

Editorialkaltim.com – Capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masih jauh dari target. Hingga triwulan III 2026, realisasi 12 indikator pelayanan kesehatan baru mencapai rata-rata 63,1 persen. Kondisi ini mendapat perhatian serius dari Bupati Kukar Aulia Rahman Basri.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi Penyelenggaraan Kesehatan Kabupaten Kukar yang dipimpin langsung Aulia di Ruang Rapat Rumah Jabatan Bupati Kukar, Sabtu (30/10/2026).
Dalam rapat itu, Aulia meminta Dinas Kesehatan bersama seluruh kepala puskesmas segera melakukan evaluasi menyeluruh, terutama terhadap indikator pelayanan yang masih mencatat capaian rendah.
Kepala Dinas Kesehatan Kukar Ismi Mufiddah mengungkapkan, pelayanan kesehatan usia produktif menjadi salah satu indikator yang membutuhkan perhatian khusus. Cakupannya baru mencapai 25,4 persen hingga triwulan ketiga.
Angka tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dalam memperluas pemeriksaan kesehatan masyarakat, khususnya deteksi dini penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes.
Aulia menegaskan, capaian SPM tidak boleh dipandang sebatas pemenuhan administrasi. Menurutnya, setiap indikator berkaitan langsung dengan keselamatan dan kualitas hidup masyarakat.
“SPM ini bukan sekadar angka laporan. Ini nyawa. Ibu hamil, bayi, balita, penderita hipertensi dan diabetes itu ada orangnya di Kukar,” tegasnya.
Ia juga menyoroti rendahnya pemeriksaan kesehatan kelompok usia produktif. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan belum optimalnya upaya menjangkau masyarakat yang membutuhkan pelayanan.
“Kalau capaian usia produktif baru 25,4%, berarti skrining kita belum jalan maksimal. Saya minta Kadis Kesehatan dan semua Kapus turun, jemput bola,” ujarnya.
Selain mengevaluasi SPM, rapat turut membahas capaian imunisasi sepanjang 2026. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan, jumlah anak yang mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) tercatat sekitar 5.890 anak.
Dari 30 indikator imunisasi, baru satu indikator mencapai kategori sangat baik, yakni HPV rutin kelas 5 sebesar 81,7 persen.
Sebanyak 15 indikator lainnya masuk kategori baik dengan capaian 50 hingga 80 persen. Sementara itu, 10 indikator membutuhkan percepatan dan empat indikator berada dalam kategori sangat perlu percepatan.
Capaian terendah terlihat dari imunisasi DT kelas 1 yang masih nol persen, disusul TD kelas 2 sebesar 2,2 persen.
Merespons hasil evaluasi tersebut, Aulia meminta percepatan terhadap 10 indikator SPM yang belum memenuhi target, terutama pelayanan usia produktif, ibu hamil, dan bayi baru lahir.
Ia juga menginstruksikan integrasi pelayanan kesehatan dengan program imunisasi serta posyandu. Perbaikan validasi data berbasis nama dan alamat turut menjadi prioritas guna menghindari pencatatan ganda.(ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



