Nasional

700 Ribu Anak di RI Terdeteksi Alami Gejala Gangguan Mental, Depresi Paling Banyak

Ilustrasi gangguan mental (Foto: Freepik)

Editorialkaltim.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan sekitar 700 ribu anak di Indonesia mengalami gejala gangguan kesehatan mental. Temuan itu terungkap dari hasil skrining awal program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilakukan pemerintah.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan skrining pada tahap awal dilakukan terhadap sekitar 7 juta anak dari total target 25 juta anak.

“Jadi kita skrining tahun pertama kan 7 jutaan. Angkanya hampir 10%, hampir 10% ya,” kata Budi dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Senin (9/3/2026).

Dari hasil pemeriksaan tersebut, gejala depresi menjadi kasus yang paling banyak ditemukan. Tercatat sekitar 363 ribu anak atau 4,8 persen mengalami indikasi depresi.

Baca  Raja Juli Usul Anggaran IKN Ditambah Rp29,8 Triliun pada 2025

“Jadi 4,4% (338.000) itu ada gejala cemas atau anxiety disorder gitu ya. Nah, 363.000 atau 4,8% lebih parah lagi itu punya gejala depresi atau depression disorder,” ujarnya.

Budi menjelaskan gangguan kesehatan mental pada anak memiliki beragam jenis. Namun dari skrining awal, kecemasan dan depresi menjadi dua masalah yang paling dominan.

“Jadi mental disorder tuh banyak deh macam-macam. Ada anxiety disorder, depression disorder, ada eating disorder, ada neurobehavior disorder, banyak jenis-jenisnya gitu, banyak penyakitnya juga. Nah, yang paling umum adalah anxiety sama depression. Gitu tuh sudah hampir 10%,” katanya.

Baca  MK Bakal Gelar Sidang Maraton 297 Kasus PHPU Pileg, Target Rampung 10 Juni 2024

Menurutnya, temuan ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan jiwa pada anak di Indonesia cukup besar. Selama ini, kasus-kasus tersebut belum banyak terdeteksi karena belum adanya skrining yang luas.

“Nah, ini menunjukkan bahwa oh ternyata masalah kesehatan jiwa itu besar sekali, yang selama ini kita nggak pernah bisa deteksi aja,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga mencatat peningkatan jumlah remaja yang memiliki pikiran hingga percobaan bunuh diri berdasarkan survei kesehatan global pelajar.

“Yang berpikir untuk bunuh diri itu naik dari 5,4% ke 8,5%, jadi naik 1,6 kali. Yang mencoba, naiknya lebih tinggi dari 3,9% sampai 10,7%,” kata Budi.

Baca  Presiden Jokowi Tegaskan ASN Harus Netral di Pemilu 2024, Singgung Baliho Ganjar-Mahfud di Bali Dicopot

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemenkes berencana memperluas skrining kesehatan mental di sekolah agar potensi gangguan kesehatan jiwa pada anak dapat diketahui lebih cepat.

“Mudah-mudahan dari 7 juta bisa naik 14 juta terus 25 juta, kita jadi bisa tahu secara lebih dini siapa anak-anak yang memiliki potensi masalah kesehatan jiwa,” ujarnya.(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button