
Editorialkaltim.com – Upaya merawat ingatan kolektif kembali diwujudkan melalui peluncuran sebuah buku bertema lokalitas Anggana. Buku terbitan PT Zukzez Express tahun 2026 ini hadir dengan ketebalan 145 halaman, memadukan narasi, fotografi, hingga sketsa visual yang menggambarkan perjalanan ruang dan waktu di kawasan tersebut.
Karya ini tidak sekadar menghadirkan cerita, tetapi juga membawa pembaca menyusuri kembali jejak-jejak kehidupan di Anggana. Setiap bagian buku dirancang seperti perjalanan pulang, menghadirkan potongan kenangan yang tersimpan di tiap sudut wilayah. Visual yang disajikan memperkuat pengalaman membaca, menjadikan cerita terasa lebih hidup dan dekat.
Sampul buku turut menjadi daya tarik tersendiri melalui sentuhan Bang Lampurio. Seniman visual kontemporer Indonesia itu menghadirkan balutan estetika yang kuat, menggabungkan keindahan visual dengan kedalaman makna yang selaras dengan isi buku.
Editor buku, Sultan Musa, menuturkan proses penyusunan karya ini melibatkan banyak pihak dengan semangat kolaborasi. Ia menilai karya lokal seperti ini memiliki nilai penting dalam memperkuat identitas daerah.
“Sebagai editor, melalui karya lokalitas seperti ini menjadi pengalaman tersendiri dan kerja kolektif yang kerap merangkai cerita penuh makna,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Ia menambahkan, buku tersebut tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga sumber pembelajaran lintas generasi.
“Memberi pelajaran penuh arti yang terus menembus ruang dan waktu tanpa batas melalui tulisan dan karya visual,” katanya.
Para penulis yang terlibat juga menegaskan tulisan menjadi cara paling sederhana namun kuat untuk menjaga ingatan. Melalui karya ini, mereka ingin memperkenalkan Anggana kepada masyarakat yang mungkin belum mengenalnya secara mendalam.
Beragam sudut pandang dituangkan dalam buku ini, memperlihatkan kekayaan cerita yang selama ini tersembunyi. Tidak hanya menggambarkan kondisi wilayah, tetapi juga menyuarakan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakatnya.
Buku ini menjadi pengingat penting bahwa cerita lokal memiliki peran besar dalam membentuk identitas. Di tengah derasnya perkembangan zaman, dokumentasi seperti ini menjadi langkah konkret agar warisan tidak hilang begitu saja.
Dengan hadirnya buku ini, Anggana tidak lagi sekadar nama wilayah, tetapi menjadi ruang cerita yang terus hidup dan diwariskan melalui tulisan serta visual yang abadi.(ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



