Opini
Trending

Pemuda Muhammadiyah dan Peradaban Profetik

Refleksi Milad Pemuda Muhammadiyah ke-91

Adam Muhammad, S.Pd (Sekertaris Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Kaltim)

Dalam narasi gerakan kepemudaan, Pemuda Muhammadiyah telah mengisi ruang sejarah tersebut dengan corak yang khas, sebagai gerakan Pemuda Islam yang berwatak tajdid-progresif. Namun, arah gerak perubahan tersebut, sepertinya masih berkutat pada watak gerakan yang belum mampu mentrasnformasi nilai-nilai yang fundamental yang bersumber dari  penafsiran nilai-nilai Islam yang kritis-iberatif. 

Sejatinya, nilai sejarah pergerakan pemuda di Indonesia dikonstruksi berdasarkan pilar gerakannya dengan ruang sejarah yang dilaluinya. Sehingga, ia lahir sebagai kreator bagi sebuah rekayasa peradaban dan tidak hanya mampu menorehkan sejarah tanpa orientasi (sekadar reaktif). Dalam hal ini, seharusnya ia mampu menjadi identitas yang bersinergi sekaligus menjadi pewarna bagi entitas lain dalam ruang sejarah tersebut.

Sisi lain, juga terdapat beberapa gambaran alternatif menganai konstruksi peradaban. Konsep civil society, merupakan sebuah model masyarakat yang berdaulat, dengan kesadaran akan hak-hak dan kewajibannya. Peradaban (civilization) menurut Raymond Williams adalah suatu kondisi sosial-masyarakat organik, yang berbeda dengan model masyarakat yang mekanik (Samuel P. Huntington, The Clash Of Civilization, 1996). Peradaban  ini, memiliki konsentrasi pada : Pertama, eksistensi  tunggal dan plural yang menyatu dan saling menyapa dalam bingkai harmoni. Kedua, Kultur, yang selalu menorehkan spirit kemanusiaan yang terimplementasi dalam kebudayaan yang terbuka dan penuh toleransi. Gambaran ini sejalan dengan konsep Masyarakat Madani yang dipopulerkan oleh Perdana Menteri  Malaysia DR. Anwar Ibrahim. 

Dalam konstruksi peradaban tersebut, setidaknya kita memiliki sebuah postulat pemahaman mengenai arah peradaban yang dicita-citakan. Sebagai salah satu rujukan monumental, Rasulullah Saw. telah mewariskan sebuah konstruksi peradaban yang berbasis nilai Islam. Hal ini digambarkan oleh Robert N. Bellah dalam Beyond Belief, bahwa konstruksi peradaban yang dibangun oleh Rasulullah dalam model masyarakat madani di Madinah al-Munawwarah, merupakan model peradaban yang secara nilai dan praksis telah memanifestasikan nilai-nilai  keadilan, toleransi, terbuka, dan menjunjung tinggi nilai-nilai humanis. Hanya saja, konstruksi peradaban ini begitu maju melampaui batas sejarah, sehingga pasca Rasulullah, tidak tersedia sebuah modal sejarah yang mampu menopang arah rekayasa peradaban tersebut. 

Baca  Wujudkan Ketahanan Pangan Penopang IKN, Close Loop Jadi Solusi Sistem Kemitraan Peternakan Kambing dan Domba di Kaltim

Gambaran arah konstruksi peradaban tersebut, umumnya mengandung nilai-nilai yang ideal, serta meniscayakan suatu perubahan yang terus menerus secara progresif (transformasi).  Hanya saja, dalam rekaman sejarah model-model perubahan itu, selalu menampakan wajah yang pro-establishment, kontra- establishment, konstruksi dan dekonstruksi. Huntington, memaparkan model-model perubahan dalam transisi demokrasi menuju demokrasi di Amerika Latin dalam model transplacement, replacement, dan transformation. (The Waves Of  Democratization, 1997). Atau dalam kajian ilmu sosial perubahan itu memiliki paradigma: evolusi, revolusi dan transformasi. 

Tahapan-tahapan perubahan tersebut, hendaknya mendapatkan kajian yang kritis dan mendalam terutama dalam memandang dunia Islam. Dalam Islam, perubahan itu, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh pandangan teologis. Hal  ini tergambar dalam fakta empiris masyarakat Islam, yang mengalami pasang-surut sejarah. 

Kuntowijoyo, dalam tesis monumentalnya, mengurai teori Tiga Tahap Augus Comte dalam tahapan kesadaran keagamaan umat Islam, yaitu Mitos, Ideologi, dan Ilmu. Elaborasi gagasan ini sangat tepat dalam menggambarkan terhadap model perubahan masyarakat Islam, terutama dalam konteks masyarakat Indonesia. Gagasan ini hendaknya merefleksikan umat Islam dalam menangkap pesan sejarah perubahan, sehingga kita tidak hanya mampu mengisi sejarah, namun mampu memainkan dan membuat sejarah dengan penuh kesadaran. Fase ini, merupakan kunci utama dalam tahapan konstruksi peradaban Islam, yang menurut Kuntowijoyo sebagai Peradaban Profetik, dimana agama telah menyatu dalam kehidupan manusia. 

Baca  NU dan Muhammadiyah Dorong Pilpres Kondusif dan Adil: Menang Jangan Jumawa, Kalah Legawa

Dalam gagasan perubahan ini, yang menjadi kunci utama adalah lahirnya aktor, sebagai agent perubahan. Salah satu aktor penting dalam sejarah perubahan adalah generasi muda sebagai tulang punggung perubahan. Pemuda sebagai bagian dari generasi muda tersebut, hendaknya tidak kehilangan spirit perubahan dalam memandang sejarah yang dialektis-historis. 

Membangun kesadaran masyarakat, khususnya dalam konteks ke-Indonesiaan bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat dengan penyakit amnesia politik, warga bangsa ini sangat mudah melupakan peristiwa masa lalu ataupun dosa masa lalu sehingga kesalahan dalam memilih pemimpin ataupun untuk menciptakan sebuah tata sosial kehidupan yang beradab tidak terwujud hingga saat ini. Maka peranan organisasi sosial seperti Pemuda Muhammadiyah sangatlah penting untuk mengkonstruk masa depan umat dan bangsa tercinta.  

Pemuda Muhammadiyah sebagai organisasi Pemuda Islam, memiliki tanggung jawab sosial yang besar dalam memainkan arah rekayasa perubahan, menuju bangunanan peradaban progresif. Pemuda Muhammadiyah memiliki tanggungjawab sejarah yang besar dalam melahirkan aktor-aktor kritis-progresif, ditengah keterpurukan bangsa Indonesia yang mengalami krisis multi-dimensional.

Lahirnya kader-kader progresif tersebut, merupakan keniscayaan dalam membangun peradaban baru bagi bangsa Indoneisa, sebab bukan hanya akan menghadapai tantangan dari luar, berupa neo-liberalisme yang merupakan bagian dari neo-imperialisme, tetapi juga para penguasa yang dhalim, yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Michael Porter (Ekonom AS) mengatakan bahwa bangkitnya suatu bangsa membutuhkan modal sosial, berupa kesadaran masyarakat dalam membangun bangsanya.

Baca  Menerapkan Sistem Proporsional Tertutup Pada Pemilu 2024

Berangkat dari kebiasaan didalam sebuah gerakan, maka Pemuda Muhammadiyah mengusung ide pencerahan intelektual sebagai langkah awal untuk pencerahan peradaban. Ide pencerahan peradaban lahir sebagai jawaban akan keresahan masyarakat dunia terhadap hegemoni peradaban barat yang kapitalistik-materialistik yang secara nyata menjerumuskan manusia-manusia modern hari ini menjadi teraleniasi dari nilai-nilai sejatinya sebagai manusia. Masyarakat menjadi pragmatis dan melupakan eksistensinya sebagai Khalifatun Fill Ard, untuk memakmurkan bumi dan seluruh penghuninya.      

Aktivis yang memiliki intelektualitas dan spiritualitas sekaligus tentu adalah prototipe aktivis Pemuda Muhammadiyahyang sesungguhnya, yakni aktivis yang memiliki wawasan intelektual dan ketajaman analisis yang dibangun diatas fondasi aqidah Islam yang kokoh menjadikan dia sebagai gerakan pemuda yang hampir sempurna untuk meneruskan perjuangan rasulullah yang telah berhasil menciptakan rumah peradaban yang menentramkan tidak saja bagi umat Islam tetapi bagi seluruh masyarakat yang ada pada masanya. Wallahua’lam bissshowab. (*)

(*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi editorialkaltim.com.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Mari bergabung di Grup Telegram “editorialkaltim”, caranya klik link, https://t.me/editorialkaltimcom kemudian join. Anda harus mengistal Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button