
Editorialkaltim.com – Pemerintah Kota Bontang memperkuat upaya penanganan stunting di Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat. Salah satunya melalui inovasi Cantik atau Cegah dan Tangani Stunting yang melibatkan berbagai sektor.
Program tersebut melibatkan puskesmas, kader posyandu, perangkat daerah, PT KPI, serta sejumlah pihak terkait. Kolaborasi ini diarahkan untuk mempercepat penurunan prevalensi stunting sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pemenuhan gizi.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan Kanaan termasuk kelurahan dengan prevalensi stunting relatif rendah di Bontang. Berdasarkan data yang disampaikan, prevalensi stunting di wilayah tersebut tercatat 7,8 persen atau sekitar 17 balita dari total 1.383 balita.
“Kelurahan Kanaan ini termasuk kelurahan yang paling kecil stuntingnya di Kota Bontang, satu digit, 7,8 persen. Target saya zero,” ujar Neni, Kamis (1/10/2026).
Menurut Neni, program Cantik tidak hanya menyasar balita. Intervensi juga menyentuh remaja, ibu hamil, serta ibu menyusui dengan melibatkan masyarakat dan berbagai sektor terkait.
Ia berharap pelaksanaan program selama 56 hari mampu memberikan dampak nyata. Pemkot Bontang menargetkan prevalensi stunting di Kanaan turun hingga di bawah 5 persen, bahkan mencapai nol.
“Makanya kita libatkan terus semua pihak. Ini sangat berkolaborasi dan terpadu. Minimal kita ingin stunting di Kanaan ini di bawah 5 persen, kalau bisa zero,” katanya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Bontang Barat Muhammad Irzal Wijaya menjelaskan Cantik merupakan inovasi Kelurahan Kanaan yang mengedepankan kolaborasi lintas perangkat daerah, puskesmas, posyandu, serta kader masyarakat.
Program ini juga diarahkan untuk membentuk posyandu remaja dan mendorong lahirnya remaja sebagai agen perubahan sekaligus penggerak Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
“Harapannya sesuai dengan tujuan awal inovasi ini, yaitu adanya penurunan stunting yang signifikan, terbentuknya posyandu remaja, dan terbentuknya remaja yang berkualitas menjadi agen perubahan,” jelas Irzal.
Salah satu pendekatan yang dijalankan ialah PMT Challenge. Berbeda dari pemberian makanan tambahan (PMT) biasa, program ini membekali orang tua, terutama ibu, agar mampu menyiapkan makanan bergizi dari bahan pangan yang tersedia di rumah.
Selama 56 hari, keluarga akan menerapkan pola pemberian makanan sesuai kebutuhan anak. Program turut menyediakan bahan pangan tertentu, seperti telur dan ikan sebagai sumber protein hewani.
Kader posyandu selanjutnya melakukan pemantauan untuk memastikan makanan tambahan, susu, serta protein hewani yang disiapkan benar-benar dikonsumsi sasaran.
“Jadi memastikan PMT yang dibuat oleh ibu, susu yang diberikan, kemudian protein hewani yang kita siapkan itu memang dikonsumsi oleh sasaran kegiatan,” pungkasnya. (lia/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



