Opini

Kenapa Kita Lebih Nyaman dengan HP daripada Orang di Depan Kita?

Oleh: M. Faris Taqiyuddin
Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo

Editorialkaltim.com – Pernahkah Anda sedang berkumpul bersama teman, menikmati obrolan santai, lalu suasana tiba-tiba hening selama beberapa detik? Tidak ada pertengkaran atau konflik. Hanya jeda singkat dalam percakapan.

Namun, tanpa disadari, tangan langsung meraih telepon genggam.

Padahal tidak ada notifikasi penting atau pesan mendesak. Layar ponsel dibuka hanya untuk melihat media sosial, menggulir video pendek, atau sekadar membuka aplikasi tanpa tujuan yang jelas.

Fenomena ini semakin sering dijumpai di era digital. Banyak orang duduk di meja yang sama, tetapi perhatian justru tertuju pada layar masing-masing. Ironisnya, teknologi yang awalnya diciptakan untuk mendekatkan orang yang berjauhan justru kerap menjadi penghalang komunikasi dengan mereka yang berada tepat di depan kita.

Sejumlah ahli psikologi dan sosiologi menilai kondisi tersebut sebagai gejala menurunnya kualitas interaksi sosial akibat dominasi teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari.

Lantas, mengapa lima detik keheningan terasa lebih sulit dihadapi dibandingkan satu jam menggulir media sosial?

Fenomena Alone Together

Salah satu peneliti yang banyak mengkaji hubungan manusia dengan teknologi adalah Sherry Turkle, profesor di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Melalui bukunya Alone Together yang terbit pada 2011, Turkle menggambarkan kondisi ketika seseorang secara fisik berada bersama orang lain, tetapi secara mental dan emosional justru tenggelam dalam dunia digitalnya sendiri.

Fenomena tersebut mudah ditemui di berbagai tempat, mulai dari kafe, ruang tunggu, hingga meja makan keluarga. Banyak orang duduk berdampingan, tetapi masing-masing sibuk menatap layar ponsel.

Baca  Milad ke 25 Tahun: Dedikasi KAMMI Rawat Kedaulatan Kaltimtara

Menurut Turkle, persoalannya bukan sekadar penggunaan teknologi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah berkurangnya kemampuan seseorang untuk benar-benar hadir dalam sebuah percakapan.

Penelitiannya menunjukkan bahwa bahkan ketika telepon genggam hanya diletakkan di atas meja tanpa digunakan, kualitas percakapan dapat menurun. Kehadiran ponsel secara tidak langsung memberi sinyal bahwa perhatian seseorang dapat berpindah kapan saja.

Akibatnya, lawan bicara merasa dirinya bukan menjadi prioritas utama. Komunikasi tetap berlangsung, tetapi kehilangan kedalaman karena perhatian terbagi.

Mengapa Dunia Digital Lebih Menarik?

Berinteraksi secara langsung membutuhkan usaha yang tidak sedikit. Otak harus membaca ekspresi wajah, memahami intonasi suara, menyusun respons yang tepat, hingga menghadapi rasa canggung ketika percakapan berhenti sejenak.

Sebaliknya, saat membuka ponsel, semua terasa jauh lebih mudah. Cukup menggeser layar tanpa harus memikirkan respons, kontak mata, maupun risiko salah berbicara.

Lama-kelamaan, otak belajar bahwa layar merupakan tempat yang lebih nyaman dibandingkan interaksi sosial secara langsung.

Secara psikologis, otak manusia memang cenderung memilih aktivitas yang memberikan rasa nyaman dengan usaha seminimal mungkin. Di sinilah teknologi digital berhasil menarik perhatian.

Berbagai platform media sosial dirancang agar pengguna bertahan selama mungkin. Mulai dari desain antarmuka, warna tombol, notifikasi, hingga algoritma konten, semuanya dibuat untuk terus memancing perhatian.

Setiap kali membuka media sosial, otak menerima rangsangan baru berupa video, berita, unggahan teman, maupun informasi yang memicu rasa penasaran. Hal tersebut memunculkan sensasi menyenangkan yang membuat seseorang ingin terus melihat layar.

Sementara itu, percakapan di dunia nyata tidak selalu berjalan mulus. Ada jeda, kebingungan, bahkan kecanggungan.

Baca  Wujudkan Ketahanan Pangan Penopang IKN, Close Loop Jadi Solusi Sistem Kemitraan Peternakan Kambing dan Domba di Kaltim

Ketika setiap rasa tidak nyaman itu selalu diatasi dengan membuka ponsel, otak perlahan membentuk kebiasaan baru: layar menjadi tempat pelarian setiap kali menghadapi situasi sosial yang terasa canggung.

Tidak mengherankan jika banyak orang akhirnya secara refleks membuka ponsel ketika suasana mulai sepi, bukan karena ada kebutuhan mendesak, melainkan karena kebiasaan tersebut sudah tertanam.

Otot Sosial yang Mulai Melemah

Sosiolog Zygmunt Bauman juga menyoroti perubahan hubungan manusia di era digital.

Menurutnya, masyarakat modern hidup dalam hubungan yang semakin rapuh dan mudah diputus. Di dunia digital, seseorang dapat memblokir, membisukan, atau berhenti mengikuti orang lain hanya dengan satu klik.

Kemudahan tersebut memang memberi rasa nyaman, tetapi juga memiliki konsekuensi. Hubungan yang terlalu mudah diputus sering kali tidak memiliki kedalaman emosional yang kuat.

Akibatnya, seseorang bisa memiliki ratusan teman di media sosial, tetapi kesulitan menemukan sahabat yang benar-benar hadir ketika dibutuhkan.

Kemampuan sosial sebenarnya bekerja layaknya otot. Jika jarang digunakan, kemampuannya akan melemah.

Kemampuan membaca ekspresi wajah, memahami emosi, membangun empati, hingga menghadapi situasi yang tidak nyaman merupakan keterampilan yang perlu terus dilatih melalui interaksi langsung.

Sayangnya, ketika seseorang lebih sering memilih emoji daripada tatap muka, pesan singkat daripada percakapan langsung, atau menggulir media sosial daripada berbincang, kesempatan melatih keterampilan sosial tersebut semakin berkurang.

Akibatnya, interaksi tatap muka terasa semakin melelahkan, keheningan menjadi tidak nyaman, dan dorongan membuka ponsel pun semakin kuat.

Inilah lingkaran yang terus berulang. Semakin jarang berinteraksi secara langsung, semakin lemah kemampuan sosial seseorang. Sebaliknya, semakin lemah kemampuan sosial, semakin besar keinginan untuk menghindari percakapan langsung.

Baca  Pemuda, Katalisator Nilai Politik Indonesia: Sebuah Refleksi Pada Hari Sumpah Pemuda emuda ke-96

Melatih Kembali Kemampuan Hadir

Kabar baiknya, mengatasi kebiasaan tersebut tidak harus dilakukan dengan menghapus seluruh akun media sosial atau menjalani puasa digital secara ekstrem.

Perubahan kecil justru lebih mudah diterapkan.

Mulailah dengan membiasakan diri bertahan dalam keheningan. Saat percakapan berhenti beberapa detik, jangan langsung mengambil ponsel. Biarkan jeda itu terjadi karena sering kali percakapan yang paling bermakna justru muncul setelah momen hening.

Membalik posisi ponsel saat berkumpul bersama teman atau keluarga juga dapat membantu menjaga fokus pada lawan bicara. Tindakan sederhana tersebut memberi pesan bahwa orang yang sedang bersama kita layak memperoleh perhatian penuh.

Yang tidak kalah penting, jangan takut pada rasa canggung. Keheningan dan kecanggungan bukanlah tanda kegagalan dalam berkomunikasi, melainkan bagian alami dari hubungan antarmanusia.

Di tengah derasnya notifikasi, video tanpa akhir, dan algoritma yang terus berebut perhatian, kemampuan untuk benar-benar hadir menjadi keterampilan sosial yang semakin langka.

Padahal, tantangan terbesar generasi digital bukan sekadar mampu terhubung dengan ribuan orang melalui internet, melainkan tetap mampu duduk bersama seseorang, menatap matanya, mendengarkan ceritanya, dan memberikan perhatian tanpa terus-menerus tergoda oleh layar ponsel.

Sesederhana itu. Namun, justru karena sederhana, kemampuan tersebut menjadi semakin berharga di era digital.(*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button