KaltimSamarindaZona Kampus

Emas Hijau Pesisir Kaltim: Silvofishery Jadi Jangkar Ketahanan Pangan dan Kemakmuran Nelayan

Refleksi Ilmiah dan Arah Kebijakan Pengelolaan Mangrove Berkelanjutan

Penulis: Prof. Dr. Esti Handayani Hardi, S.Pi., M.Si – Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Mulawarman

Editorialkaltim.com – Wilayah pesisir Kalimantan Timur (Kaltim) bukan sekadar garis batas antara daratan dan laut lepas. Kawasan ini menjadi pusat aktivitas ekonomi sekaligus lumbung pangan protein hewani bagi jutaan penduduk.

Namun, perjalanan pengelolaan pesisir Benua Etam menyisakan persoalan ekologis. Berhektare-hektare bentang mangrove dari Delta Mahakam hingga perairan Teluk Balikpapan dan Babulu sempat terkoyak akibat ekspansi tambak monokultur udang konvensional.

Data global Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) melalui laporan The State of World Fisheries and Aquaculture (SOFIA) mencatat produk perikanan dunia kini lebih didominasi akuakultur dibandingkan perikanan tangkap seperti sebelum era 2022.

Kondisi tersebut berjalan beriringan dengan tekanan terhadap ekosistem mangrove. Sekitar 38 persen deforestasi mangrove dunia dipicu pembukaan tambak akuakultur. Sementara sekitar 20 persen luas mangrove dunia kini berstatus terancam atau sangat terancam punah.

Padahal, sekitar 4,1 juta nelayan menggantungkan kehidupannya secara langsung pada kelestarian ekosistem lahan basah tersebut.

Situasi itu membuat arah pembangunan ekonomi pesisir Kaltim perlu bergeser. Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah silvofishery atau Integrated Mangrove Aquaculture (IMA).

Konsep tersebut dipaparkan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Mulawarman, Prof. Dr. Esti Handayani Hardi, S.Pi., M.Si., berdasarkan hasil riset empiris.

Silvofishery menunjukkan perlindungan alam tidak harus berhadapan dengan kesejahteraan petambak. Pelestarian dan rehabilitasi mangrove justru dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan akuatik, meningkatkan produksi panen, serta memperbaiki taraf hidup masyarakat pesisir Kaltim.

Menata Lanskap Tambak dengan Silvofishery

Secara konseptual, silvofishery merupakan model budi daya perairan berwawasan lingkungan dengan kepadatan rendah. Sistem ini secara terencana mempertahankan, memulihkan, atau merehabilitasi mangrove di dalam maupun sekitar kolam produksi.

Model tersebut memadukan fungsi produksi pangan akuatik dengan jasa ekosistem mangrove.

Silvofishery bukan model kaku dengan satu format. Penerapannya dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah. Di Kaltim, sistem ini umumnya diterapkan melalui dua tipologi utama.

Pertama, mangrove di sekitar tambak atau buffer zone/greenbelt. Sabuk vegetasi mangrove dipertahankan pada pematang, dinding kolam, atau saluran pasang surut sebagai zona penyangga ekologis sekaligus penahan abrasi alami.

Kedua, mangrove di tengah tambak atau empang parit/kao-kao/komplangan. Jalur dan rumpun mangrove ditanam membentuk formasi pulau-pulau vegetasi di dalam badan kolam atau tanggul bagian dalam sehingga terintegrasi langsung dengan produksi tambak.

Vegetasi mangrove yang terjaga kemudian bekerja sebagai infrastruktur ekologis multifungsi. Setidaknya terdapat tiga jasa lingkungan fundamental.

Pertama, sebagai nursery and shelter ground atau tempat memijah, berkembang biak, dan perlindungan biota. Sistem akar tunjang Rhizophora dan naungan tajuk mangrove menjadi tempat berlindung, mencari pakan alami, serta ruang pembesaran bagi anakan udang windu, kepiting bakau, dan benih ikan liar dari predator maupun cuaca ekstrem.

Kedua, mangrove berfungsi sebagai pabrik pakan alami sekaligus penjaga kualitas air. Guguran serasah daun mangrove terdekomposisi menjadi partikel detritus kaya mikroba dan perifiton. Proses ini membantu menjebak sedimen tersuspensi, mendaur ulang nutrisi esensial, serta mencegah akumulasi amonia dan gas beracun.

Ketiga, mangrove menjadi benteng ketahanan pesisir dan adaptasi perubahan iklim. Vegetasi tersebut membantu melindungi garis pantai dari gelombang pasang, abrasi, badai siklon, serta tren kenaikan muka air laut. Fungsi ini sekaligus menjadi jaring pengaman mata pencaharian rumah tangga pesisir yang rentan.

Baca  DPRD Samarinda Minta Anggaran Dinsos Ditambah

Riset di Kukar dan PPU

Riset komparatif tim peneliti Universitas Mulawarman di dua sentra pesisir Kaltim, yakni Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar), dan Babulu Laut, Penajam Paser Utara (PPU), menunjukkan perbedaan sejumlah parameter antara tambak silvofishery dan tambak tradisional konvensional atau non-silvofishery.

Kualitas Air dan Substrat Lebih Terkendali

Tambak silvofishery mencatat stabilitas sejumlah parameter biogeokimia perairan.

Oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) di tambak silvofishery Kukar mencapai 5,3 mg/L. Angka itu lebih tinggi dibandingkan tambak konvensional yang tercatat 3,3 mg/L.

Di PPU, DO tambak silvofishery mencapai 4,6 mg/L, sedangkan tambak non-silvofishery 4,2 mg/L.

Kejernihan air tambak silvofishery berada pada rentang 0,4 meter, sesuai baku mutu 0,3–0,4 meter. Sementara tambak konvensional tercatat 0,9 meter.

Temuan penting lainnya berkaitan dengan mitigasi risiko tanah sulfat masam. Di Kukar, kandungan pirit (FeS₂) pada tambak silvofishery tercatat 12,31 persen. Angka itu kurang dari separuh kandungan pirit tambak konvensional yang mencapai 25,49 persen.

Penurunan pirit penting karena pirit yang teroksidasi saat terpapar udara dapat melepaskan asam sulfat pekat dan ion logam beracun. Kondisi tersebut kerap menjadi salah satu pemicu kematian massal benur udang windu.

Di sisi lain, kandungan fosfor tersedia (P₂O₅) di Kukar mencapai 52,2 ppm pada tambak silvofishery. Angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan tambak konvensional yang hanya 8,79 ppm.

Tabel 1: Perbandingan Parameter Kualitas Air dan Tanah Tambak di Kaltim

Sumber: Hardi et al., 2026

Parameter Kualitas LingkunganStandar Baku MutuKutai Kartanegara (SF)Kutai Kartanegara (Non-SF)Penajam Paser Utara (SF)Penajam Paser Utara (Non-SF)
Oksigen Terlarut (DO)>3,0 mg/L5,3 mg/L3,3 mg/L4,6 mg/L4,2 mg/L
Kandungan Pirit (FeS₂)Rendah = Bebas Asam12,31%25,49%12,59%11,77%
Kejernihan Air0,3–0,4 meter0,4 m (Optimal)0,9 m (Terlalu Keruh)0,4 m (Optimal)0,9 m (Terlalu Keruh)
Fosfor Tersedia (P₂O₅)Penyubur Alami52,2 ppm8,79 ppmTercukupiRendah

Biodiversitas 2,6 Kali Lipat

Perbedaan juga terlihat dari biodiversitas di tambak.

Di perairan Babulu Laut, PPU, tambak silvofishery mencatat kelimpahan total 26 jenis plankton dan bentos. Jumlah tersebut 2,6 kali lipat dibandingkan tambak konvensional yang hanya mencatat 10 jenis.

Struktur komunitas fitoplankton menunjukkan rasio 17:7 untuk silvofishery dibandingkan non-silvofishery. Zooplankton tercatat 3:1, sedangkan protozoa 4:0.

Diatom bernutrisi tinggi juga ditemukan, seperti Chaetoceros, Skeletonema costatum, Thalassiotrix frauenfeldii, dan Biddulphia mobiliensis. Selain itu, terdapat gastropoda bioindikator Chicoreus capucinus.

Keberadaan organisme tersebut menunjukkan jaring makanan alami di tambak mangrove berfungsi aktif mendaur ulang serasah menjadi pakan hidup bermutu tinggi.

Kelangsungan Hidup Naik, Pendapatan Petambak Bertambah

Kondisi lingkungan mikro yang stabil berdampak langsung terhadap tingkat kelangsungan hidup atau survival rate (SR) komoditas budi daya.

Selisih SR antara sistem silvofishery dan konvensional rata-rata mencapai sekitar 22 poin persentase.

Pada udang windu di PPU, SR silvofishery mencapai 72 persen, sedangkan non-silvofishery 40 persen. Di Kukar, SR udang windu pada silvofishery mencapai 60,1 persen dibandingkan 42 persen pada non-silvofishery.

Perbedaan juga terjadi pada ikan bandeng. SR silvofishery di Kukar mencapai 69,6 persen dibandingkan 48 persen pada tambak konvensional. Sementara di PPU, perbandingannya mencapai 60 persen dan 42 persen.

Tingkat kelangsungan hidup tersebut kemudian berpengaruh terhadap pendapatan petambak.

Dengan bobot panen per ekor relatif setara tetapi volume populasi panen lebih besar, pendapatan tahunan petambak silvofishery diperkirakan 50–60 persen lebih tinggi dibandingkan tambak konvensional dengan asumsi tiga siklus panen per tahun.

Baca  Hampir Separuh Peserta Cek Kesehatan di IKN Kolesterol Tinggi

Tabel 2: Analisis Komparasi Finansial Tahunan Petambak di Kaltim

Estimasi tiga siklus panen. Sumber: Hardi et al., 2026

Wilayah Sentra TambakPendapatan Silvofishery/TahunPendapatan Non-Silvofishery/TahunSelisih Keuntungan Tambahan
Kutai Kartanegara (Delta Mahakam)Rp552.000.000 (Panen: 500 kg udang + 5.800 kg bandeng/siklus)Rp364.800.000 (Panen: 350 kg udang + 4.000 kg bandeng/siklus)+Rp187.200.000/tahun (+51,3%)
Penajam Paser Utara (Babulu Laut)Rp462.600.000 (Panen: 450 kg udang + 5.000 kg bandeng/siklus)Rp289.500.000 (Panen: 250 kg udang + 3.500 kg bandeng/siklus)+Rp173.100.000/tahun (+59,8%)

Cita Rasa Umami Alami dan Potensi Ikan Non-Ekonomis

Temuan lain dalam paparan Prof. Esti berkaitan dengan pembuktian biokimiawi kualitas daging atau meat quality hasil budi daya silvofishery.

Udang windu yang dipanen dari tambak dengan vegetasi mangrove terbukti memiliki rasa lebih gurih alami dan manis segar. Tekstur dagingnya juga kenyal, padat, dan kompak.

Karakter rasa dan mutu gizi tersebut dijelaskan melalui tiga mekanisme metabolisme alami.

Pertama, udang kaya asam amino pembentuk rasa. Asam glutamat dan asam aspartat yang dominan memberikan rasa gurih alami atau umami flavor. Sementara glisin dan alanin memberikan rasa manis khas hidangan laut segar bermutu ekspor.

Kedua, daging menjadi lebih padat dan terbebas dari tekanan stres oksidatif. Kandungan asam amino esensial seperti arginin, lisin, leusin, dan valin meningkat dan mendorong sintesis protein somatik.

Naungan mangrove juga membantu mengurangi stres lingkungan akibat fluktuasi suhu dan pH sehingga udang tidak perlu memecah protein otot secara berlebihan untuk bertahan hidup.

Ketiga, daging kaya asam lemak tak jenuh ganda atau PUFA/Omega-3. Kandungan tersebut meliputi EPA (C20:5n3), DHA (C22:6n3), serta Omega-6 berupa asam arakidonat dan linoleat.

Kandungan itu membantu menjaga elastisitas membran sel daging sekaligus memberikan potensi sebagai pangan fungsional untuk mendukung kesehatan kardiovaskular dan perkembangan otak.

Mengangkat By-catch Menjadi Pangan Fungsional

Potensi pangan pesisir Kaltim tidak hanya berasal dari komoditas utama tambak.

Selama puluhan tahun, sejumlah spesies ikan tangkapan sampingan atau by-catch non-ekonomis di sekitar tambak cenderung dipandang memiliki nilai rendah. Ikan tersebut umumnya hanya diasinkan, dijadikan tepung pakan, atau bahkan tidak dimanfaatkan.

Padahal, identifikasi taksonomi mencatat sembilan spesies potensial di PPU. Di antaranya Common pony fish (Leiognathus equula), Yellowlipped threadfin (Nemipterus virgatus), Lizardfish (Saurida tumbil), Longfin African conger (Conger cinereus), Chacunda gizzard shad, dan White sardinella.

Sementara di Muara Badak ditemukan lima spesies, di antaranya Moonfish, Bali sardinella, Slender sardine, dan Sicklefish.

Uji biokimia menunjukkan ikan-ikan tersebut memiliki kadar protein tinggi. Famili Sardinella mengandung protein sekitar 20,5–23,2 persen.

Profil asam lemaknya juga potensial. Lizardfish mencatat kadar DHA sebesar 9,03 persen. Yellowlipped threadfin memiliki total asam lemak 67,65 persen dengan kandungan asam oleat 9,77 persen. Sementara Common pony fish di Muara Badak kaya EPA sebesar 7,63 persen.

Spesies-spesies tersebut juga melimpah di pesisir Paser, seperti Tanjung Aru, Muara Paser, dan Long Ikis.

Potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber pangan lokal bergizi tinggi untuk mendukung pencegahan stunting sekaligus diintegrasikan ke dalam rantai pasok industri pangan olahan.

Membuka Jalan ke Pasar Ekspor Premium

Keunggulan ekologis silvofishery turut membuka peluang komoditas perikanan Kaltim memasuki pasar ritel premium global melalui sertifikasi akuakultur organik atau Low External Input Sustainable Aquaculture (LEISA).

Sertifikasi internasional tersebut dapat memberikan akses terhadap harga premium sekaligus mengurangi ketergantungan petambak terhadap fluktuasi harga di tingkat tengkulak.

Baca  Gubernur Harum Dorong Percepatan Program Prioritas di Kaltim

Salah satunya Naturland Organic Aquaculture Standard dari Jerman. Standar ini telah diterapkan pada udang silvofishery di Kalimantan Utara dan Jawa Timur. Salah satu persyaratannya adalah merestorasi dan mengonservasi minimal 50 persen tutupan mangrove di area tambak.

Kemudian terdapat EU Organic Aquaculture Standard melalui Regulasi Uni Eropa Nomor 2018/848. Standar ini menjadi ketentuan kepatuhan untuk memasarkan produk udang berlogo EU Green Leaf di jaringan supermarket Uni Eropa.

Selain itu, terdapat Bio Suisse dari Swiss dan USDA National Organic Program (NOP) Amerika Serikat. Standar tersebut menggunakan tolok ukur kelestarian ekologi, kesejahteraan sosial tenaga kerja, serta ketertelusuran atau traceability yang ketat.

Dari sisi sosial, silvofishery juga memperkuat empat dimensi kehidupan masyarakat pesisir.

Pertama, diversifikasi pendapatan rumah tangga. Kedua, pengakuan terhadap peran perempuan sebagai pengumpul benur, pengolah pascapanen, dan pemasar lokal.

Ketiga, pemenuhan mikronutrien padat seperti zat besi, kalsium, dan Omega-3 bagi anak-anak pesisir. Keempat, menjadi jaring pengaman ekonomi bagi keluarga nelayan yang tidak memiliki lahan.

Enam Pilar Kebijakan untuk Pemangku Kepentingan

Silvofishery bukan sekadar formula teknis pengelolaan tambak. Pendekatan ini juga menjadi bagian dari rekayasa sosial-ekologis.

Keberhasilannya membutuhkan payung kebijakan yang kuat serta mitigasi risiko dari Pemerintah Provinsi Kaltim, Pemerintah Kabupaten Kukar, Pemerintah Kabupaten PPU, Pemerintah Kabupaten Paser, serta Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN).

Ada enam pilar kebijakan strategis yang perlu dijalankan.

Pertama, prinsip tanpa konversi hutan utuh atau Zero Primary Deforestation. Silvofishery dan rehabilitasi mangrove hanya boleh diprioritaskan pada tambak eksisting yang terlantar atau kawasan terdegradasi. Konsep silvofishery tidak boleh digunakan sebagai alasan membuka hutan mangrove primer yang masih utuh.

Kedua, kepastian tata ruang dan hak kelola tenurial. Peta sebaran mangrove perlu dikonsolidasikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan RZWP3K. Kepastian hukum akses kelola juga diperlukan bagi Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Kelompok Pengelola Mangrove Desa (KPMD).

Ketiga, kemandirian hatchery dan penghentian eksploitasi benih liar. Unit pembenihan udang windu dan kepiting bakau berbasis Specific Pathogen Free (SPF) perlu dibangun secara lokal agar petambak tidak terus menguras benih alami dari alam.

Keempat, mitigasi perubahan iklim dan sabuk hijau pesisir. Menghadapi ancaman banjir rob dan badai pasang ekstrem, petambak perlu didampingi untuk membangun sabuk mangrove ganda atau double-row belt serta memperbaiki tata air dan pintu darurat.

Kelima, Sekolah Lapang Pesisir dan penguatan koperasi desa. Petambak perlu mendapatkan edukasi melalui Sekolah Lapang terkait formulasi pakan alami/phytoimun dan pengendalian pirit. Koperasi desa juga perlu diperkuat sebagai penyangga stabilitas harga pasar.

Keenam, kolaborasi aktor pentahelix. Perlu dibangun repositori dan gugus tugas terpadu yang menghubungkan Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Rehabilitasi Mangrove/Forest Programme VI, Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim, FPIK Universitas Mulawarman, mitra pembangunan internasional, serta asosiasi petambak.

Warisan Biru untuk Generasi Benua Etam

Merawat mangrove bukan semata beban biaya konservasi. Ekosistem ini merupakan investasi jangka panjang sekaligus bagian penting dari lumbung pangan masa depan.

Fakta ilmiah yang dipaparkan FPIK Universitas Mulawarman menunjukkan tambak yang mempertahankan vegetasi mangrove memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan tambak konvensional.

Keunggulan tersebut terlihat dari kualitas lingkungan, biodiversitas, tingkat kelangsungan hidup komoditas, volume panen, kualitas daging udang, hingga potensi peningkatan pendapatan petambak.

Kalimantan Timur, terlebih dengan posisi strategisnya sebagai beranda Ibu Kota Nusantara, memiliki momentum untuk menjadi salah satu wilayah pengembangan silvofishery berkelanjutan di tingkat nasional maupun internasional.

Tahap berikutnya adalah bergerak dari sekadar proyek percontohan atau pilot project menuju pengarusutamaan dalam kebijakan pengelolaan pesisir.

Pengembangannya tetap harus berbasis riset, melibatkan masyarakat, menjamin kepastian pengelolaan, serta memastikan hutan mangrove primer tidak dikonversi.

Menjaga mangrove pada akhirnya berarti menjaga ekosistem perikanan, meja makan masyarakat, serta sumber penghidupan warga pesisir.

Dari Delta Mahakam, Babulu Laut hingga pesisir Paser, silvofishery menawarkan jalan untuk mempertemukan produksi pangan dan kelestarian lingkungan sekaligus menjaga kemakmuran generasi pesisir Kalimantan Timur pada masa mendatang.(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button