KaltimSamarindaZona Kampus

UPA BK Unmul Ajak Mahasiswa Ubah Konflik Jadi Kolaborasi

Psikoedukasi Manajemen Konflik oleh UPA BK, Samarinda (Foto: Editorialkaltim/Afra)

Editorialkaltim.com – Konflik hingga perbedaan pendapat kerap mewarnai dinamika organisasi mahasiswa. Unit Penunjang Akademik Bimbingan dan Konseling (UPA BK) Universitas Mulawarman (Unmul) membekali mahasiswa dengan kemampuan komunikasi dan manajemen konflik agar persoalan tidak menghambat jalannya organisasi.

Pembekalan tersebut dikemas melalui kegiatan psikoedukasi bertajuk Conflict to Collaboration: Membangun Komunikasi dan Manajemen Konflik yang Efektif dalam Organisasi Mahasiswa. Kegiatan berlangsung di Kantor Rektorat Unmul, Kamis (9/7/2026).

Mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unmul diajak memahami cara menghadapi konflik, membangun komunikasi efektif, hingga mencari solusi yang menguntungkan semua pihak.

Baca  Dinsos Kaltim Minta RT hingga Kelurahan Aktif Pantau Warga

Ketua UPA BK Unmul Andi Irawan mengatakan kegiatan tersebut juga digelar untuk menepis stereotip mahasiswa yang aktif berorganisasi kerap mengabaikan perkuliahan dan prestasi akademik.

“Streotype yang biasa terjadi yaitu fokus di organisasi sehingga melupakan prestasi-prestasi yang harus dicapai. Kita ingin seimbang ketiga hal ini, aktif organisasi, mendapat ipk tinggi, dan memiliki prestasi yang membanggakan,” ungkap Andi, Kamis (9/7/2026).

Menurutnya, mahasiswa perlu mampu menyeimbangkan aktivitas organisasi, capaian akademik, dan prestasi. Kemampuan mengelola konflik menjadi salah satu bekal penting agar mahasiswa dapat menjalankan organisasi secara sehat dan produktif.

Sementara itu, narasumber kegiatan Inggrid Delta Sintara mengatakan konflik dalam organisasi mahasiswa umumnya dipicu komunikasi yang tidak berjalan baik, ego pribadi, perbedaan tujuan, hingga kepentingan tertentu.

Baca  Gubernur Rudy Ingatkan Kaltim Lepas Ketergantungan Dana Transfer Pusat

“Biasanya konflik paling sering terjadi adalah komunikasi yang tidak tersampaikan dengan baik atau memaksakan kehendak,” katanya.

Inggrid menjelaskan konflik organisasi dapat diselesaikan melalui negosiasi dan penerapan komunikasi asertif. Pola komunikasi tersebut memungkinkan seseorang menyampaikan pendapat secara tegas tanpa menyakiti atau merendahkan pihak lain.

“Gaya komunikasi asertif adalah bagaimana cara kita dalam menyusun dan mengolah kalimat tanpa menyakiti dan merendahkan pihak lain. Kedua negoisasi yaitu proses mencari solusi untuk menguntungkan kedua belah pihak,” jelasnya.

Baca  Sri Wahyuni Ajak Warga Jadikan Olahraga Gaya Hidup

Selain kemampuan berkomunikasi, mahasiswa juga diminta memiliki kesadaran diri terhadap tujuan awal mengikuti organisasi. Konflik yang muncul, kata Inggrid, sebaiknya segera diselesaikan dan tidak dibiarkan berlarut-larut.

“Apabila konflik terjadi karena faktor logika, berikan penjelasan. Sedangkan, bila konflik terjadi disebabkan emosi, berikan empati. Ketika terjadi konflik kita harus membaca situasi dan memilih gaya komunikasi yang sesuai,” tutupnya. (afr/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button