan manusia, luka kolektif, dan pencarian kedamaian sejati.
Melalui diksi yang liris dan kontemplatif, puisi tersebut mengangkat perjalanan jiwa dari belenggu ego menuju kebebasan empati. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa kemanusiaan sejati lahir dari ketulusan tanpa pamrih, kedamaian merupakan proses memaafkan, dan puncak tertinggi peradaban adalah memanusiakan manusia.
Bagi Sultan Musa, lolosnya karya dalam Antologi Puisi Internasional PPN XIV bukan sekadar menambah daftar portofolio.
Ia menyebut pencapaian tersebut sebagai milestone yang sangat penting karena menjadi legitimasi kualitas karya di tingkat tertentu sekaligus membuka peluang membangun jejaring sastra internasional, kolaborasi lintas negara, ruang diskusi dengan akademisi dan kritikus sastra, hingga kemungkinan penerjemahan karya ke berbagai bahasa asing.
Secara psikologis, pencapaian itu juga menjadi katalisator kreatif yang mendorongnya untuk terus bertumbuh dan berkarya.
Harapan untuk Sastra dan Generasi Muda
Menjelang pertemuan penyair dari 14 negara di Aceh, Sultan berharap sastra dapat menjadi jembatan humanisme universal yang mempertemukan berbagai latar belakang budaya dalam satu bahasa yang sama, yakni kemanusiaan.
Kepada generasi muda Samarinda dan Kalimantan Timur yang ingin menekuni sastra, ia berpesan agar tidak meninggalkan akar lokalitas.
“Akarmu itu kekuatan, bukan keterbatasan.”
Menurutnya, lokalitas justru bisa menjadi pintu menuju panggung internasional. Menjaga bahasa dan identitas daerah merupakan kekuatan yang membedakan seorang penulis dari yang lain.
Ia juga menekankan pentingnya konsistensi menulis, kejujuran dalam berkarya, serta keberanian tampil berbeda sambil tetap berpijak pada akar budaya sendiri.
Profil Singkat Sultan Musa
Nama: Sultan Musa
Tempat, tanggal lahir: Muara Badak, 21 Februari 1979
Pendidikan: S-2 STMIK Eresha Jakarta, Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak
Hobi: Traveling dan backpacking
Penyair idola: Remy Sylado dan Panji Sakti
Buku favorit: Mungkin Puisi karya Panji Sakti dan Film Bisa Dieja karya Salman Aristo
Tempat favorit mencari inspirasi: Alam, terutama pantai dan sungai
Puisi pertama: Bertema persahabatan
Waktu menulis satu puisi: Umumnya 3–4 hari, meski terkadang lahir spontan dalam hitungan menit atau jam sebagai draf awal
Kata yang menggambarkan diri: “Simfonik”
Tiga prestasi yang paling berkesan dalam perjalanan sastranya adalah terpilih sebagai Emerging Poetry dalam ajang Challenge “Heart and Art for Change” pada Collegno Fol Fest 2024 di Torino, Italia; meraih peringkat lima dalam Festival Puisi Tiga Negara Indonesia-Malaysia-Singapura tahun 2025 dari 2.033 peserta; serta puisinya berjudul Aku Tetap Menulis Syair menjadi puisi pilihan bersama karya WS Rendra dan Chairil Anwar dalam Lomba Baca Puisi Siswa SMP/MTs se-Kota Samarinda tahun 2023.
Bagi Sultan Musa, mimpi terbesar dalam dunia sastra bukan sekadar meraih penghargaan, melainkan menjaga dan menyalakan api literasi agar terus hidup dalam proses regenerasi dari generasi ke generasi.(ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



