Jalan Sotek–Bongan Rusak Parah, Warga Mengeluh Akses Licin dan Rawan Kecelakaan

Editorialkaltim.com – Warga kembali menyoroti kerusakan Jalan Sotek–Bongan yang dinilai semakin parah dan membahayakan pengguna jalan, khususnya saat musim hujan.
Kondisi jalan yang berlumpur dan licin membuat aktivitas masyarakat menjadi sulit. Warga yang melintas harus ekstra hati-hati karena risiko kendaraan terperosok hingga mengalami kerusakan cukup tinggi.
Sorotan terhadap jalur ini juga muncul di tengah polemik pengadaan mobil dinas Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud senilai Rp 8,5 miliar.
Sejumlah media sebelumnya menyebut kendaraan tersebut dirancang untuk melintasi berbagai medan berat, termasuk jalur Sotek–Bongan yang rusak dan berlumpur saat kunjungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur beberapa bulan lalu.
Jalur tersebut bahkan sempat membuat warga terisolasi pada 2025 karena tidak dapat dilalui ketika musim hujan. Para petani sawit dan padi terpaksa mengambil risiko tinggi untuk membawa hasil panen mereka menuju Simpang Sotek hingga Penajam demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selain menjadi akses utama warga, jalan Sotek–Bongan juga disebut sebagai salah satu jalur strategis yang direncanakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk membuka konektivitas menuju wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Kutai Barat.
Namun kerusakan jalan ini disebut sudah berlangsung lama, bahkan sejak sebelum Kabupaten Penajam Paser Utara dimekarkan dari Kabupaten Paser.
Perwakilan masyarakat, Pendeta Martinus, mengatakan kondisi jalan saat ini sangat memprihatinkan dan berisiko bagi pengguna jalan. Ia bahkan mengaku sempat mengalami kecelakaan saat melintas bersama keluarganya.
“Kondisinya parah. Kemarin saya jatuh, sampai sekarang dada masih sakit akibat terjungkal saat mengendarai motor bersama istri dan anak saya,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Menurut Martinus, perbaikan yang selama ini dilakukan belum memberikan dampak signifikan karena hanya berupa penggalian dan penimbunan tanpa pengerasan yang memadai.
Akibatnya, ketika hujan turun, jalan kembali berubah menjadi lumpur tebal dan sangat licin untuk dilalui kendaraan.
Martinus yang rutin melintasi jalur tersebut setiap pekan untuk melayani jemaat GKRI di wilayah Sotek Kilometer 32 mengatakan hampir seluruh ruas sepanjang sekitar 25 kilometer dari simpang menuju lokasi pelayanan berada dalam kondisi rusak.
“Kendaraan masih bisa lewat, tapi risikonya besar. Bisa nyangkut, patah as, putus rantai,” katanya.
Ia juga pernah mengalami situasi sulit ketika kendaraan yang digunakannya terjebak lumpur hingga tidak bisa melanjutkan perjalanan. Saat itu ia bahkan terpaksa menginap di kebun warga karena roda dan rantai kendaraan terkunci lumpur.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada mobilitas masyarakat, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi petani yang membawa hasil kebun seperti sawit, pisang, hingga cabai.
Martinus berharap pemerintah daerah bersama perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut dapat turut berkontribusi dalam penanganan jalan.
“Minimal ada perhatian. Kalau belum bisa diperbaiki permanen, setidaknya ada solusi sementara, termasuk penyediaan angkutan yang lebih layak. Bahkan setiap setengah kilometer ban dan rantai harus dibersihkan karena terkunci lumpur tebal,” ujarnya.
Warga pun berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar akses transportasi di jalur tersebut dapat diperbaiki sehingga tidak lagi membahayakan keselamatan masyarakat.
“Risiko ini sudah terlalu lama kami hadapi. Kami hanya ingin akses yang aman untuk bertahan dan beraktivitas,” tutupnya.(tin/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



