
Editorialkaltim.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Timur membekali puluhan guru madrasah dengan kemampuan coding dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Pelatihan ini tak hanya berfokus pada penguasaan teknologi, tetapi juga menekankan pentingnya etika, moral, dan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran.
Pelatihan Penguatan Penguasaan Coding dan Artificial Intelligence (AI) bagi guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) digelar Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kaltim di Aula IKIP PGRI Kaltim, Samarinda, Rabu (5/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi MUI Kaltim, IKIP PGRI Kaltim, PGRI Kaltim, Kanwil Kementerian Agama Kaltim, Kemenag Kota Samarinda, dan Kelompok Kerja Madrasah (KKM).
Ketua Panitia, Ruslan, mengatakan pelatihan digelar untuk meningkatkan kapasitas guru menghadapi perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Menurutnya, guru perlu memahami coding dan AI agar mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif sekaligus bertanggung jawab.
“Kami ingin menyiapkan sumber daya manusia pendidikan di Kaltim yang mampu memanfaatkan AI secara produktif, bertanggung jawab, dan tetap berkarakter,” ujarnya.
Selain meningkatkan kompetensi guru dalam penguasaan coding dan AI, pelatihan tersebut juga bertujuan memperkuat literasi digital, membangun kolaborasi antara organisasi keagamaan, perguruan tinggi, dan organisasi profesi guru, serta memperkuat pendidikan karakter menuju Indonesia Emas 2045.
Sebanyak 50 guru dari pondok pesantren, MTs, dan MA se-Kota Samarinda mengikuti kegiatan tersebut. Mereka mendapat materi dari Dr. H. Rusdi Abdullah, M.Si. tentang Etika dan Tantangan Dakwah/Pendidikan Agama di Era AI, serta Dra. Dayang Djunaida Dewi Yudiani, M.Pd. mengenai Penguatan Karakter pada Generasi Emas Manifestasi Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum MUI Kalimantan Timur KH Boechari Noer menilai pemanfaatan AI dapat membantu tugas guru, tetapi tidak akan pernah menggantikan peran pendidik dalam membentuk karakter peserta didik.
“AI tentunya bermanfaat dalam menunjang tugas kita sebagai tenaga pendidik, namun perlu diimbangi dengan nilai agama dan moral. AI hanya mampu menyampaikan informasi, tetapi tidak memiliki empati, hati nurani, serta kemampuan mendidik karakter dan akhlak siswa,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan guru agar mempersiapkan siswa menghadapi perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan. Menurutnya, kemampuan coding dan AI perlu dikenalkan sejak dini, namun harus dibarengi pembentukan akhlak yang kuat.
Ketua PGRI Kaltim Yonathan Palinggi turut mengapresiasi kolaborasi MUI Kaltim dengan IKIP PGRI Kaltim. Ia berharap nota kesepahaman yang telah ditandatangani tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan diwujudkan melalui berbagai program yang memberi manfaat bagi dunia pendidikan.
“Kegiatan ini dapat terlaksana karena difasilitasi oleh Rektor IKIP PGRI Kaltim Suriansyah yang juga merupakan Wakil Ketua MUI Bidang Pendidikan,” katanya.
Yonathan berharap seluruh peserta mengikuti pelatihan secara maksimal karena penguasaan coding dan AI menjadi kebutuhan guru di era digital. Meski begitu, ia menegaskan pendidikan karakter tetap menjadi fondasi utama.
“Kita tidak boleh alergi terhadap kemajuan teknologi. Namun teknologi adalah ciptaan manusia, sehingga manusialah yang harus mengendalikannya. Karena itu, pembelajaran karakter tetap menjadi fondasi utama dalam dunia pendidikan,” pungkasnya.(adr/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



