Kisah Tragis Petugas Sensus Ekonomi yang Gugur di Jalan, Menyadarkan Banyak Orang

Oleh: Riyawan S. Hut – Mitra BPS
Editorialkaltim.com – Setiap kali pemerintah merilis data statistik tentang ekonomi, jumlah usaha, atau kondisi masyarakat, mungkin kita hanya melihat deretan angka di layar. Angka-angka itu tampak sederhana, rapi, dan seolah muncul begitu saja.
Padahal, di balik setiap data tersebut ada ribuan petugas lapangan yang harus berkeliling dari rumah ke rumah, menembus panas, hujan, hingga medan yang tidak selalu bersahabat.
Kisah pilu yang menimpa Ashadi Permana, petugas Sensus Ekonomi 2026 dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda, menjadi bukti bahwa pekerjaan ini menyimpan risiko yang tidak sedikit.
Pemuda berusia 23 tahun itu kehilangan nyawanya saat sedang menjalankan tugas negara. Bukan karena kelalaian, bukan pula karena aksi ugal-ugalan, melainkan akibat kecelakaan tragis di jalan yang licin setelah hujan.
Peristiwa ini bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan rekan kerja, tetapi juga membuka mata banyak orang bahwa menjadi petugas sensus ternyata jauh lebih berat daripada yang selama ini dibayangkan.
Berangkat Menjalankan Tugas Negara, tetapi Tak Pernah Kembali ke Rumah
Kamis sore, 23 Juli 2026, hujan mengguyur Jalan Poros Samarinda–Anggana. Saat sebagian orang memilih berteduh, Ashadi tetap melanjutkan perjalanan menuju Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan. Hari itu, ia memiliki tanggung jawab melakukan pendataan Sensus Ekonomi 2026 bersama tim BPS Kota Samarinda.
Seperti petugas sensus lainnya, Ashadi berangkat menggunakan kendaraan pribadi. Ia terpisah dari rekan-rekannya karena memiliki jalur perjalanan masing-masing. Semua tampak berjalan seperti hari-hari sebelumnya hingga sebuah kecelakaan mengubah segalanya.
Saat melintasi tikungan menurun yang licin akibat hujan, sebuah mobil pikap dari arah berlawanan kehilangan kendali. Kendaraan tersebut tergelincir, masuk ke jalur Ashadi, lalu menghantam sepeda motornya secara frontal.
Benturan keras membuat Ashadi terpental. Ia mengalami luka berat di bagian kepala dan meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara itu, mobil pikap yang menabraknya terus melaju hingga akhirnya masuk ke jurang di pinggir jalan.
Menurut pengakuan pengemudi mobil, ia telah berupaya mengendalikan kendaraan ketika ban mulai kehilangan daya cengkeram di jalan yang basah. Rem sudah diinjak dan setir dibanting, tetapi jarak yang terlalu dekat membuat tabrakan tidak lagi dapat dihindari.
Yang membuat kisah ini semakin menyayat hati adalah fakta bahwa salah seorang rekan Ashadi sempat melintasi lokasi kecelakaan tanpa menyadari bahwa korban yang tergeletak di pinggir jalan adalah teman satu timnya sendiri. Baru setelah menerima kabar dari lapangan, ia kembali ke lokasi dan mengetahui kenyataan pahit tersebut.
Momen ini menjadi gambaran betapa cepatnya musibah dapat terjadi, bahkan kepada seseorang yang sedang menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.
Jadi Petugas Sensus Ternyata Bukan Sekadar Datang, Bertanya, dan Mencatat
Banyak orang menganggap pekerjaan petugas sensus sangat sederhana. Datang ke rumah warga, mengajukan beberapa pertanyaan, lalu pulang membawa data. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks.
Petugas sensus merupakan ujung tombak dalam pengumpulan informasi yang nantinya digunakan pemerintah sebagai dasar penyusunan berbagai kebijakan penting. Mulai dari pembangunan daerah, investasi, bantuan ekonomi, hingga perencanaan anggaran nasional, semuanya bergantung pada kualitas data yang mereka kumpulkan.
Untuk mendapatkan data yang akurat, seorang petugas dapat mendatangi ratusan rumah, toko, maupun pelaku usaha selama masa pendataan berlangsung. Dalam sehari, mereka harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain dengan waktu yang sangat terbatas.
Perjalanan yang ditempuh pun tidak selalu mudah. Ada daerah dengan jalan rusak, tanjakan curam, kawasan terpencil, hingga kondisi cuaca yang berubah sewaktu-waktu. Saat musim hujan seperti sekarang, risiko kecelakaan meningkat karena jalan menjadi licin dan jarak pandang berkurang.
Belum lagi tantangan saat bertemu masyarakat. Masih banyak warga yang belum memahami tujuan sensus. Ada yang mengira petugas datang untuk meminta sumbangan. Sebagian lagi berharap akan mendapatkan bantuan sosial setelah didata. Akibatnya, petugas harus menjelaskan berulang kali bahwa pendataan dilakukan semata-mata untuk kepentingan statistik nasional.
Tidak sedikit pula warga yang menolak diwawancarai karena khawatir data pribadinya disalahgunakan. Di sisi lain, petugas juga harus menghadapi kendala teknis, seperti aplikasi yang mengalami gangguan, jaringan internet yang buruk, hingga server yang tiba-tiba tidak dapat diakses.
Semua tantangan tersebut membuat pekerjaan petugas sensus membutuhkan kesabaran, kemampuan komunikasi yang baik, fisik yang kuat, sekaligus mental yang tangguh.
Mereka bekerja bukan hanya membawa formulir atau tablet pendataan, tetapi juga memikul tanggung jawab besar agar data yang dikumpulkan benar-benar akurat.
Tragedi Ini Jadi Alarm Keras, Apakah Keselamatan Petugas Sudah Menjadi Prioritas?
Kematian Ashadi memunculkan pertanyaan yang mulai ramai diperbincangkan masyarakat. Sudahkah keselamatan petugas lapangan benar-benar menjadi perhatian utama?
Petugas sensus setiap hari berada di jalan raya. Mereka harus mengejar target pendataan dalam waktu yang telah ditentukan. Dalam kondisi tertentu, tekanan untuk menyelesaikan pekerjaan dapat membuat mereka tetap bekerja meskipun cuaca sedang tidak bersahabat.
Ironisnya, pada hari yang sama, beberapa anggota tim diketahui sempat melihat adanya kecelakaan di perjalanan, tetapi tidak berhenti karena mengira hanya kecelakaan biasa dan harus segera menuju lokasi pendataan. Belakangan mereka baru mengetahui bahwa korban tersebut adalah rekan mereka sendiri.
Kisah ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Situasi di lapangan memang sering kali berlangsung sangat cepat sehingga seseorang belum tentu mengetahui siapa korban yang berada di lokasi.
Namun, peristiwa tersebut menjadi refleksi bahwa budaya mengejar target terkadang, tanpa disadari, membuat aspek keselamatan berada di posisi kedua. Ke depan, sudah seharusnya instansi yang memiliki banyak petugas lapangan memperkuat sistem perlindungan bagi para pekerjanya.
Misalnya, dengan memberikan pelatihan keselamatan berkendara sebelum penugasan dimulai, menyediakan asuransi kecelakaan yang memadai bagi seluruh petugas, memberikan fleksibilitas jadwal ketika cuaca ekstrem terjadi, hingga membangun sistem pelaporan darurat yang lebih cepat agar bantuan dapat segera datang ketika terjadi insiden.
Langkah-langkah tersebut bukan sekadar bentuk kepedulian terhadap pekerja, tetapi juga investasi untuk menjaga keselamatan orang-orang yang menjadi ujung tombak pelayanan publik. Bagaimanapun juga, tidak ada target administrasi yang lebih berharga daripada nyawa manusia.
Di Balik Angka Statistik Ada Perjuangan yang Jarang Dilihat Orang
Kepergian Ashadi meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta seluruh rekan kerja di lingkungan BPS Kota Samarinda.
Bagi mereka, Ashadi bukan sekadar mitra pendataan atau nomor identitas petugas. Ia adalah sosok muda yang setiap hari berbagi cerita, bercanda di sela-sela pekerjaan, dan berjuang bersama menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan negara.
Yang membuat kisah ini begitu menyentuh adalah kesederhanaannya. Ashadi bukan pejabat tinggi. Ia bukan tokoh terkenal. Namanya mungkin tidak pernah muncul di televisi sebelum tragedi ini terjadi. Namun, justru orang-orang seperti dirinya yang menjadi fondasi lahirnya berbagai kebijakan pembangunan di Indonesia.
Tanpa petugas lapangan, data yang digunakan pemerintah tidak akan pernah lengkap. Tanpa data yang akurat, kebijakan yang dibuat pun berpotensi meleset dari kondisi nyata masyarakat. Karena itu, sudah saatnya publik memberikan penghargaan yang lebih besar kepada profesi ini.
Jika suatu hari ada petugas sensus datang mengetuk pintu rumah, sambutlah mereka dengan ramah. Luangkan sedikit waktu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Mereka tidak datang membawa bantuan sosial ataupun meminta sumbangan. Mereka hanya sedang menjalankan amanah negara agar kebijakan yang diambil nantinya benar-benar didasarkan pada kondisi masyarakat.
Tragedi yang menimpa Ashadi juga menjadi pengingat bagi semua pengguna jalan agar lebih berhati-hati, terutama saat hujan turun. Jalan yang licin, jarak pandang yang terbatas, dan kendaraan yang kehilangan kendali dapat mengubah kehidupan seseorang hanya dalam hitungan detik.
Semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, bukan hanya bagi instansi pemerintah, tetapi juga masyarakat luas, bahwa keselamatan pekerja lapangan harus menjadi prioritas bersama.
Ashadi memang telah pergi. Namun, semangat pengabdiannya sebagai pejuang data layak dikenang. Semoga pengorbanannya tidak berhenti sebagai berita yang viral sesaat, melainkan menjadi titik awal lahirnya perhatian yang lebih besar terhadap keselamatan seluruh petugas lapangan di Indonesia.
Di balik setiap angka statistik yang kita baca, ternyata ada perjuangan yang tidak sederhana. Bahkan, dalam kisah Ashadi, ada sebuah pengabdian yang harus dibayar dengan harga paling mahal.(*)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



