Samarinda

Nursobah: Pentingnya Geopolitik, Indonesia Perlu Belajar dari Turki

Anggota Komisi I DPRD Samarinda, Nursobah. (Istimewa).

Editorialkaltim.com – Anggota DPRD Samarinda Nursobah, memberikan penilaian terhadap figur politik internasional dan memberikan pandangannya tentang pelajaran yang dapat dipetik oleh Indonesia dari kepemimpinan di Turki.

Nursobah mengungkapkan kekagumannya terhadap Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang beliau sebut sebagai ‘Muazin dari Istanbul’. “Mungkin inilah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan Mister Erdogan,” kata Nursobah. Dengan pengalamannya yang telah mengunjungi Istanbul sebanyak enam kali, beliau memandang Erdogan sebagai sosok pemimpin yang mampu membawa perubahan signifikan.

“Di provinsi ini, murid dan penerus Erbakan memimpin perubahan di Turki,” kata Nursobah, menggambarkan keterkaitan antara perubahan politik di Turki dan pengaruhnya terhadap kemajuan dan pembangunan Istanbul.

Baca  Afif Dorong Gen Z dan Millenial untuk Tidak Anti Terhadap Politik

Mengenai pendekatan Erdogan, Nursobah melihat adanya pelajaran yang dapat diambil oleh Indonesia. Menurutnya, Erdogan adalah kader dengan jiwa yang terbuka, yang memahami berbagai masalah dan mampu membuka cakrawala berpikir para pemuda dan pengusaha di Turki.

Tantangan yang dihadapi oleh Turki dalam konteks internasional, terutama dalam upaya bergabung dengan Uni Eropa dan NATO, juga menjadi sorotan Nursobah. “Sejak kubu Tansu Ciller, Perdana Menteri dari partai Kemal Attaturk, mengambil alih kepemimpinan, Turki tampaknya menjadi ‘Pecundang Eropa’,” ungkap Nursobah. Dia melihat peluang bagi Indonesia untuk belajar dari tantangan tersebut.

Baca  Angkasa: Palaran Akan Berperan Sebagai Daerah Penyangga IKN

Kemudian, Nursobah mengangkat pentingnya kolaborasi dalam politik. “Kolaboratif, inilah kata sederhana yang digunakan oleh semua partai politik, termasuk di Turki. Namun, penerapannya cukup sulit,” kata beliau, menggarisbawahi peran penting kerjasama dalam demokrasi.

Menutup wawancara, Nursobah mengingatkan pentingnya persahabatan dalam konteks politik dan sosial. “Bersahabat, inilah kata yang pas, santun, dan telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam,” kata Nursobah.

Baca  Jadwal Kepulangan Jemaah Haji Asal Samarinda, Dimulai 9 Juli 2023

Dengan mendasarkan diri pada tiga kata kunci – terbuka, kolaboratif, dan bersahabat – Nursobah meyakini bahwa Indonesia dapat melangkah maju menuju perubahan positif. “Terbuka, kolaboratif, dan bersahabat bisa menjadi tren baru dalam strategi dan menjadi alasan bahwa kita – saya dan Anda – layak untuk dipilih,” tutup Nursobah.

[LIN | ADV]

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Mari bergabung di Grup Telegram “editorialkaltim”, caranya klik link, https://t.me/editorialkaltimcom kemudian join. Anda harus mengistal Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Related Articles

Back to top button