KaltimPenajam Paser Utara

Polres PPU Awasi Ketat BBM Subsidi, Pengetap Solar Diselidiki

Kapolres PPU, Andreas Alek Danantara saat diwawancarai. (Foto: Editorialkaltim/Agustina)

Editorialkaltim.com – Polres Penajam Paser Utara (PPU) memperketat pengawasan distribusi bahan bakar minyak (BBM) subsidi menyusul antrean panjang di sejumlah SPBU hingga dugaan praktik pengetapan solar yang dikeluhkan masyarakat.

Kapolres PPU Andreas Alek Danantara mengatakan pengawasan dilakukan langsung melalui jajaran Satreskrim dan kapolsek di wilayah yang memiliki SPBU. Langkah itu dilakukan untuk memastikan distribusi BBM subsidi berjalan tertib dan tepat sasaran.

“Saya perintahkan langsung kepada Kasat Reskrim dan kapolsek jajaran, khususnya wilayah yang ada SPBU seperti Babulu, Sepaku, Waru dan Penajam, untuk melakukan pengawalan dan pengamanan terbuka terhadap pendistribusian BBM, khususnya subsidi,” kata Andreas.

Baca  Persiapan Matang Pemkab Kubar Jelang PEDA KTNA 2025, Targetkan Promosi Potensi Lokal

Ia menyoroti antrean panjang di SPBU Babulu yang sempat viral di media sosial karena menyebabkan kemacetan hingga malam hari. Menurutnya, personel kepolisian sudah diterjunkan untuk mengatur antrean kendaraan di lokasi.

“Yang paling mencolok di Babulu. Malam-malam antrean panjang sampai jalan macet total. Jujur saya mendapatkan kabar itu paginya dari rekan media,” ujarnya.

Setelah menerima laporan tersebut, Andreas mengaku langsung mengecek kondisi di lapangan. Dari hasil pemantauan, personel disebut sudah melakukan penanganan untuk merapikan antrean kendaraan di area SPBU.

Baca  Pelantikan Dewan Kehormatan dan Pengurus PMI Provinsi Kaltim Masa Bakti 2024-2029

Selain pengamanan distribusi, Polres PPU juga melakukan penyelidikan terkait dugaan penyalahgunaan BBM subsidi, termasuk praktik pengetapan solar yang disebut semakin marak.

“Beberapa minggu lalu Satreskrim sudah melakukan upaya penindakan. Kita juga terus melakukan penyelidikan terkait pengetap-pengetap itu,” katanya.

Menurut Andreas, tingginya harga solar eceran diduga menjadi salah satu pemicu maraknya praktik tersebut. Saat ini harga solar di tingkat pengecer disebut bisa mencapai Rp20 ribu per liter.

Kondisi itu juga berdampak terhadap aktivitas masyarakat, terutama nelayan yang mulai mengurangi aktivitas melaut akibat tingginya biaya operasional bahan bakar.

Baca  17 Desa di Kukar Masuk Kategori Rentan Pangan

“Solar di eceran bisa sampai Rp20 ribu. Bahkan nelayan juga jarang turun karena mahal sekali,” ucapnya.

Ia memastikan kepolisian akan terus melakukan langkah preventif dan penindakan guna mencegah penyalahgunaan BBM subsidi di wilayah PPU.

“Upaya terus kita lakukan. Preventifnya dengan pengawalan dan penjagaan langsung di lapangan,” tegas Andreas. (tin/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button