KaltimOpiniSamarinda

Merawat Akar, Memacu Mekar: Refleksi Kebangsaan Menjelang Tanwir II Pemuda Muhammadiyah

Oleh: Adam Muhammad – Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Timur

Editorialkaltim.com – Sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang sekadar menonton dari pinggir jalan. Sejarah selalu diukir oleh tangan-tangan pemuda yang berani mengambil risiko, melompati sekat-sekat kenyamanan, dan meletakkan fondasi masa depan di atas batu ujian zaman. Sesaat lagi, pandangan seluruh kader muda persyarikatan akan tertuju pada satu titik koordinat: Denpasar, Bali. Di pulau yang sarat harmoni kultural tersebut, Tanwir II Pemuda Muhammadiyah diselenggarakan dengan mengusung manifesto besar: “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya.”

Bagi kita yang bergerak di garis wilayah, khususnya dari bumi Kalimantan Timur yang kini mengemban amanah sejarah sebagai beranda Ibu Kota Nusantara (IKN), tema ini bukan sekadar pemanis spanduk atau jargon ruang sidang. Tema ini merupakan potret dialektika pergerakan kita hari ini. Ia menuntut jawaban konkret atas pertanyaan eksistensial: di manakah posisi Pemuda Muhammadiyah di tengah pusaran transformasi bangsa yang bergerak begitu cepat?

Dialektika “Mengakar” dan “Bertumbuh”

Jika kita menguliti makna “mengakar”, ingatan kita akan langsung tertambat pada fondasi ideologis yang diletakkan oleh KH Ahmad Dahlan lebih dari seabad lalu. Mengakar berarti merawat ortodoksi nilai. Ia adalah keteguhan iman, kemurnian tauhid, dan militansi kepemimpinan yang berbasis pada keluhuran akhlak. Pimpinan ranting dan cabang merupakan ujung tombak dari akar ini. Tanpa akar yang kuat menjalar ke bawah, Pemuda Muhammadiyah hanya akan menjadi menara gading yang rapuh ditiup angin modernitas.

Namun, mengakar saja tidak cukup jika kita enggan “bertumbuh”. Bertumbuh adalah imperatif sosiologis. Ia menuntut kita untuk melebarkan dahan, merimbunkan daun, dan menghasilkan buah yang dapat dinikmati oleh siapa pun yang berteduh di bawahnya. Bertumbuh berarti melakukan inovasi dakwah, menguasai ruang digital, melakukan lompatan ekonomi kreatif, dan terlibat aktif dalam pengisian pos-pos strategis kebijakan publik.

Baca  UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Turunkan 13 Mahasiswa di SeIBa Internasional Festival 2024

Di sinilah relevansi pemikiran sosiolog dan pemikir Islam kontemporer menjadi penting untuk kita renungkan bersama. Menyikapi urgensi gerak adaptif organisasi pemuda Islam, Prof. Dr. Din Syamsuddin pernah menegaskan:

“Pemuda Muhammadiyah tidak boleh terjebak pada nostalgia masa lalu. Kader muda harus mampu melampaui zamannya melalui intelektualisme yang membumi dan gerakan ekonomi yang mandiri. Jika tidak, kita hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri.”

Pesan ini menjadi tamparan sekaligus pelecut semangat. Kita tidak bisa lagi gagap menghadapi disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, atau pergeseran geopolitik ekonomi. Bertumbuh adalah tentang bagaimana nilai Islam berkemajuan yang kita pelajari di dalam ruang perkaderan mampu dikonversi menjadi solusi atas kemiskinan, ketimpangan digital, dan kerusakan lingkungan hidup di sekitar kita.

Sudut Pandang Kaltim: Beranda IKN dan Episentrum Baru Indonesia Jaya

Sebagai kader dari Kalimantan Timur, refleksi ini terasa berlipat ganda urgensinya. Proyeksi perpindahan pusat pemerintahan ke IKN merupakan pergeseran geopolitik dan geoekonomi terbesar dalam sejarah modern Indonesia. Kaltim bukan lagi daerah pinggiran; Kaltim adalah episentrum baru. Namun, di balik megahnya narasi pembangunan tersebut, tersimpan risiko sosiologis berupa marginalisasi penduduk dan kader lokal jika tidak disiapkan dengan matang.

Tantangan IKN adalah tantangan tentang kompetensi global, literasi teknologi tingkat tinggi, dan ketahanan ekologis. Terkait hal ini, akademisi sekaligus mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii), dalam salah satu esai monumentalnya pernah mengingatkan tentang esensi keadilan sosial dan peran pemuda:

“Pembangunan fisik tanpa dibarengi dengan pembangunan manusia yang berkarakter hanya akan melahirkan ketimpangan baru. Pemuda harus menjadi jangkar moral sekaligus motor penggerak agar kemajuan zaman tidak menggusur kemanusiaan.”

Baca  DPRD Samarinda Terima Kunjungan DPRD Wajo Studi Komparasi Terakait Perizinan

Merujuk pada pandangan Buya Syafii, transformasi ini menuntut Pemuda Muhammadiyah Kaltim dan seluruh Indonesia untuk naik kelas. Kita tidak bisa lagi menggunakan pendekatan dakwah dan organisasi gaya lama (business as usual). Tantangan IKN adalah tantangan tentang kompetensi global, literasi teknologi tingkat tinggi, dan ketahanan ekologis. Jika kader-kader kita di daerah tidak “bertumbuh” dalam kapasitas intelektual dan profesionalisme, maka narasi “Indonesia Jaya” hanya akan menjadi milik segelintir elite, sementara kaum muda di daerah hanya menjadi penonton di pinggir sirkuit kemajuan.

Tanwir di Bali harus mampu merumuskan strategi penyiapan sumber daya manusia (SDM) kader yang siap mengisi ruang-ruang profesional tersebut. Kita membutuhkan teknokrat muda, arsitek hijau, ahli hukum lingkungan, dan sosiolog dakwah yang mampu membaca arah zaman.

Kemandirian Ekonomi: Memutus Ketergantungan Struktur

Pendalaman perspektif “bertumbuh” juga harus menyentuh aspek kedaulatan ekonomi. Selama ini, struktur ekonomi pemuda sering kali bersifat dependen pada sirkulasi politik praktis atau pasar kerja konvensional. Padahal, Indonesia menuju 2045 membutuhkan lompatan pemuda yang mandiri secara finansial agar mampu menjaga independensi moral organisasi.

Dalam konteks pembangunan ekonomi berbasis pemuda, pakar ekonomi syariah Prof. Dr. Raditya Sukmana menggarisbawahi:

“Transformasi ekonomi pemuda Islam hari ini harus bergeser dari pola konsumtif ke produktif melalui pemanfaatan ekosistem digital dan optimalisasi dana sosial Islam (ziswaf). Kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) adalah jalan tengah bagi pemuda untuk mandiri sekaligus menyelesaikan problem komunitas di akar rumput.”

Oleh karena itu, Tanwir di Bali harus mampu mengarsiteki sebuah ekosistem ekonomi pemuda yang konkret sebuah korporasi atau inkubator bisnis yang menghubungkan produk kreatif kader di daerah seperti Kaltim dengan pasar nasional dan internasional.

Baca  DPRD Kaltim Desak Normalisasi Sungai Sangatta, Cegah Banjir Makin Parah

Jihad Ekologi dan Harmoni Kultural

Pemilihan Bali sebagai tuan rumah Tanwir II juga membawa pesan simbolis yang sangat kuat. Bali merupakan laboratorium inklusivitas dan moderasi. Di tempat ini, Pemuda Muhammadiyah ditantang untuk menunjukkan wajah Islam yang ramah, dialogis, dan kosmopolitan. Kita harus mampu merumuskan model dakwah kultural yang merekatkan, bukan meretakkan.

Selain itu, isu lingkungan atau “Jihad Ekologi” harus menjadi arus utama dalam Tanwir kali ini. Menghadapi krisis iklim global, pemuda tidak boleh abai. Dari Kaltim yang kaya sumber daya alam namun rentan secara ekologis hingga Bali yang mengandalkan keindahan alamnya untuk pariwisata, kita memiliki kepentingan yang sama: menyelamatkan bumi demi masa depan generasi Alpha. Pemuda Muhammadiyah harus menjadi pelopor transisi energi bersih dan gaya hidup berkelanjutan.

Menuju Tanwir: Sebuah Manifesto Gerakan

Tanwir II Pemuda Muhammadiyah di Bali harus melahirkan dokumen sosiologis yang hidup, bukan sekadar tumpukan kertas rekomendasi yang berdebu di lemari sekretariat. Kita berkumpul bukan untuk memperuncing faksionalisme internal, melainkan untuk menyatukan barisan demi umat dan bangsa.

Mari kita pastikan bahwa sekembalinya kita dari Bali, akar ideologi kita di tingkat ranting semakin kokoh menghujam ke bumi, dan dahan-dahan kontribusi kita di tingkat nasional hingga global semakin tinggi menjulang ke langit. Dari Kaltim untuk Indonesia, kita melangkah ke Bali dengan satu tekad: meluaskan kemanfaatan, meneguhkan martabat, demi terwujudnya Indonesia Jaya yang sebenar-benarnya.(*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button