Perang Timur Tengah Berpotensi Tekan Ekonomi RI, Purbaya: Beban Impor Migas Bisa Naik

Editorialkaltim.com – Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah dinilai dapat membawa dampak lanjutan bagi perekonomian Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan situasi geopolitik tersebut berpotensi meningkatkan beban impor minyak dan gas bumi (migas) nasional.
Ia menjelaskan eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global. Salah satu yang menjadi perhatian adalah potensi terganggunya jalur distribusi minyak dunia di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi lintasan penting perdagangan energi internasional.
Jika jalur tersebut terganggu, suplai minyak global dapat menyusut sehingga memicu lonjakan harga di pasar internasional. Kondisi ini, menurut Purbaya, sudah mulai tercermin dari pergerakan harga minyak yang meningkat tajam.
Harga minyak mentah jenis Brent bahkan disebut telah melampaui US$108 per barel, level yang menjadi salah satu titik tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Kenaikan harga energi ini dinilai bisa berdampak langsung bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor migas. Lonjakan harga minyak otomatis akan meningkatkan nilai impor, yang pada akhirnya berpotensi mengurangi surplus neraca perdagangan.
“Dari sisi perdagangan, kenaikan harga minyak akan meningkatkan nilai impor migas sehingga dapat menekan kinerja neraca perdagangan maupun neraca pembayaran,” ujar Purbaya, dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Selain dari jalur perdagangan, situasi global yang tidak menentu juga memengaruhi pasar keuangan. Ketegangan geopolitik memicu sikap hati-hati investor global yang cenderung memindahkan dana ke aset yang lebih aman.
Kondisi tersebut terlihat dari meningkatnya volatilitas indeks pasar keuangan global, penguatan dolar Amerika Serikat, hingga kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun.
Bagi Indonesia, perubahan sentimen tersebut berpotensi memicu arus keluar modal dari pasar domestik. Dampaknya dapat dirasakan pada pergerakan pasar saham, obligasi, serta nilai tukar rupiah.
Pemerintah, kata Purbaya, akan terus memantau perkembangan situasi global tersebut dan menyiapkan langkah kebijakan yang tepat agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.
Sejumlah analis juga memperkirakan harga minyak dunia masih berpotensi meningkat apabila konflik di Timur Tengah meluas. Dalam skenario ekstrem, harga minyak bahkan bisa menyentuh US$150 per barel jika gangguan pasokan energi global semakin besar.(ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



