Nasional

Celios Soroti Perjanjian Dagang RI–AS, Dinilai Bisa Ketergantungan Impor Energi

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara (Foto: Dok Pribadi)

Editorialkaltim.com — Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menyoroti perjanjian tarif resiprokal atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat. Ia menilai kesepakatan tersebut berpotensi meningkatkan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.

Menurut Bhima, sejumlah klausul dalam perjanjian itu tidak hanya berkaitan dengan perdagangan, tetapi juga menyentuh isu energi, iklim, hingga kehutanan yang dapat memengaruhi arah kebijakan energi nasional dalam jangka panjang.

“Ada beberapa poin. Ini kan judulnya ART fokusnya pada energi, kemudian soal iklim dan kehutanan. Jadi, kita akan lihat apa aja dalam beberapa poin klausul yang sebenarnya satu, sangat tidak nasionalis. Sangat tidak perlu terhadap kedaulatan dan kemandirian energi, maupun dari sisi kemandirian untuk ketahanan nasional,” kata Bhima dalam diskusi publik bertajuk menakar dampak perjanjian dagang RI-AS yang digelar secara daring Kamis (5/2/2026).

Baca  OJK Ungkap Utang Paylater Masyarakat Indonesia Tembus Rp30 Triliun

Ia menyoroti potensi munculnya fenomena fossil lock-in, yakni kondisi ketika suatu negara terus bergantung pada energi fosil dalam jangka panjang.

Dalam situasi geopolitik global yang tidak stabil, Bhima menilai ketergantungan terhadap energi fosil justru dapat meningkatkan kerentanan sistem energi nasional.

“Jadi, kita akan terus bergantung pada migas. Dalam kondisi konflik Timur Tengah ini, kan harusnya menjadi titik untuk berpikir ulang,” terangnya.

Baca  Intip Harta Kekayaan Menteri ATR/BPN AHY yang Baru Dilantik

Bhima mengingatkan bahwa Indonesia saat ini sudah berstatus sebagai negara pengimpor bersih minyak (net importer). Kondisi tersebut membuat pasokan energi domestik lebih rentan terhadap fluktuasi harga maupun gangguan pasokan global.

“Apakah kita akan terus melakukan importasi, sehingga semakin ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap impor BBM. Sudah menjadi negara net importer, stoknya 20 hari, gitu ya,” tuturnya.

Baca  Miris, Persiba Balikpapan Terdegradasi ke Liga 3 Usai Dibantai Persijap 4-2

Ia juga menyebut adanya indikasi tekanan pasokan energi di sejumlah daerah menjelang periode Ramadhan dan Idul Fitri.

“Dan di beberapa daerah saya lihat di Aceh, itu sudah mulai terjadi antrean di SPBU,” imbuhnya.

Bhima menilai ketergantungan impor energi dalam jangka panjang berpotensi melemahkan kedaulatan energi Indonesia jika tidak diimbangi dengan penguatan sumber energi domestik.(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button