Belajar dari Como 1907, Klub Indonesia Jangan Hanya Hidup dari Hasil Pertandingan

Oleh: M. Faris Taqiyuddin
Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS)
Editorialkaltim.com – Sepak bola modern telah mengalami perubahan besar. Klub tidak lagi dinilai semata dari jumlah trofi atau posisi di klasemen, melainkan dari kemampuan membangun identitas, mengelola bisnis, menjaga hubungan dengan suporter, serta menciptakan sistem yang berkelanjutan.
Gambaran tersebut terlihat dalam perjalanan Como 1907 yang disampaikan Presiden Como 1907, Mirwan Suwarso, dalam sebuah podcast bersama Helmy Yahya. Dari kisah yang disampaikan, tampak bahwa sepak bola modern tidak hanya berbicara soal menang atau kalah selama 90 menit di lapangan.
Di balik kebangkitan Como 1907 terdapat visi jangka panjang yang dibangun secara serius. Klub tidak hanya fokus merekrut pemain atau mengganti pelatih saat hasil buruk datang. Mereka membangun identitas, memperkuat komunitas, mengembangkan merek, serta menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan.
Lalu muncul pertanyaan, apakah model seperti Como 1907 dapat diterapkan di Indonesia?
Jawabannya tentu tidak bisa disamakan begitu saja. Italia memiliki sejarah sepak bola yang panjang, sistem liga yang relatif stabil, infrastruktur memadai, dan industri olahraga yang telah berkembang selama puluhan tahun. Sementara itu, sepak bola Indonesia masih berada dalam proses memperkuat fondasi profesionalisme.
Meski demikian, ada satu hal penting yang dapat dipelajari klub-klub Indonesia, yakni cara berpikir dalam membangun klub sepak bola modern.
Terjebak Mentalitas Jangka Pendek
Salah satu persoalan paling nyata dalam sepak bola Indonesia adalah budaya instan. Banyak klub masih terlalu berorientasi pada hasil cepat tanpa membangun fondasi yang kuat.
Ketika tim mengalami beberapa kekalahan, posisi pelatih langsung terancam. Fenomena pergantian pelatih yang terlalu cepat sudah menjadi pemandangan biasa di Liga 1. Padahal, filosofi permainan dan proyek jangka panjang tidak mungkin terbentuk apabila arah kebijakan terus berubah setiap musim.
Akibatnya, banyak klub tidak memiliki identitas permainan yang jelas. Musim ini bermain menyerang, musim berikutnya berubah menjadi defensif mengikuti karakter pelatih baru. Kesinambungan sistem pun sulit terbangun.
Persoalan lain adalah ketergantungan terhadap figur tertentu. Saat pemilik modal mundur atau sponsor utama menghentikan dukungan, kondisi keuangan klub langsung terguncang. Bahkan, tidak sedikit klub yang mengalami krisis karena belum memiliki model bisnis yang mandiri.
Di sinilah perbedaan antara klub modern dan klub yang hanya hidup dari kompetisi ke kompetisi. Klub modern membangun fondasi bisnis melalui berbagai sumber pendapatan, mulai dari merchandise, keanggotaan, media digital, akademi, sponsor jangka panjang, hingga aktivitas komunitas.
Sebaliknya, sebagian besar klub Indonesia masih bergantung pada penjualan tiket dan suntikan dana pemilik. Padahal, sepak bola saat ini telah berkembang menjadi industri bernilai besar.
Suporter Sudah Berkembang, Klub Belum Sepenuhnya Mengikuti
Dari sisi fanatisme dan loyalitas, Indonesia tidak kalah dibanding negara-negara dengan tradisi sepak bola kuat. Stadion tetap dipenuhi suporter setia hampir setiap pekan.
Basis pendukung klub seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, hingga Borneo FC Samarinda memiliki identitas sosial yang sangat kuat.
Menariknya, suporter Indonesia kini juga semakin modern. Mereka aktif mengawal isu klub di media sosial, membeli merchandise resmi, mengikuti perkembangan transfer pemain, memproduksi konten kreatif, hingga menjadikan sepak bola sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Hal itu menunjukkan bahwa pasar sepak bola Indonesia sangat besar. Sayangnya, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh manajemen klub. Banyak suporter masih diposisikan sebatas pembeli tiket, bukan sebagai bagian penting dari ekosistem klub.
Padahal, dalam sepak bola modern, suporter merupakan aset utama sebuah merek. Klub-klub Eropa memahami hal tersebut dengan membangun keterlibatan digital, menghadirkan pengalaman eksklusif bagi penggemar, mengembangkan produk gaya hidup, serta memperkuat komunitas pendukung.
Indonesia memiliki modal sosial yang sangat besar untuk melakukan hal serupa. Loyalitas Bobotoh, Jakmania, maupun Bonek dapat menjadi kekuatan ekonomi yang bernilai tinggi apabila dikelola secara profesional.
Identitas Lokal sebagai Kekuatan Klub
Salah satu aspek menarik dari Como 1907 adalah kemampuannya menghubungkan sepak bola dengan identitas daerah.
Klub tersebut tidak berdiri sendiri sebagai tim sepak bola, melainkan terintegrasi dengan potensi wilayah Como yang dikenal melalui Danau Como, industri fesyen, serta komunitas lokal yang kuat.
Karena itu, Como tidak hanya menjual pertandingan. Mereka menjual pengalaman, identitas kota, dan gaya hidup. Sepak bola menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang lebih luas.
Pendekatan serupa sebenarnya dapat diterapkan di Indonesia melalui penguatan identitas lokal. Persib Bandung, misalnya, memiliki peluang besar berkolaborasi dengan industri kreatif dan fesyen yang menjadi salah satu kekuatan Kota Bandung.
Persija Jakarta dapat mengangkat kultur urban ibu kota sebagai bagian dari identitas klub. Sementara Persebaya Surabaya memiliki modal besar melalui kultur Bonek yang kuat dan khas.
Dengan pendekatan tersebut, klub tidak hanya menjadi tim sepak bola, tetapi juga pusat budaya, hiburan, dan gaya hidup masyarakat kota.
Model seperti ini jauh lebih sehat dibanding klub yang hanya bergantung pada hasil pertandingan mingguan. Sebab, performa di lapangan selalu naik turun, sedangkan identitas dan hubungan dengan komunitas dapat bertahan lebih lama.
Perubahan Sudah Dimulai, tetapi Belum Menjadi Arus Utama
Beberapa klub Indonesia sebenarnya mulai bergerak menuju modernisasi. Bali United, misalnya, menjadi klub sepak bola pertama di Indonesia yang melantai di bursa saham melalui penawaran umum perdana saham (IPO).
Langkah tersebut menunjukkan bahwa sepak bola dapat dikelola dengan pendekatan bisnis yang lebih profesional dan transparan.
Di sisi lain, Borneo FC Samarinda mulai serius membangun infrastruktur melalui pengembangan pusat latihan dan fasilitas klub.
Perubahan tersebut merupakan sinyal positif. Namun, modernisasi masih menjadi pengecualian, bukan standar baru dalam sepak bola nasional.
Mayoritas klub masih berfokus mengejar target jangka pendek setiap musim tanpa membangun fondasi yang kuat. Akibatnya, perkembangan sepak bola Indonesia berjalan lambat dan kerap mengalami stagnasi.
Padahal, jika ingin bersaing di level Asia, klub-klub Indonesia harus mulai berpikir lebih modern. Bukan sekadar membeli pemain mahal atau merekrut pelatih asing, melainkan menciptakan sistem yang stabil dan berkelanjutan.
Saatnya Berhenti Mengejar Euforia Sesaat
Sepak bola Indonesia tidak kekurangan talenta, fanatisme, maupun pasar. Tantangan terbesar justru terletak pada tata kelola dan pola pikir.
Selama klub masih hidup dari euforia sesaat, perubahan besar akan sulit terwujud.
Perhatian publik terlalu sering tersedot pada hasil pertandingan akhir pekan. Padahal, masa depan klub ditentukan oleh apa yang terjadi di balik layar: bagaimana akademi dibangun, bagaimana kondisi keuangan dijaga, bagaimana identitas klub diperkuat, dan bagaimana hubungan dengan suporter dipelihara.
Pelajaran terbesar dari Como 1907 bukan sekadar soal promosi atau kemenangan di lapangan. Pelajaran utamanya adalah keberanian membangun klub dengan visi jangka panjang.
Klub sepak bola modern tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh melalui stabilitas finansial, manajemen profesional, identitas yang kuat, serta kemampuan menciptakan sistem yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Sebelum bermimpi meraih prestasi besar di lapangan, sepak bola Indonesia perlu lebih dahulu memenangkan pertarungan dalam tata kelola dan manajemen klubnya sendiri.(*)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



