KaltimKukar

Gubernur Kaltim Setuju Pesantren di Kukar Ditutup Usai Dugaan Pencabulan 12 Santriwati

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud saat memberi sambutan dalam acara Pengukuhan MUI Kaltim (Foto: Editorialkaltim/Adryan)

Editorialkaltim.com – Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menyatakan setuju jika pondok pesantren di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang tersandung kasus dugaan pencabulan terhadap 12 santriwati ditutup.

Menurut Rudy, kasus tersebut tidak hanya mencoreng nama lembaga pendidikan yang bersangkutan, tetapi juga berpotensi merusak citra pesantren sebagai institusi pendidikan keagamaan yang selama ini dipercaya masyarakat.

“Saya setuju pesantren ini ditutup karena memberikan citra negatif dan buruk bagi pesantren di seluruh Indonesia, terkhusus di Kalimantan Timur,” kata Rudy saat memberikan sambutan dalam pengukuhan pengurus MUI Kaltim periode 2025-2030 di Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (23/6/2026).

Baca  Ketua DPRD Kaltim Sebut AMDAL Jadi Kunci Utama Pembangunan Berkelanjutan

Rudy mengaku mengetahui kasus tersebut berdasarkan laporan yang diterima dari Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim.

Ia menilai dugaan pencabulan yang menimpa 12 santriwati merupakan peristiwa yang sangat memprihatinkan. Meski menjadi kabar yang tidak nyaman didengar, Rudy menegaskan kasus tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama agar tidak kembali terulang.

“Berita ini memang tidak nyaman didengar, tetapi menjadi pengingat bagi kita semua agar kejadian yang sama tidak terjadi kembali,” ujarnya.

Baca  Desa Loa Duri Ulu Salurkan BLT-DD April 2025

Politikus Partai Golkar itu juga meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim turut mengambil peran dalam memberikan pandangan dan arahan terkait persoalan tersebut. Menurutnya, ulama memiliki posisi strategis dalam memperkuat pembinaan dan pengawasan terhadap lembaga pendidikan berbasis keagamaan.

Ia menekankan, kasus yang terjadi di Kukar jangan sampai menggerus kepercayaan masyarakat terhadap pesantren. Sebab, pesantren selama ini dikenal sebagai salah satu pilar pendidikan tertua yang berperan besar dalam membentuk karakter dan moral generasi bangsa.

Baca  Kukar Pecahkan Rekor Jadi Tuan Rumah Pickleball dengan Peserta Terbanyak di Indonesia

Karena itu, Rudy berharap seluruh pihak dapat menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum untuk memperkuat sistem pengawasan serta perlindungan terhadap santri di lingkungan pendidikan keagamaan.

“Sekali lagi ini menjadi perhatian kita semua. Jangan sampai mencoreng nama pesantren-pesantren berbasis keagamaan,” pungkasnya. (adr/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button