Pengamat Tagih Janji Gubernur Bersih-bersih Perusda Kaltim

Editorialkaltim.com – Penunjukan PT Kaltim Melati Bhakti Satya (KTMBS) sebagai pengelola sementara Mal Lembuswana mendapat sorotan. Pemprov Kalimantan Timur diminta tak sekadar menyerahkan pengelolaan aset, tetapi juga memastikan BUMD tersebut memiliki kapasitas dan rencana bisnis yang jelas.
Pemprov Kaltim menunjuk KTMBS untuk mengelola Mal Lembuswana selama masa transisi selama satu tahun. Masa pengelolaan itu dapat diperpanjang hingga investor baru mengambil alih.
Dalam masa transisi, kawasan Mal Lembuswana direncanakan menghadirkan fasilitas olahraga sebagai salah satu daya tarik baru. Konsep pengembangan juga diharapkan tidak hanya bertumpu pada aktivitas di dalam gedung.
Pemprov Kaltim turut meminta pengelola memperhatikan tenant lama yang telah bertahan sekitar 30 tahun. Bentuk apresiasi dapat berupa insentif, termasuk kemungkinan keringanan biaya.
Pengamat ekonomi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman Purwadi Purwoharsodjo menilai penunjukan BUMD sebagai pengelola sementara merupakan langkah positif. Namun, menurutnya, pemerintah tetap perlu mengevaluasi rekam jejak perusahaan daerah dalam mengelola aset.
“Yang pertama sih oke, bagus saja sih. Walaupun terlambat ya. Itu yang kedua, anggarannya ada enggak,” ujar Purwadi kepada Editorialkaltim.com saat ditemui di ruangannya, Jumat (7/8/2026).
Purwadi mengatakan persoalan pengelolaan Mal Lembuswana tidak hanya berkaitan dengan penunjukan KTMBS. Kesiapan internal perusahaan, kualitas sumber daya manusia hingga mekanisme pemilihan jajaran direksi juga dinilai perlu menjadi perhatian.
Ia menilai kontribusi sejumlah perusahaan daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih perlu ditingkatkan. Karena itu, proses pengisian jabatan di lingkungan BUMD dinilai harus berlangsung transparan dan berbasis kompetensi.
Purwadi juga melontarkan kritik terhadap potensi pengisian jabatan yang tidak didasarkan pada profesionalitas. Pernyataan tersebut merupakan penilaian Purwadi dan tidak secara spesifik menyebut nama maupun perusahaan tertentu.
“Karena kadang-kadang yang jadi direktur tim sukses yang ditunjuk keluarga, pejabat di situ, ya kan? Balas budi politik, orang partai, temannya dia,” katanya.
Menurutnya, pola pengisian jabatan semacam itu berpotensi membuat kinerja perusahaan daerah tidak optimal. Ia pun menagih komitmen Gubernur Kaltim untuk melakukan pembenahan terhadap perusahaan daerah.
“Apalagi janjinya Pak Gubernur selalu gembar-gembor dia mau bersih-bersih Perusda. Nah, buktikan tuh bersih-bersih Perusda,” tegasnya.
Purwadi menilai pergantian jajaran direksi tidak akan banyak mengubah kinerja perusahaan jika tidak dibarengi pembenahan tata kelola dan profesionalisme.
“Kalau itu Perusda mau ganti direktur seribu kali, sampai Belanda balik lagi saya bilang, ya sampai jadi gitu-gitu aja. Sebenarnya nama saja ya, Pak. Ganti nama, ganti orang, enggak pernah support PAD maksimal,” ujarnya.
Khusus Mal Lembuswana, Purwadi meminta pengelola baru menyiapkan rencana bisnis yang matang. Strategi tersebut dinilai penting untuk menentukan konsep pengembangan kawasan sekaligus mengoptimalkan aset yang tersedia.
Ia juga mendorong pengelola berani melakukan perubahan agar Mal Lembuswana mampu bersaing dengan pusat perbelanjaan lain yang lebih baru di Samarinda.
“Harus berani banting setir. Itu kan harus dibongkar itu, Mas. Itu kan wajah lama. Saya datang ke sini, berapa dia, 40 tahun yang lalu,” pungkasnya.
Menurut Purwadi, perubahan konsep menjadi penting karena wajah dan fasilitas kawasan Mal Lembuswana dinilai perlu menyesuaikan perkembangan pusat perbelanjaan di Samarinda. (adr/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



