KaltimKukarZona Kampus

KKN Amerta Mahakam Sulap Sampah Jadi Tabungan di Sungai Mariam

Program kerja Edukasi Keuangan, Kelompok KKN Kolaborasi dari Universitas Mulawarman dan Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur, Amerta Mahakam, melaksanakan implementasi perdana Bank Sampah (Foto: Dok KKN Amerta Mahakam)

Editorialkaltim.com – Bank Sampah di Desa Sungai Mariam, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, kembali digerakkan. Kali ini, sampah rumah tangga tak sekadar dikumpulkan, tetapi juga dikonversi menjadi nilai ekonomi yang tercatat dalam buku tabungan.

Upaya tersebut digagas Kelompok KKN Kolaborasi Universitas Mulawarman (Unmul) dan Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur (UNU Kaltim) Amerta Mahakam. Mereka melaksanakan implementasi perdana sekaligus meresmikan Buku Tabungan Bank Sampah di Desa Sungai Mariam.

Program tersebut turut melibatkan Bank Sampah Fakultas Pertanian Unmul yang telah berpengalaman dalam pengelolaan sampah. Pengalaman itu menjadi salah satu rujukan mahasiswa KKN untuk mengembangkan kembali Bank Sampah Sungai Mariam agar lebih terarah dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Ketua KKN Kolaborasi Amerta Mahakam Desa Sungai Mariam, Ekmal Muhammad Firyal, mengatakan Bank Sampah dirancang terhubung dengan sejumlah program kerja lainnya, mulai sektor perikanan hingga penanganan stunting.

“Program kali ini kami lagi menjalankan terkait bank sampah, dimana dari bank sampah ini terintegrasi juga dengan program-program kerja lainnya, dari sentra perikanan dan juga stunting. Dari sampah organik yang kami kumpulkan dan juga sampah anorganik yang menjadi investasi buku tabungan yang kami luncurkan pada hari ini, yaitu buku tabungan bank sampah,” jelas Ekmal melalui rilis yang diterima redaksi editorialkaltim.com, Senin (24/8/2026).

Melalui skema tersebut, masyarakat dapat memilah sampah dari rumah sebelum menyetorkannya ke Bank Sampah di Sarimas, Desa Sungai Mariam. Sampah yang disetorkan kemudian dihitung dan nilainya dicatat dalam buku tabungan.

Baca  Evaluasi Program Pertanian dan Infrastruktur, Bupati Kutai Kartanegara Dorong Perbaikan Data

Menurut Ekmal, konsep tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi keuangan sederhana bagi keluarga. Masyarakat dikenalkan dengan kebiasaan mencatat dan menyimpan nilai ekonomi yang diperoleh dari sampah.

“Ini akan menjadi catatan dan membuat keuangan mandiri di keluarga Desa Sungai Mariam. Dan ini pertama kali juga bank sampah dijalankan dalam bentuk bangunan dan mempunyai buku tabungan, terintegrasi dan juga terorganisir,” lanjut Ekmal.

Tak hanya sampah anorganik, sampah organik juga dirancang masuk dalam skema ekonomi sirkular. Sampah organik dapat dimanfaatkan untuk pengembangan maggot yang selanjutnya digunakan sebagai alternatif pakan ikan dalam program Sentra Perikanan.

Hasil perikanan tersebut nantinya diharapkan dapat mendukung ketersediaan sumber pangan bergizi bagi masyarakat, termasuk sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.

Sekretaris Desa Sungai Mariam, Sariati, menyambut positif kembali berjalannya Bank Sampah. Menurutnya, selama ini pengelolaan sampah telah dilakukan melalui pengangkutan petugas, tetapi Bank Sampah bisa membantu menekan volume sampah sejak dari rumah.

“Sangat perlu diadakan karena kita sudah ada pengelolaan sampah yang dikumpulkan, yang sudah diambil oleh PR. Kalau misalnya kita ada bank sampah lagi yang dihidupkan kembali, lebih banyak lagi, apapun misalnya bank sampahnya ada dua, tiga atau berapapun, satu juga tidak masalah. Intinya ada supaya bisa mengurangi penumpukan yang ada di TPS dan di TPU,” ungkap Sariati.

Sariati menilai pemilahan menjadi kunci agar sampah yang dihasilkan masyarakat tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan. Selain mengurangi penumpukan, sebagian sampah masih bisa diolah dan memberikan nilai tambah.

Baca  Pupuk Kaltim Siap Bangun Pabrik Soda Ash Pertama di Indonesia

“Sangat penting, karena selama ini polemiknya di masyarakat itu adalah penumpukannya di masing-masing rumah. Kalau misalnya dipilah, masyarakat sudah paham akan sampah ini bisa menghasilkan, bisa juga dibuang dengan meminimalisir, bisa lebih sedikit dari dipilah, bisa diolah jadi pupuk, bisa dijadikan hasil ekonomi,” jelasnya.

Ia berharap program tersebut tak berhenti setelah masa KKN berakhir. Edukasi Bank Sampah, kata dia, sebenarnya pernah dilakukan sebelumnya, tetapi pemahaman dan partisipasi masyarakat masih perlu diperkuat.

“Jadi memang berharap sekali setelah KKN ini kita dapat membuka mata lagi kembali tentang bank sampah. Semoga masyarakat bisa mengumpulkan kembali sampahnya, bisa mengerti bahwa bank sampah itu juga tidak hanya bermanfaat untuk sampah, tapi bermanfaat untuk pribadinya masyarakat, bisa menghasilkan ekonominya,” tutur Sariati.

Dukungan serupa disampaikan perwakilan Kecamatan Anggana, Linawati. Ia melihat Bank Sampah memiliki potensi karena dapat membantu mengatasi persoalan lingkungan sekaligus memberikan tambahan nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Sangat luar biasa ya, jadi sampah-sampah yang ada di Sungai Mariam ini bisa tertampung dan ini juga bisa untuk ekonomi masyarakat yang ada di sini, untuk menambah pemasukan. Jadi sampah yang ada di rumah tidak terbuang begitu saja, ada manfaatnya, bisa menghasilkan,” ujar Linawati.

Linawati berharap konsep serupa nantinya dapat berkembang ke desa-desa lain di Kecamatan Anggana.

Baca  Rusdi Tekankan Pengawasan Harga dan Bapok Guna Kestabilan Harga di Pasar

“Sangat luar biasa sekali potensinya. Kalau ini terus berjalan sih bagus, bagus sekali. Saya mendukung sekali. Dan ini juga tidak cuma di Sungai Mariam, kalau bisa seluruh desa yang ada di Kecamatan Anggana ini semua ada bank sampahnya,” harapnya.

Keberlanjutan program juga menjadi perhatian pemerintah kecamatan. Linawati berharap pemerintah desa dan kecamatan dapat ikut memfasilitasi Bank Sampah setelah mahasiswa menyelesaikan masa KKN.

“Sangat berharap sekali ya ini berlanjut. Mudah-mudahan nanti dari desa, dari kecamatan juga bisa memfasilitasi supaya ini tidak berhenti sampai di sini saja, tidak berhenti sampai di anak-anak KKN saja, tapi nanti kita juga bisa mengupayakan bank sampah ini tetap berlanjut,” ungkap Linawati.

Ekmal pun berharap sistem yang mulai dijalankan tersebut dapat diteruskan pemerintah desa dan kecamatan. Terlebih, fasilitas Bank Sampah di Sungai Mariam sebenarnya telah tersedia, tetapi sebelumnya belum aktif.

“Harapan saya di sini, apa yang sudah kami perbuat di sini bisa diteruskan oleh pemerintah desa ataupun pemerintah kecamatan. Karena menurut saya terkait sampah ini tidak asing lagi di Desa Sungai Mariam. Masalah-masalah ini sudah pernah dibahas dan untuk bangunan di belakang ini sebelumnya sudah terbangun tapi belum digerakkan. Nah, pada hari ini kami resmi menggerakkan bank sampah,” jelasnya.(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button