Rupiah Melemah, Pengamat Unmul Sarankan Pilih Investasi Risiko Rendah

Editorialkaltim.com – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang disebut telah menembus Rp18.035 per dolar menjadi perhatian berbagai kalangan. Kondisi tersebut dinilai perlu disikapi secara bijak, terutama dalam mengelola keuangan dan menentukan instrumen investasi.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, Purwadi Purwoharsojo, menyarankan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial di tengah ketidakpastian ekonomi. Menurutnya, investasi dengan tingkat risiko rendah masih menjadi pilihan paling aman, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah.
Ia menilai emas dan properti tetap menjadi instrumen investasi yang relatif stabil dibandingkan pilihan investasi lain yang lebih fluktuatif.
“Kalau untuk masyarakat menengah ke bawah, lebih aman investasi emas atau properti,” ujar Purwadi, Kamis (4/6/2026).
Selain memilih instrumen yang aman, Purwadi juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran investasi digital yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat. Menurutnya, situasi ekonomi yang tidak menentu kerap dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menjalankan praktik penipuan berkedok investasi.
Ia menekankan pentingnya pemahaman sebelum terjun ke dunia perdagangan aset digital maupun aktivitas trading yang berisiko tinggi.
“Hindari ikut-ikutan trading kalau belum paham. Banyak penjahat di dunia digital,” tuturnya.
Purwadi juga menanggapi fenomena sebagian masyarakat yang mulai membeli dolar AS untuk mengambil keuntungan dari pelemahan rupiah. Menurutnya, langkah tersebut tidak tepat jika dilakukan secara masif dan berkelanjutan.
Ia menilai perilaku tersebut justru dapat memperburuk kondisi perekonomian nasional karena meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
“Kalau semua orang melakukan seperti itu, negara bisa jebol,” katanya.
Lebih lanjut, Purwadi menjelaskan dampak pelemahan rupiah berpotensi langsung dirasakan masyarakat. Pasalnya, Indonesia masih bergantung pada sejumlah komoditas impor, seperti beras, gula, dan jagung. Ketergantungan terhadap barang impor membuat harga kebutuhan pokok rentan mengalami kenaikan saat nilai tukar rupiah melemah.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan ekonomi yang konsisten dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha maupun investor. Menurutnya, kepastian kebijakan menjadi faktor utama yang dipertimbangkan investor sebelum menanamkan modal di suatu negara.
Purwadi menambahkan, perubahan kebijakan yang terlalu sering atau muncul secara tiba-tiba berpotensi menimbulkan ketidakpastian di pasar dan mengurangi kepercayaan investor.
“Investor itu menunggu kepastian. Kalau kebijakannya penuh kejutan, pasar jadi galau,” pungkasnya. (adr/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



