Nasional

76 Persen Orangutan Kaltim Hidup di Luar Kawasan Konservasi

Petugas saat menggendong Orangutan (Foto: Istimewa)

Editorialkaltim.com – Sebagian besar orangutan di Kalimantan Timur ternyata tidak hidup di dalam kawasan konservasi. Data terbaru menunjukkan sekitar 76 persen populasi orangutan justru berada di luar kawasan perlindungan formal dan tersebar di wilayah konsesi tambang, perkebunan sawit, hutan tanaman industri, hingga area yang berdekatan dengan permukiman warga.

Fakta tersebut terungkap dalam Konsultasi Publik Usulan Peta Indikatif Areal Preservasi Habitat Orangutan Lanskap Keraitan di Samarinda, Jumat (12/6/2026). Sementara hanya sekitar 24 persen populasi orangutan yang masih berada di dalam kawasan konservasi.

Founder Conservation Action Network (CAN), Paulinus Kristanto, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi upaya pelestarian orangutan Kalimantan, khususnya Orangutan Morio (Pongo pygmaeus morio).

“Orangutan yang kita lindungi ternyata berada di luar kawasan yang dikonservasikan,” ujar Paulinus.

Baca  10 Negara Menolak Palestina Merdeka, Termasuk Tetangga Indonesia

Menurutnya, data tersebut menunjukkan perlindungan orangutan tidak lagi bisa hanya mengandalkan taman nasional, suaka margasatwa, atau kawasan konservasi lainnya. Sebab, sebagian besar habitat satwa endemik Kalimantan itu kini berada di bentang alam yang telah dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas ekonomi.

Akibat kondisi tersebut, masyarakat semakin sering menjumpai orangutan di lokasi yang tidak biasa. Satwa itu terlihat melintasi jalan hauling tambang, memasuki kebun sawit, memanjat jaringan listrik, hingga mendekati kawasan permukiman.

Paulinus menjelaskan fenomena itu bukan terjadi tanpa sebab. Kemunculan orangutan di luar habitat alaminya merupakan dampak fragmentasi habitat yang menyebabkan ruang hidup mereka terpecah menjadi kantong-kantong kecil.

“Kenapa orangutan tiba-tiba keluar, berada di tepi jalan, menyeberang jalan hauling atau muncul di permukiman warga? Jawabannya adalah isolasi populasi,” katanya.

Baca  Prajurit Gugur, DPR Desak Pemerintah Segera Tarik Pasukan TNI dari Lebanon

Saat habitat terfragmentasi, orangutan kesulitan berpindah untuk mencari sumber pakan maupun pasangan kawin. Kondisi tersebut memaksa mereka melintasi wilayah yang telah dikuasai manusia.

Persoalan ini terlihat paling nyata di Lanskap Keraitan, Kabupaten Kutai Timur. Kawasan seluas sekitar 560 ribu hektare itu menjadi salah satu habitat terbesar Orangutan Morio di Kalimantan Timur, tetapi juga menjadi pusat aktivitas pertambangan, perkebunan, dan kehutanan.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Ari Wibawanto, mengatakan hampir 70 persen konflik orangutan di Kalimantan Timur terjadi di kawasan tersebut.

“Landscape Keraitan merupakan salah satu landscape yang memiliki populasi orangutan terbanyak. Dari beberapa konflik yang terjadi, data kami hampir sampai 70 persen berada di Landscape Keraitan,” ujarnya.

Baca  Korupsi Bansos Jokowi Rp125 Miliar, KPK Ungkap: Berisi Beras, Minyak Goreng hingga Biskuit

Untuk mengatasi persoalan itu, pemerintah bersama akademisi, organisasi konservasi, dan perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut mulai menyusun Areal Preservasi Habitat Orangutan seluas 101.005 hektare. Kawasan itu dirancang untuk menghubungkan kantong-kantong habitat yang terpisah agar pergerakan orangutan tetap terjaga.

Langkah tersebut dinilai penting karena masa depan orangutan di Kalimantan Timur tidak lagi hanya ditentukan oleh kawasan konservasi negara, tetapi juga oleh komitmen berbagai pihak menjaga habitat yang berada di luar kawasan lindung.(tin/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button