
Editorialkaltim.com – Kalimantan Timur bersiap menghadirkan film horor layar lebar yang mengangkat kisah legenda lokal. Film berjudul “Suster Maria dan Kutukan” digarap Rumah Digital Entertainment sebagai upaya mengenalkan kearifan lokal sekaligus mendorong tumbuhnya industri perfilman di Benua Etam.
Proyek tersebut diperkenalkan bersamaan dengan peluncuran Rumah Digital Entertainment di Temindung Creative Hub, Samarinda, Rabu (15/7/2026). Komunitas ini dibentuk sebagai wadah bagi talenta muda Kaltim untuk mengembangkan kemampuan di bidang seni peran, produksi film, hingga industri hiburan.
Ketua Rumah Digital Entertainment, Imade Susanti, mengatakan film “Suster Maria dan Kutukan” menjadi proyek perdana yang melibatkan aktor dan aktris asal Kalimantan Timur. Ceritanya diangkat dari kisah urban legend yang berkembang di masyarakat.
“Film ini merupakan langkah yang cukup berani bagi kami. Proses pengambilan gambar akan dilakukan di Balikpapan, Kutai Kartanegara, termasuk di Desa Muara Muntai. Film ini juga sudah terdaftar di Kementerian Hukum,” ujarnya.
Imade menjelaskan, proses syuting dijadwalkan dimulai pada akhir September 2026. Selain menggarap film layar lebar, pihaknya juga membuka kelas akting untuk masyarakat dari berbagai usia, mulai kalangan muda hingga lansia.
Peserta kelas tersebut nantinya akan dilibatkan dalam produksi film pendek sebagai bagian dari pembinaan talenta lokal. Program itu juga mendapat dukungan dari istri Wali Kota Samarinda karena dinilai mampu menjadi media edukasi, khususnya di bidang pendidikan.
Sementara itu, Produser “Suster Maria dan Kutukan”, Syaiful HR, mengungkapkan film tersebut terinspirasi dari kisah urban legend yang berlatar di Balikpapan pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1940-an.
“‘Suster Maria’ adalah cerita urban legend tentang seorang perempuan yang dibunuh tentara Jepang sekitar tahun 1940-an dengan latar peristiwa di Balikpapan,” katanya.
Menurut Syaiful, industri perfilman di Kalimantan Timur memiliki potensi besar untuk berkembang. Namun, dibutuhkan lebih banyak karya yang mengangkat identitas dan budaya lokal agar mampu bersaing dengan daerah lain.
Ia menilai Kalimantan Selatan telah lebih dulu dikenal melalui sejumlah film yang berhasil menarik perhatian publik. Karena itu, Kaltim juga memiliki peluang yang sama jika terus menghadirkan karya berkualitas berbasis cerita daerah.
“Kami berharap film ini menjadi awal kebangkitan industri film di Kalimantan Timur sekaligus memperkenalkan kearifan lokal kepada masyarakat Indonesia melalui layar lebar,” pungkasnya. (adr/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



